Tak Harus Masuk Hutan, BBKSDA Dorong Potensi Wisata Desa Penyangga Bawean
![]() |
| Pulau Bawean dilihat dari atas pakai drone (Foto:Ist) |
kabarbawean.com - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur mendorong pengembangan potensi wisata di desa-desa penyangga kawasan konservasi Pulau Bawean. Potensi tersebut dapat digali dari lingkungan alam dan aktivitas masyarakat tanpa menjadikan kawasan konservasi sebagai pusat kunjungan.
Kepala Resor KSDA Wilayah 09 Gresik-Bawean, Ir. Fajar Dwi Nur Aji, S.Hut., M.Vet., menyebut sejumlah potensi yang dapat dikembangkan antara lain kebun masyarakat, burung liar, mata air, kuliner hingga pengetahuan warga mengenai satwa.
“Kita kadang terlalu cepat berpikir wisata alam berarti harus masuk hutan. Padahal yang perlu kita baca lebih dahulu justru potensi desanya. Orang bisa datang, menggunakan pemandu lokal, menikmati hasil kebun dan kuliner, mengamati burung atau belajar tentang satwa Bawean tanpa kawasan konservasi harus menerima tambahan tekanan,” jelasnya.
Menurut Fajar, pengembangan wisata di desa penyangga tidak berarti seluruh wilayah dapat dibuka untuk kunjungan. Status ruang, kepemilikan lahan, daya dukung, kesiapan masyarakat serta sensitivitas satwa menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan.
Salah satu kegiatan yang melibatkan wilayah desa penyangga adalah penelitian mengenai rusa Bawean (Axis kuhlii).
Pada 29 September 2026, Tim Resort KSDA Wilayah 09 Gresik-Bawean mendampingi peneliti Frank Drygala dalam koordinasi dengan Pemerintah Desa Kelompang Ghubuk, Kecamatan Tambak.
Koordinasi tersebut dilakukan sebagai persiapan pemasangan camera trap atau kamera jebak di lahan masyarakat. Peralatan tersebut digunakan untuk mempelajari lokasi yang diduga menjadi jalur pergerakan rusa Bawean antara Blok Gunung Besar dan Blok Payung-payung.
Penelitian juga mencakup wilayah Desa Teluk Jatidawang, Peromaan dan Patar Selamat.
Masyarakat yang sehari-hari beraktivitas di kebun memiliki pengetahuan mengenai kondisi lingkungan di sekitarnya, termasuk keberadaan rusa, suara burung, sumber air serta perubahan lingkungan.
“Warga yang setiap hari berada di kebun sering mengetahui tempat rusa pernah melintas, mengenali suara burung, mengetahui sumber air sampai perubahan yang terjadi di sekitar lingkungannya. Pengetahuan lokal seperti ini bukan pengganti penelitian, tetapi bisa menjadi modal penting untuk konservasi maupun edukasi,” paparnya.
Selain rusa Bawean, Fajar menyebut pengamatan burung atau birdwatching, fotografi alam, kebun masyarakat, hasil bumi dan kuliner lokal sebagai potensi yang dapat dikembangkan pada lokasi yang sesuai.
Kegiatan wisata tersebut dapat melibatkan masyarakat melalui jasa pemandu lokal, penjualan produk warga, warung makan, transportasi masyarakat hingga akomodasi lokal.
Fajar menjelaskan bahwa pengembangan wisata tidak semata-mata diarahkan pada jumlah pengunjung.
“Yang kita cari bukan keramaian. Kalau satu kelompok kecil datang, dipandu warga, makan di warung masyarakat, membeli produk lokal dan pulang membawa cerita baik tentang Bawean, nilainya bisa jauh lebih berarti daripada sekadar mengejar jumlah pengunjung,” ungkapnya.
Fajar juga menyampaikan bahwa Kepala BBKSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menekankan bahwa wisatawan yang datang ke Bawean tidak harus seluruhnya masuk ke kawasan konservasi.
Menurut Fajar, desa-desa penyangga dapat menjadi bagian dari pengembangan aktivitas wisata di Bawean. Potensi yang ada di masyarakat, seperti kebun, hasil bumi, kuliner dan pengamatan alam, dapat menjadi bagian dari aktivitas tersebut.
Di sisi lain, informasi mengenai lokasi keberadaan satwa tertentu tidak selalu dapat dibuka kepada pengunjung, terutama apabila berkaitan dengan lokasi yang sensitif.
“Tidak semua lokasi harus dibuka. Tidak semua satwa harus ditunjukkan,” tegasnya.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan
