![]() |
| Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 9 Gresik-Bawean melakukan koordinasi dengan Kiai Mustofa (baju coklat) Pengasuh Pondok Pesantren Penaber Bawean (Foto:Istimewa) |
kabarbawean.com - Rencana penanaman bibit kopi di kawasan Blok Teneden, Suaka Margasatwa (SM) Pulau Bawean, dipastikan tidak dilanjutkan. Keputusan tersebut diambil setelah tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 9 Gresik-Bawean melakukan koordinasi dengan Pengasuh Pondok Pesantren Penaber Bawean, Kiai Mustofa, yang sebelumnya mengusulkan pengembangan kebun kopi di area terbuka dekat kawasan konservasi.
Pembatalan tersebut didasari pertimbangan ekologis. Tanaman kopi dinilai bukan vegetasi asli Pulau Bawean dan berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem apabila ditanam di dalam kawasan suaka margasatwa. Masuknya tanaman non-endemik dikhawatirkan dapat menggeser vegetasi lokal dan memicu perubahan ekologis yang sulit dipulihkan, khususnya pada ekosistem pulau kecil yang rentan.
“Tidak semua yang tampak hijau itu ramah terhadap hutan. Kawasan konservasi memiliki batas yang harus dijaga,” ungkap salah satu anggota tim RKW 9 Gresik-Bawean dalam dialog yang berlangsung terbuka, Senin (5/1/2025).
Dalam pertemuan tersebut, Kiai Mustofa menyatakan dapat menerima penjelasan yang disampaikan pihak konservasi. Ia menyepakati bahwa penanaman kopi tidak dilakukan di dalam kawasan suaka margasatwa dan rencana budidaya dialihkan ke lahan milik masyarakat melalui skema kerja sama yang dinilai lebih aman bagi kelestarian hutan.
“Kami sepakat, ekonomi tetap bisa berjalan, tetapi tidak dengan mengorbankan kawasan konservasi. Prinsipnya, alam harus tetap menjadi kendali arah,” ujar Kiai Mustofa.
Dari hasil silaturahmi tersebut, muncul gagasan pengembangan taman edukasi berbasis tanaman endemik dan eksotik khas Bawean. Taman ini dirancang sebagai ruang pembelajaran bagi santri dan pelajar untuk mengenal keanekaragaman hayati, memahami fungsi ekosistem, serta menumbuhkan kesadaran merawat alam sejak dini.
“Jika terealisasi, taman edukasi ini bisa menjadi laboratorium hidup yang menghubungkan nilai pendidikan pesantren dengan konservasi,” Jelasnya.
Dalam diskusi yang sama, Kiai Mustofa juga menyoroti kondisi ekosistem sungai di sekitar permukiman yang dinilai mengalami penurunan. Sungai yang dahulu kaya akan ikan kini hampir tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti sebelumnya.
“Dulu sungai di sekitar sini masih banyak ikan. Sekarang hampir tidak ada. Ini perlu dikaji bersama, apakah karena perubahan aliran, kualitas air, atau faktor lainnya,” tuturnya.
Selain itu, di kawasan lereng Bukit Pataonan yang berada di luar wilayah konservasi, Kiai Mustofa berencana mengembangkan konsep wisata edukasi dan bumi perkemahan. Meski kawasan tersebut memiliki potensi batu marmer bernilai ekonomi tinggi, ia memilih untuk tidak membuka aktivitas pertambangan.
“Tambang berisiko menimbulkan longsor dan merusak lingkungan. Saya memilih menahan diri karena dampaknya bisa membahayakan masyarakat di bawah,” tegasnya.
Informasi dari warga setempat juga menjadi perhatian. Mereka menyebut bahwa sebelum gempa bumi tahun 2024, Rusa Bawean masih sesekali terlihat di kawasan hutan. Namun kini, keberadaannya semakin jarang terpantau. Kondisi tersebut menjadi sinyal penting perlunya pemantauan habitat satwa secara berkelanjutan.
Pembatalan rencana penanaman kopi ini menjadi pengingat bahwa suaka margasatwa bukanlah ruang produksi, melainkan rumah bagi keanekaragaman hayati. Kolaborasi antara tokoh masyarakat, pesantren, dan BBKSDA Jawa Timur menunjukkan bahwa konservasi, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan, selama batas-batas alam tetap dihormati.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan
