BREAKING NEWS

HBB ke-425 Resmi Dibuka, UMKM Bawean Didorong Naik Kelas hingga Pasar Internasional

H. Zainal Abidin memukul gong sebagai simbolis pembukaan Hari Besar Bawean (HBB) ke-425 di Alun-Alun Sangkapura, Rabu (7/10/2026) malam. (Foto:kabarbawean)

kabarbawean.com - Hari Besar Bawean (HBB) ke-425 resmi dibuka di Alun-Alun Sangkapura, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Rabu (7/10/2026) malam.

Pembukaan HBB tahun ini mengusung jargon “Bhebien Apolong, Toghellan Atolong”, yang menjadi semangat untuk memperkuat persaudaraan, kebersamaan, serta kontribusi masyarakat Bawean bagi kemajuan daerah.

Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong secara simbolis oleh H. Zainal Abidin, CEO Atriya Travel Haji dan Umroh. 

Kegiatan tersebut dihadiri Ir. H. M. Faisol, M.M., CEO PT Gembol Exportir Yogyakarta, jajaran Forkopimcam Sangkapura dan Tambak, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta masyarakat yang memadati kawasan Alun-Alun Sangkapura.

Ketua Panitia Pelaksana HBB ke-425, Abdul Halim, mengatakan HBB tidak hanya menjadi momentum berkumpulnya masyarakat Bawean, tetapi juga diarahkan untuk mendorong kebangkitan ekonomi masyarakat.

“Dalam kesempatan event ini untuk meningkatkan bagaimana Bawean itu bisa menjadi Bawean yang bangkit, UMKM menguat, daya beli meningkat, ekonomi umat bisa berdaulat,” kata Abdul Halim dalam sambutannya.

Menurut Abdul Halim, pelaksanaan HBB ke-425 juga bertepatan dengan agenda Wonderful Sail Indonesia Chapter Bawean 2026 yang berlangsung pada 7–10 Oktober 2026.

Momentum tersebut, kata dia, harus dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Wisatawan yang datang diharapkan tidak hanya menikmati keindahan Bawean, tetapi juga membeli produk lokal, mencicipi kuliner, menggunakan jasa transportasi, penginapan, hingga pemandu wisata milik masyarakat.

Abdul Halim menjelaskan HBB sebelumnya telah dimulai pada 2017 dan 2018, sebelum terhenti akibat pandemi. Tahun ini, kegiatan tersebut kembali digelar dengan harapan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian masyarakat.

Dalam HBB ke-425, panitia mencanangkan lima gerakan, yakni Gerakan UMKM Bawean Naik Kelas, Gerakan Belanja Produk Lokal, Gerakan Nelayan dan Petani Berdaya, Gerakan Kemitraan Ekonomi Umat, serta Gerakan Evaluasi Dampak Ekonomi.

Gerakan UMKM Bawean Naik Kelas akan diarahkan pada pendataan, pembinaan kemasan, sertifikasi sesuai kebutuhan, dan penguatan administrasi. Sementara Gerakan Belanja Produk Lokal diarahkan agar produk Bawean dapat dipasarkan tidak hanya di dalam pulau, tetapi juga melalui pemasaran daring ke luar daerah.

“Intinya, Bawean bagaimana naik kelas UMKM-nya, bisa berdaya, bisa menjual sampai di luar Bawean. Adapun tantangan-tantangan yang lain, kita terus berani belajar dan harus bisa berani memulai,” ujarnya.

Pemerintah Soroti Transportasi dan Lingkungan

Camat Sangkapura sekaligus Plt Camat Tambak, Umar Junid, menyampaikan permohonan maaf dari Bupati Gresik yang tidak dapat hadir dalam pembukaan HBB ke-425.

Umar mengapresiasi pelaksanaan HBB yang menjadi ruang berkumpulnya masyarakat Bawean dari berbagai daerah. Ia berharap pertemuan tersebut dapat melahirkan kontribusi nyata untuk menjawab berbagai persoalan di Pulau Bawean.

Dalam kesempatan itu, Umar menyampaikan bahwa surat kepala desa se-Bawean dan tokoh masyarakat mengenai permintaan kapal yang layak untuk melayani penyeberangan Bawean telah mendapat jawaban dari Kementerian Perhubungan.

“Mudah-mudahan ke depan, mungkin surat Bapak Bupati yang juga sama persis dengan permintaan seluruh kepala desa dan tokoh masyarakat mudah-mudahan sama juga. Terkait dengan masalah transportasi ini, mudah-mudahan solusi ke depan pemerintah juga akan memberikan kapal yang layak untuk menyeberangi pulau kita tercinta ini,” katanya.

Selain transportasi, Umar menyoroti persoalan lingkungan dan sumber air. Ia mengatakan perubahan kondisi hutan menjadi perhatian karena sejumlah wilayah mulai menghadapi persoalan ketersediaan air.

Ia mendorong masyarakat untuk memperbanyak tanaman yang dapat membantu menjaga ketersediaan air tanah. Salah satu tanaman yang disebut adalah sukun.

“Ini yang kebetulan kami diskusi dengan Kehutanan Bojonegoro terkait bagaimana kita menanam lebih banyak, selain pohon-pohon yang memang bisa mengikat air dalam tanah, ternyata jawabannya adalah di Bawean ini adalah sukun di Bawean,” ujarnya.

Umar juga menyoroti penggunaan pasir pantai untuk kebutuhan pembangunan. Menurutnya, penggunaan pasir pantai secara terus-menerus dapat mengancam keberadaan kawasan pantai yang menjadi salah satu potensi wisata Bawean.

“Kalau terus-menerus pasir pantai ini dimanfaatkan untuk pembangunan, maka dimungkinkan kita tidak punya lagi pantai-pantai yang bisa dijual ke mancanegara terkait keindahan pantai Pulau Bawean,” katanya.

Faisol Siap Bina UMKM Bawean

Dalam kesempatan tersebut, Ir. H. M. Faisol, M.M., menyatakan kesiapannya membantu pembinaan UMKM Bawean agar dapat berkembang dari usaha mikro menjadi kecil, kemudian menengah, hingga mampu memasuki pasar internasional.

Faisol yang saat ini menjabat Ketua HIPMIKINDO Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mengatakan pembinaan dapat dilakukan melalui studi banding, pengembangan produk, peningkatan kualitas kemasan, hingga perluasan pemasaran.

“Kebetulan kami saat ini sebagai Ketua HIPMIKINDO Provinsi DIY, Himpunan Pengusaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia DPD Daerah Istimewa Yogyakarta. Begitu juga saya juga sebagai pembina utama Himpunan Industri Mebel Indonesia Ekspor,” katanya.

Ia membuka kesempatan bagi pelaku UMKM Bawean untuk melakukan studi banding ke Yogyakarta, termasuk mempelajari pengolahan makanan, pengemasan, hingga pengalengan hasil laut.

“Barangkali ada UMKM di sini yang mau studi banding bagaimana proses abon dan kemasannya. Begitu juga saya dengar di Bawean terkadang melimpah hasil laut. Itu bagaimana agar ikan-ikan dari Bawean itu dikalengkan,” ujarnya.

Menurut Faisol, pelaku UMKM Bawean juga perlu mengembangkan produk kerajinan atau handicraft, tidak hanya makanan. Produk tersebut dinilai memiliki peluang untuk ditawarkan ke pasar internasional.

“Kalau event-nya internasional itu ada handicraft. Ada kerajinan yang kerajinan itu bisa dititipkan di kontainer saya, itu untuk dipasarkan langsung ke pasar internasional,” katanya.

Faisol kemudian menceritakan pengalamannya membantu membawa salah satu produk Bawean ke jalur ekspor. Ia menyebut produk kaligrafi milik Abdul Halim pernah dititipkan dalam kontainer menuju Arab Saudi.

Selain pembinaan UMKM, Faisol juga menyoroti potensi kekuatan komunitas Bawean di berbagai daerah dan luar negeri. Ia mengatakan antusiasme masyarakat Bawean terlihat dalam kegiatan halal bihalal komunitas Bawean di Yogyakarta yang dihadiri sekitar 2.000 orang.

“Dan Bawean dari seluruh dunia tumpah di Jogja. Dan di halalbihalal itu juga kami juga punya inisiatif, saya mengajak teman-teman di Jakarta untuk membentuk Persaudaraan Bawean Nusantara (PBN),” katanya.

Menurutnya, PBN saat ini masih dalam proses penyusunan kepengurusan. Organisasi tersebut dirancang untuk memiliki program di bidang pendidikan, ekonomi, serta politik dan kepemimpinan.

“Bagaimanapun juga lebih kuat memang dari unsur politik ada, dari unsur eksekutif ada, juga dari unsur pengusaha sebagai capital will di situ. Jadi bila perpaduan tiga komponen ini, tiga variabel ini kompak, ya insya Allah Bawean maju, insya Allah,” ujarnya.

Dorong Pengusaha Bawean Berani Masuk Pasar Internasional

Faisol menilai pemasaran menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan kelas usaha masyarakat Bawean. Ia menyatakan siap membantu memilah produk yang sudah siap dipasarkan di tingkat nasional maupun internasional.

“Nanti saya kalau diundang di sarasehan-sarasehan, baik di Jawa ataupun di Bawean, kami siap. Nanti kami memilah mana produk-produk yang siap untuk dipasarkan di Indonesia, mana yang sudah naik kelas untuk dipasarkan di pasar internasional,” katanya.

Ia juga mendorong pengusaha Bawean agar tidak hanya berkutat pada pasar Gresik-Bawean.

“Jangan hanya bergelut Gresik-Bawean, Gresik-Bawean. Carilah bisnis-bisnis lain yang kelasnya nasional dan internasional,” tegasnya.

Faisol menyebut negara-negara seperti India dan Bangladesh sebagai salah satu pasar yang dinilai memiliki potensi besar bagi produk Indonesia.

Ia berharap semakin banyak generasi muda Bawean yang berani memasuki bisnis internasional.

“Makanya saya mengharap ada generasi-generasi kami selanjutnya yang bisa berbisnis di internasional, itu harapan kami,” katanya.

Di akhir arahannya, Faisol juga menceritakan perjalanan hidupnya saat masih bersekolah di Bawean. Ia mengaku dahulu belum mampu membeli sepeda motor sehingga harus mengayuh sepeda dari Suwari menuju sekolah di Sangkapura.

Pengalaman tersebut, kata Faisol, menjadi bagian dari semangatnya untuk meraih kesuksesan.

“Saya naik sepeda onthel dari Suwari ke Umma waktu itu. Tapi dengan semangat saya harus kaya, saya harus kaya, saya harus kaya, saya harus sukses,” tuturnya.

Ia kemudian menyampaikan falsafah yang menurutnya dapat menjadi pegangan masyarakat Bawean, yakni menjadi “juragan santri” memiliki pendidikan tinggi sekaligus mampu menjadi pengusaha.

“Pendidikan tinggi, tapi kita juga sebagai bos, pebisnis. Makanya Mbah saya kalau saya mau berangkat ke Jawa, ‘Mbah moga-moga nanti dadi juragan santri’. Itu falsafah orang Bawean,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Faiz                          Reporter: Saiful Hasan