BREAKING NEWS

PAN Klaim “Partai Anak Nahdliyin”, GP Ansor Bawean Pasang Badan Dukung Ansor Jatim

Ketua PC GP Ansor Bawean, Nanang Qosim, menyampaikan materi dalam kegiatan pengkaderan GP Ansor Bawean. Foto: (Dok. GP Ansor Bawean)

kabarbawean.com - Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Bawean menyatakan dukungan penuh terhadap sikap Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Timur yang menolak klaim Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai “Partai Anak Nahdliyin”.

Ketua PC GP Ansor Bawean, Nanang Qosim, menegaskan jajaran Ansor di Pulau Bawean siap berada dalam satu komando dengan PW GP Ansor Jatim dalam menyikapi polemik tersebut.

Nanang menilai penggunaan identitas Nahdliyin dalam kepentingan politik perlu diikuti dengan keberpihakan nyata terhadap kader dan masyarakat NU, khususnya mereka yang selama ini mengabdi di tingkat desa.

"Klaim itu sangat menggelikan dan melukai perasaan kader muda NU di bawah. Jangan cuma datang mengatasnamakan Nahdliyin saat butuh suara, tapi buta dan tuli terhadap nasib kader NU yang mengabdi di desa-desa," ujar Gus Nanang, sapaan akrabnya, Minggu (6/9/2026).

Ia mengatakan identitas Nahdliyin tidak semestinya hanya digunakan sebagai jargon dalam kepentingan politik. Menurutnya, identitas tersebut berkaitan dengan perjuangan dan pengabdian kepada masyarakat.

"Identitas NU itu lahir dari keringat pengabdian keumatan, bukan dari jargon panggung politisi. Kalau memang serius merangkul, tunjukkan keberpihakan nyata, bukan malah memanfaatkan nama besar NU untuk jualan elektoral," lanjutnya.

Sebagai bentuk sikap organisasi, PC GP Ansor Bawean menginstruksikan seluruh kader Ansor dan Banser hingga tingkat ranting untuk tetap kritis serta menjaga marwah organisasi.

"Kami instruksikan seluruh kader Ansor dan Banser di Bawean untuk tetap kritis serta menjaga marwah organisasi dari komodifikasi politik praktis. Ansor Jatim satu komando! Kami tidak akan biarkan simbol dan nama Nahdliyin ditunggangi untuk kepentingan pragmatis," pungkasnya.

Sikap PC GP Ansor Bawean tersebut berkaitan dengan pernyataan Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, yang dalam perayaan HUT PAN di Malang menyebut partainya sebagai "Partai Anak Nahdliyin".

Pernyataan Zulkifli Hasan itu kemudian mendapat respons dari PW GP Ansor Jawa Timur. Organisasi tersebut meminta PAN tidak melupakan sejarah dan mempertanyakan penggunaan identitas Nahdliyin dalam kepentingan politik.

Wakil Sekretaris Bidang Politik dan Pemerintahan PW GP Ansor Jawa Timur, Zainuddin, mengingatkan PAN agar tidak melupakan sejarah serta perjuangan para pendahulunya yang, menurut dia, memiliki keterkaitan dengan keluarga besar Muhammadiyah.

“PAN jangan sampai ahistoris. Jangan mudah melupakan sejarah dan perjuangan para pendahu yang notabene merupakan bagian dari keluarga besar Muhammadiyah. Jangan begitu mudah mengeklaim diri sebagai Partai Anak Nahdliyin kalau pada akhirnya Nahdliyin hanya ditempatkan sebagai instrumen politik,” tegas Zainuddin.

Selain menyoroti klaim tersebut, Zainuddin juga menyinggung persoalan kader muda NU yang bertugas sebagai Pendamping Desa di bawah Kementerian Desa.

Kementerian Desa saat ini dipimpin Yandri Susanto, yang merupakan kader PAN. PW GP Ansor Jatim menyoroti dugaan tindakan sepihak terhadap sejumlah Pendamping Desa, termasuk kebijakan pemindahan yang menurut organisasi tersebut mencederai rasa keadilan.

Atas persoalan tersebut, Ansor Jatim mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mencopot Yandri Susanto dari jabatannya sebagai Menteri Desa.

"Ukurlah kedekatan dengan Nahdliyin dari kebijakan. Jangan klaim menjadi anak Nahdliyin kalau pada saat yang sama anak-anak muda NU yang sedang mengabdi kepada masyarakat justru merasa tidak mendapatkan rasa keadilan," tambah Zainuddin.

Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan atau tanggapan dari pihak PAN maupun Kementerian Desa terkait kritik dan tuntutan yang disampaikan GP Ansor tersebut.

Editor: Ahmad Faiz                        Reporter: Saiful Hasan