BREAKING NEWS

Transportasi Laut Tak Kunjung Beres, Mahasiswa dan Pemuda Bawean Desak Dua Solusi

Mahasiswa dan pemuda Bawean berfoto bersama usai konsolidasi membahas persoalan transportasi laut Bawean-Gresik di Caffe Nujum, Desa Sidogedung Batu, Kecamatan Sangkapura, Kamis (10/9/2026). (Foto:Ist)

kabarbawean.com - Persoalan transportasi laut Bawean-Gresik kembali menjadi perhatian mahasiswa dan pemuda Bawean. Mereka menggelar konsolidasi untuk membahas gangguan pelayaran yang berulang sekaligus mendorong pemerintah menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat Pulau Bawean.

Konsolidasi berlangsung di Caffe Nujum, Desa Sidogedung Batu, Kecamatan Sangkapura, Kamis (10/9/2026).

Forum tersebut dihadiri sejumlah mahasiswa dan pemuda Bawean, di antaranya mantan Ketua Komisariat PMII Unuja Saiq Khayran, mantan Ketua Komisariat PMII Hasan Jufri M. Fadzli, Ketua Komisariat PMII Hasan Jufri Moh. Syahrul Kiram, Ketua Komisariat HMI Bawean Abdur Rahman, Ketua PC IPNU Bawean Ismail, serta sejumlah pemuda lainnya.

Dalam konsolidasi tersebut, peserta membahas dampak gangguan operasional kapal terhadap berbagai aktivitas masyarakat. Bagi mereka, transportasi laut tidak hanya menyangkut mobilitas penumpang, tetapi juga menjadi jalur penting distribusi barang dan kebutuhan pokok masyarakat Bawean.

Mantan Ketua Komisariat PMII Unuja, Saiq Khayran, menegaskan bahwa persoalan transportasi laut perlu mendapat perhatian serius dan tidak semestinya hanya direspons setiap kali terjadi gangguan pelayaran.

“Persoalan ini sangat krusial. Kita tidak boleh hanya sekadar pasrah pada keadaan, tetapi harus menuntut kebijakan yang berkeadilan,” tegasnya, Jumat (11/9/2026).

Ia menjelaskan, transportasi laut merupakan salah satu jalur utama yang menghubungkan masyarakat Bawean dengan Gresik daratan. Karena itu, ketika pelayaran terganggu, dampaknya dapat meluas ke berbagai sektor kehidupan masyarakat.

“Ketika transportasi terhambat, yang terdampak bukan hanya penumpang. Aktivitas perdagangan, distribusi barang, pelayanan kesehatan, hingga kebutuhan masyarakat lainnya ikut terganggu,” jelasnya.

Saiq juga menyoroti dampak gangguan transportasi terhadap harga kebutuhan pokok di Bawean. Menurutnya, terhambatnya distribusi melalui jalur laut dapat berpengaruh terhadap harga barang yang diterima masyarakat.

“Bayangkan dampak dari kemandekan transportasi kapal. Kondisi itu mampu mempengaruhi lonjakan harga kebutuhan pokok hingga 10-20 persen dari harga normal,” ungkapnya.

Persoalan tersebut menjadi salah satu alasan mahasiswa dan pemuda Bawean mendorong adanya langkah yang lebih terukur. Mereka menilai penyelesaian masalah transportasi tidak cukup dilakukan secara reaktif ketika pelayaran terganggu, tetapi perlu dibarengi kebijakan yang mampu memberikan kepastian layanan bagi masyarakat.

Salah satu usulan konkret disampaikan M. Fadzli, mantan Ketua Komisariat PMII Hasan Jufri. Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Gresik segera menindaklanjuti rencana pembangunan Dermaga Plengsengan baru.

Selain pembangunan dermaga, Fadzli mengusulkan agar KMP Drajat dijadikan kapal reguler untuk melayani masyarakat pada rute Bawean-Gresik.

“Yang pasti, kebutuhan yang paling mendesak saat ini adalah dua hal. Pertama, pemerintah segera menindaklanjuti rencana pembangunan Dermaga Plengsengan baru. Kedua, menjadikan KMP Drajat sebagai transportasi reguler yang melayani masyarakat Bawean,” bebernya.

Dua usulan tersebut menjadi poin utama yang mengemuka dalam konsolidasi mahasiswa dan pemuda Bawean. Mereka berharap persoalan transportasi laut yang berulang tidak lagi berhenti pada pembahasan setiap kali terjadi gangguan, tetapi berujung pada kebijakan yang memberikan kepastian konektivitas bagi masyarakat Pulau Bawean.

Editor: Ahmad Faiz                            Reporter: Saiful Hasan