Orang Bawean dalam Sejarah Malaysia, Perantau Pulau Kecil yang Membangun Kota Besar
![]() |
| Gambar Ilustrasi |
kabarbawean.com - Di balik pesatnya pembangunan kota-kota modern di Malaysia, tersimpan kisah diaspora masyarakat Pulau Bawean, Jawa Timur, yang dikenal sebagai orang Boyan atau Bawean. Meski berasal dari pulau kecil, komunitas ini memiliki kontribusi besar dalam sejarah sosial dan ekonomi Tanah Melayu, namun sering luput dari perhatian publik.
Kisah tersebut diangkat dalam video dokumenter kanal YouTube KANGADI Production berjudul “Sejarah & Evolusi Masyarakat Bawean di Malaysia”, yang mengulas perjalanan panjang perantau Bawean dari masa kolonial hingga era modern.
Gelombang Migrasi Sejak Akhir Abad ke-19
Dalam narasi dokumenter tersebut disebutkan bahwa puncak migrasi orang Bawean ke Tanah Melayu terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Migrasi ini berlangsung selama puluhan tahun dan melibatkan ribuan orang yang menetap di Semenanjung Malaya dan Singapura.
Terdapat tiga faktor utama yang mendorong migrasi tersebut. Pertama, keinginan memperoleh peluang ekonomi yang lebih baik. Kedua, tradisi budaya merantau yang kuat sebagai bagian dari proses kedewasaan. Ketiga, niat menjadikan Tanah Melayu sebagai tempat singgah sebelum melanjutkan perjalanan ibadah haji ke Mekkah.
Salah satu keunikan komunitas Bawean di perantauan adalah sistem sosial yang dikenal sebagai pondok. Dalam video tersebut dijelaskan bahwa pondok bukan sekadar tempat tinggal, tetapi pusat komunitas dan jaringan dukungan sosial bagi para perantau baru.
Setiap pondok dipimpin oleh ketua pondok yang bertanggung jawab menjaga kesejahteraan dan disiplin anggota. Pondok juga membantu anggota mencari pekerjaan serta memberikan dukungan emosional. Menariknya, setiap pondok dinamai berdasarkan kampung asal di Pulau Bawean, sehingga ikatan dengan tanah air tetap terjaga.
Sistem pondok ini memungkinkan orang Bawean berkembang secara kolektif sejak awal kedatangan mereka di perantauan.
Dokumenter tersebut juga menyoroti etos kerja orang Bawean yang dikenal tinggi serta reputasi kejujuran yang kuat. Mereka banyak dipercaya dalam pekerjaan yang membutuhkan integritas, seperti sopir pribadi dan pengurus kuda bagi keluarga kolonial Inggris maupun bangsawan lokal.
Kepercayaan tersebut menjadikan orang Bawean sebagai kelompok pekerja profesional yang dihormati dan diminati, sekaligus membuka jalan bagi pembentukan komunitas Bawean yang kuat di kota-kota besar Malaysia.
Jejak Permukiman di Kota-Kota Besar
Komunitas Bawean kemudian membentuk permukiman permanen di berbagai kota. Di Kuala Lumpur, mereka banyak menetap di kawasan Kampung Baru dan Datuk Keramat, sementara Pulau Pinang menjadi salah satu pintu masuk awal migrasi Bawean ke Tanah Melayu.
Keberadaan mereka turut membentuk struktur sosial, ekonomi, dan budaya di kota-kota tersebut.
Hingga kini, keturunan Bawean di Malaysia mempertahankan identitas ganda sebagai orang Bawean dan Melayu. Dialek Bawean masih digunakan di lingkungan keluarga, sementara dalam kehidupan sosial mereka terintegrasi sepenuhnya dalam masyarakat Melayu.
Integrasi ini diakui secara resmi dalam Perlembagaan Malaysia yang mendefinisikan Melayu berdasarkan agama, bahasa, dan budaya. Meski demikian, semangat dan identitas Bawean tetap dijaga melalui organisasi budaya dan ikatan keluarga yang erat.
Kisah diaspora Bawean menjadi pengingat bahwa Malaysia modern dibangun oleh berbagai komunitas perantau dengan kontribusi masing-masing. Di balik gedung pencakar langit dan nama-nama jalan di kota besar, tersimpan kisah manusia yang turut membangun fondasi negara tersebut, termasuk komunitas Bawean dari Pulau Bawean, Indonesia.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Prof
