KH Subhan, Ulama Alumni Hijaz Asal Bawean yang Mengabdikan Hidup untuk Dakwah dan Pendidikan
![]() |
| Makbaroh KH Subhan Bawean yang terletak di desa Daun berdampingan dengan kiai kortak (Foto:kabarbawean) |
kabarbawean.com - Nama KH Subhan dikenal sebagai salah satu ulama asal Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, yang memiliki peran penting dalam perkembangan tradisi keislaman masyarakat setempat. Ulama yang juga dikenal sebagai alumni Hijaz tersebut mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk pendidikan, dakwah, dan pembinaan sosial keagamaan masyarakat hingga wafat pada tahun 1978.
KH Subhan, yang semasa kecil bernama Asrari, berangkat ke Tanah Suci pada tahun 1927 saat usianya belum genap 14 tahun. Keberangkatannya mengikuti neneknya, Hajjah Ruqayyah, yang menunaikan ibadah haji. Momentum tersebut tidak disia-siakan untuk memperdalam ilmu keislaman di Makkah.
Sebelum berangkat ke Tanah Suci, ia tercatat pernah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Podoaton, Pasuruan. Periode pertama menuntut ilmu di Makkah dijalani selama sekitar tiga tahun. Setelah kembali ke Bawean untuk meminta restu keluarga, ia kembali lagi ke Haramain dan melanjutkan studi selama kurang lebih 13 tahun.
Selama masa pendidikan di Tanah Suci, KH Subhan tercatat belajar di Madrasah Shaulatiyah, salah satu lembaga pendidikan yang menjadi rujukan pelajar Nusantara di Makkah. Di lingkungan pendidikan tersebut, ia juga mulai terhubung dengan jaringan ulama Haramain yang pada masa itu memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan keilmuan Islam di Indonesia.
Sekitar tahun 1957, KH Subhan kembali ke Pulau Bawean dan mulai merintis pengajian di kediamannya di Desa Daun. Pengajian tersebut berkembang pesat dan diikuti lebih dari 32 santri, jumlah yang cukup besar mengingat kondisi sosial dan ekonomi masyarakat pada masa itu.
Dalam kegiatan pengajiannya, KH Subhan memulai pembelajaran dengan materi sejarah Islam (tarikh), sebuah pendekatan yang dinilai cukup unik pada masa tersebut. Meski dikenal sebagai sarjana Hijaz yang menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman, ia memilih menanamkan pemahaman sejarah Islam kepada para santri sebagai fondasi awal pembelajaran.
Selain mengajar, KH Subhan juga dikenal dekat dengan masyarakat. Ia sering berinteraksi langsung dengan nelayan, petani, maupun pedagang di Desa Daun. Kedekatannya dengan masyarakat menjadikannya tempat rujukan dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial, termasuk sengketa ekonomi dan persoalan keluarga.
Keilmuan KH Subhan di bidang faraid (ilmu waris) membuatnya sering diminta membantu menyelesaikan sengketa pembagian warisan di tengah masyarakat. Selama lebih dari dua dekade, sejak akhir 1950-an hingga 1970-an, ia aktif mengabdikan diri dalam kehidupan sosial keagamaan masyarakat Bawean.
Pada periode akhir kehidupannya, KH Subhan memilih menjalani uzlah atau mengasingkan diri untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Masa uzlah tersebut dijalani dalam waktu yang cukup lama hingga akhirnya beliau wafat pada tahun 1978.
KH Subhan dimakamkan di Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, dan lokasi makamnya berdampingan dengan makam Kiai Kortak. Ia meninggalkan tiga orang anak, yakni KH Badrut Surur, Lutfi Manar, dan Wafiatun Nufus. Warisan keilmuan dan pengabdiannya tetap dikenang masyarakat sebagai bagian dari sejarah perkembangan tradisi keislaman di Pulau Bawean, khususnya dalam penguatan pendidikan agama dan penyelesaian persoalan sosial keagamaan masyarakat.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Umi Oktafiyanah
