Dialog Interaktif HBB ke-425 Dorong Masyarakat Berani Membaca Peluang Usaha
kabarbawean.com - Rangkaian Hari Besar Bawean (HBB) ke-425 diisi dengan Dialog Interaktif bertajuk “Kebangkitan Ekonomi Ummat Pulau Bawean” yang berlangsung di MDU Hidayatul Ulum, kawasan Alun-Alun Sangkapura, Pulau Bawean, Selasa (6/10/2026) malam.
Dialog tersebut menghadirkan empat narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Ir. H. M. Faisol, M.M., CEO PT Gembol Exportir Yogyakarta, H. Zainal Abidin, CEO Atriya Travel Haji dan Umroh, K.H. Fauzi Ra'uf, M.Pd.I., Ketua PCNU Bawean, serta Haji Suhaili Bin Helmi, Ketua Persatuan Bawean Malaysia.
Ketua panitia pelaksana HBB ke-425 sekaligus moderator dialog, Abdul Halim, mengatakan HBB tahun ini mengusung jargon “Bhebien Apolong, Toghellan Atolong”.
Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan HBB tidak hanya dilihat dari terselenggaranya rangkaian kegiatan, tetapi juga dari adanya perubahan yang membawa Bawean menuju kondisi yang lebih baik.
“Suksesnya HBB ini jika ada tatanan yang lebih baik terhadap perubahan Bawean,” kata Halim saat memandu dialog.
![]() | |
| Abdul Halim, moderator sekaligus Ketua Panitia HBB ke-425, saat memandu Dialog Interaktif “Kebangkitan Ekonomi Ummat Pulau Bawean” (Foto:kabarbawean). |
Sementara itu, K.H. Fauzi Ra'uf berharap forum yang membahas persoalan ekonomi masyarakat tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
“Saya berharap berkelanjutan dan bermanfaat besar terhadap masyarakat Bawean,” harapnya.
Kisah Faisol Merintis Usaha dari Jualan Parfum
Salah satu narasumber, Ir. H. M. Faisol, M.M., membagikan pengalaman hidupnya saat memulai perjalanan pendidikan dan usaha dari kondisi ekonomi keluarga yang sederhana.
Faisol menuturkan dirinya berasal dari Dusun Bakung, Desa Suwari, Bawean. Ketika hendak melanjutkan pendidikan SMA di Sangkapura, kondisi ekonomi keluarganya membuat orang tua tidak lagi mampu membiayai sekolah.
“Ayah saya tidak kerja, ibu saya hanya tukang jahit,” tuturnya.
Dalam kondisi tersebut, Faisol memilih mencari biaya sendiri agar tetap dapat bersekolah. Ia kemudian belajar berdagang dari seseorang asal Suwari, Bakung dan Pudakit yang saat itu berjualan parfum.
“Saya sekolah SMA biaya sendiri. Ada orang Suwari, orang Bakung dan Pudakit, jual minyak. Saya kemudian belajar menjual parfum,” jelasnya.
Ia mengaku tidak hanya berjualan setelah pulang sekolah, tetapi juga menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung. Bahkan, ia menceritakan pengalaman membawa parfum di dalam tas sekolah yang bercampur dengan buku-buku pelajaran.
“Separuh isi parfum, separuh buku. Bahkan terkadang tumpah sampai harum semua dalam tas,” kenangnya.
Hasil dari aktivitas tersebut kemudian digunakan untuk menunjang pendidikannya. Setelah menyelesaikan SMA, Faisyol melanjutkan kuliah di Yogyakarta.
Ia mengatakan, tabungan dari berjualan parfum selama sekitar enam bulan ketika kuliah bahkan cukup untuk membeli mobil. Memasuki semester tiga, ia juga mengaku sudah mampu membantu membiayai pendidikan adiknya.
“Karena saya harus sekolah sampai kerja, saya kuliah di Jogja. Uang enam bulan jual parfum bisa beli mobil saat kuliah. Semester tiga saya kuliahkan adik saya,” paparnya.
Perjalanan Faisol kemudian berlanjut ke dunia profesional. Pada 1992, ia pernah bekerja di perusahaan Bakrie sebelum akhirnya menekuni dunia usaha.
Ia juga melanjutkan pendidikan hingga menempuh jenjang magister. Pengalaman pendidikan dan pekerjaan tersebut menjadi bagian dari proses untuk mewujudkan cita-citanya sebagai pengusaha yang mampu masuk ke pasar internasional.
“Saya harus menjadi pebisnis internasional,” tegasnya.
Faisol menyebut usaha yang dibangunnya kini telah berkembang hingga produknya dipasarkan ke berbagai negara.
“Alhamdulillah, bisnis kami, produk saya sudah tersebar di berbagai dunia,” jelasnya.
Ia juga mengajak masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh tentang usaha dan produknya untuk mencari informasi mengenai pabrik dan produk Alas Gembol secara online.
“Bisa amati dan tiru usaha saya. Untuk mengetahui lebih jauh, bisa cek Alas Gembol secara online,” ajaknya.
Bawean Dinilai Punya Potensi Ekonomi Besar
Narasumber lainnya, H. Zainal Abidin, menyoroti potensi Pulau Bawean yang menurutnya dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Zainal menilai Bawean memiliki berbagai sumber daya yang dapat dikembangkan apabila masyarakat mampu melihat peluang dan membangun produk yang memiliki nilai ekonomi.
“Bawean dari pulau kecil menjadi pulau yang bernilai,” katanya.
Dalam dialog tersebut, Zainal juga menyinggung persoalan transportasi laut yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu tantangan bagi Bawean.
Ia mengaitkan keberadaan transportasi dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Menurutnya, penguatan transportasi juga membutuhkan aktivitas perdagangan dan produk yang dapat diangkut.
“Kapal itu akan ada jika ada yang akan diangkut,” terangnya.
Karena itu, ia mendorong masyarakat tidak hanya membicarakan persoalan transportasi, tetapi juga memikirkan produk yang dapat menjadi penggerak aktivitas ekonomi.
“Untuk punya prospek harus punya produk,” tegasnya.
Zainal menyebut sejumlah sektor yang menurutnya dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi Bawean, mulai dari perikanan, pertanian, peternakan, sumber daya manusia, diaspora, wisata, kuliner, budaya hingga potensi laut.
“Bawean itu punya potensi besar,” tandasnya.
![]() |
| Peserta mengikuti Dialog Interaktif HBB ke-425 bertajuk “Kebangkitan Ekonomi Ummat Pulau Bawean” di MDU Hidayatul Ulum, Sangkapura, Selasa (6/10/2026) malam. (Foto:kabarbawean) |
Dorong Masyarakat Belajar Membaca Peluang
Pembahasan kemudian berkembang pada upaya membangun jiwa kewirausahaan masyarakat. Salah satu peserta, Sholihudin, mempertanyakan bagaimana cara membangkitkan jiwa entrepreneurship di tengah masyarakat.
Sementara itu, Dr. Izul Herman mempertanyakan strategi untuk mengedukasi masyarakat agar mampu mengubah pola pikir, membaca peluang, memahami target pasar, sekaligus mendorong kebangkitan ekonomi masyarakat bawah.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Faisyol menekankan pentingnya pembelajaran kewirausahaan yang tidak berhenti pada teori.
Menurut dia, masyarakat perlu mendapatkan pelatihan yang langsung diarahkan pada praktik bisnis sehingga peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mengetahui bagaimana memulai dan menjalankan usaha.
“Workshop entrepreneurship yang langsung ke bisnis,” jawabnya.
Ia juga menyampaikan pandangannya mengenai dunia usaha sebagai salah satu pilihan untuk meningkatkan kondisi ekonomi.
“Bisnis itu sangat menjanjikan kalau ingin kaya, berbisnis,” ucapnya.
Dialog Interaktif HBB ke-425 tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HBB dengan menghadirkan pembahasan mengenai pengalaman berwirausaha, potensi ekonomi lokal, pengembangan produk, transportasi, hingga pentingnya kemampuan masyarakat dalam membaca peluang usaha.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan



