PLD Dorong Ketahanan Pangan Fokus Produksi, Panen Bawang Merah Capai 4 Kg per Meter Persegi
kabarbawean.com - Monitoring dan evaluasi (Monev) Dana Desa (DD) Program Ketahanan Pangan melalui panen bawang merah digelar di Desa Bululanjang, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Selasa (8/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk melihat hasil produksi sekaligus mengevaluasi pelaksanaan program ketahanan pangan desa. Dari hasil pemantauan, produktivitas bawang merah disebut mencapai sekitar 4 kilogram per meter persegi.
Pendamping Lokal Desa (PLD) Bululanjang Abd Rauf mendorong agar program ketahanan pangan yang bersumber dari Dana Desa lebih banyak diarahkan pada kegiatan produksi. Ia juga berharap, jika memungkinkan, program tersebut dilaksanakan melalui skema Padat Karya Tunai Desa (PKTD).
"Harapan kita Program Ketahanan Pangan lebih banyak di gunakan untuk kegiatan produksi. Syukur-syukur di PKTD-kan sehingga di samping memperkuat ketersedian bahan pangan di desa juga bisa mengurangi jumlah angka pengangguran / kemiskinan (meningkatkan pendapatan warga desa)," ujarnya, Jumat (11/9/2026).
Menurutnya, penanaman bawang merah yang dilakukan Pemerintah Desa Bululanjang tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan warga dan memperkuat ketersediaan pangan, tetapi juga memberikan pengetahuan kepada petani melalui pendampingan tenaga ahli pertanian.
"Terkait kegiatan penanaman Bawang merah yang di jadikan program oleh Pemdes Bululanjang ini saya sangat mengapresiasi karena bukan hanya meningkatkan pendapatan warga, memperkuat ketersediaan pangan tapi juga ada ilmu yang sangat bermanfaat yang di peroleh oleh para petani karena di dampingi oleh Ahli pertanian yang juga di sediakan oleh Pemdes dalam menanam Bawang merah tanpa pestisida," tuturnya.
Ia menambahkan, bawang merah yang ditanam dalam program tersebut menggunakan pupuk organik atau pupuk kandang.
"Sehingga bawangnya punya nilai plus karna memakai pupuk organik/pupuk kandang," imbuhnya.
Hasil Panen Jadi Bahan Evaluasi
Camat Sangkapura Umar Junid mengatakan, Monev tersebut juga dilakukan untuk memastikan program ketahanan pangan desa diarahkan pada komoditas yang dapat diproduksi oleh masyarakat Bawean.
"Saya memonitoring kegiatan ketahanan pangan ini dalam rangka ingin memastikan kepada desa bahwa memang inilah yang pas kita arahkan, penanaman bawang, penanaman padi, dan sebagainya," katanya.
Menurut Umar, pengembangan bawang merah menjadi salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan sejumlah kebutuhan pangan dari Pulau Jawa.
"Karena sementara ini kita masih ketergantungan ya beras ya, bawang, dan jenis rempah-rempah lainnya itu termasuk cabe itu ada pada di Jawa," ujarnya.
Dari hasil pemantauan saat panen, Umar menyebut produktivitas bawang merah di lahan yang dipanen mencapai sekitar 4 kilogram per meter persegi. Sementara hasil terendah yang ditemukan berada di kisaran 3,5 kilogram per meter persegi.
"Jadi dengan hasil yang luar biasa ya, jadi saya tadi melihat sendiri bawang ya, ternyata per meter perseginya itu dapat 4 kilo," ungkapnya.
"Jadi yang kecil itu ada dapat 3,5 ya, yang tinggi itu dapat 4. Jadi rata-rata anggaplah 3,5. Tapi sudah bagus sekali, bagus sekali," lanjutnya.
Meski menilai hasil tersebut baik, Umar menyebut masih terdapat sejumlah hal yang perlu diperbaiki dari proses penanaman pertama, terutama pengolahan tanah dan pembuatan bedengan.
"Memang bedengannya itu menurut kami ini ya sesuai dengan hasil apa namanya yang kami pantau ini memang kurang tinggi sedikit," jelasnya.
Evaluasi tersebut, kata Umar, mulai terlihat pada penanaman berikutnya. Ia menilai pertumbuhan tanaman pada tahap kedua lebih baik dibandingkan sebelumnya.
"Rata-rata bagus. Tapi sudah paling tidak belajar dari pola tanam yang pertama ini sehingga saya tadi melihat yang untuk tanam keduanya ini sudah beda. Jadi daunnya lebih bagus, lebih tinggi," bebernya.
Umar juga menyoroti pencampuran pupuk dari kotoran sapi dan ayam yang dinilainya belum maksimal pada penanaman pertama.
"Cuma pengolahannya, mungkin pencampuran pupuknya, baik itu pupuk apa namanya kotoran sapi dan ayamnya belum belum maksimal pencampurannya," ujarnya.
Ia berharap hasil penanaman tahap kedua yang dijadwalkan dipanen sekitar satu bulan berikutnya dapat lebih tinggi dibandingkan panen pertama.
"Ya mudah-mudahan nanti penanaman bawang yang kedua ini, insya Allah satu bulan lagi akan dipanen, mudah-mudahan melebihi ini," harapnya.
Empat Petani Terima Bantuan
Salah satu petani penerima program, Junaidi, mengatakan penanaman bawang merah dalam program ketahanan pangan Desa Bululanjang melibatkan empat petani.
Bantuan yang diterima berupa 100 kilogram bibit bawang merah, 100 kilogram pupuk Fertiphos, 50 kilogram YaraMila, 25 kilogram Karate Boron, 25 kilogram ZA, serta pupuk pendukung lainnya seperti MKP dan GNN masing-masing satu kilogram.
"Yang dari desa itu bibit 100 kilo, terus pupuk Fertiphos 100 kilo, YaraMila 50 kilo, Karate Boron 25 kilo, ZA 25 kilo, dan pupuk-pupuk pendukung lainnya seperti MKP, GNN itu ada satu kilo, satu kilo," katanya.
Para petani juga mendapatkan pendampingan dari Wahab dari Lamongan.
"Ya, pendampingan dari Bapak Wahab dari Lamongan," ujarnya.
Junaidi menjelaskan, luas lahan yang direncanakan pada awal program mencapai 10 kolak. Namun, lahan yang dapat direalisasikan sekitar delapan kolak karena sebagian bibit mengalami penyusutan.
"Luasan dari awal memang 10 kolak, cuma karena bibit yang kita beli itu yang kita terima itu sudah terlalu lama, maka banyak penyusutan. Mungkin tinggal cuma 8 kolak yang bisa terlaksana," jelasnya.
Pada pelaksanaan panen tersebut, bawang merah yang dipanen berasal dari tiga kolak.
"Untuk hari ini tiga kolak," katanya.
Junaidi menilai hasil panen tersebut sudah baik dengan produktivitas lebih dari 4 kilogram per meter persegi.
"Kalau menurut saya ini sudah bagus karena sudah di atas 4 kilo per meter persegi," ujarnya.
Untuk satu bedeng, Junaidi memperkirakan hasil panennya mencapai lebih dari 250 kilogram.
"Kalau ini di atas 250," katanya.
Ia berharap program tersebut dapat dilanjutkan dengan cakupan yang lebih luas sehingga petani dari dusun lainnya juga dapat memperoleh manfaat.
"Saya berharap bisa lebih banyak lagi biar dusun-dusun lainnya bisa mengambil manfaat dari bantuan desa. Biar apa namanya, lebih merasakan juga dari bantuan desa ini," harapnya.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan
