Hari Besar Bawean Dirayakan, Kercengan dan Korcak yang Lahir di Bawean Gresik Justru Tak Bergema di Tanah Asal
kabarbawean.com - Rangkaian kegiatan peringatan Hari Besar Bawean (HBB) 2026, akan diselenggarakan bersamaan dengan kegiatan Wondeful Sail To Indonesia Chapter Bawean yang berlangsung pada tanggal 7 sampai 10 Oktober 2026 mendatang.
Momentum untuk kembali mengenalkan kekayaan budaya yang lahir dari Pulau Bawean, mendapatkan sorotan dari Pamong Budaya Khairil Anwar. Menurut dia, di tengah berbagai rangkaian perayaan, keberadaan seni tradisi seperti Kercengan dan Kocak atau Korcak justru kembali menjadi perhatian.
Kedua kesenian tersebut merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Bawean. Justru tidak dilombakan dan tidak ditampilkan saat gelaran HBB.
Kercengan dikenal sebagai kesenian hadrah dengan permainan rebana dan gerakan yang khas, sementara Kocak atau Korcak memiliki pola tabuhan yang menjadi bagian dari ekspresi seni tradisional masyarakat pulau tersebut.
"Ironisnya, kesenian yang lahir dan berkembang di Bawean itu justru masih mendapatkan ruang yang cukup meriah di tengah masyarakat keturunan Bawean di perantauan," ungkapnya, Jumat (25/9/2026).
Di Malaysia, misalnya lanjut Iling sapaan akrabnya, Kercengan masih ditampilkan dalam berbagai kegiatan masyarakat Bawean, mulai acara kebudayaan, pernikahan, syukuran hingga hajatan. Seni tersebut bahkan menjadi bagian dari upaya masyarakat keturunan Bawean mempertahankan identitas mereka sebagai Orang Boyan.
"Awal Januari 2025, suasana tersebut terlihat dalam sebuah kegiatan di Dewan Beringin, Taman Seri Gombak, Selangor. Ratusan masyarakat keturunan Bawean berkumpul dan menyaksikan pertunjukan Kercengan dan Korcak," ujarnya.
"Para penampil memainkan rebana dan bergerak dalam formasi. Syair-syair Berzanji juga dilantunkan. Bagi masyarakat Bawean yang telah lama tinggal di perantauan, pertunjukan tersebut bukan sekadar hiburan. Seni tradisi menjadi pengingat terhadap akar budaya mereka," sambungnya.
Sedangkan di Bawean, kesenian tersebut menghadapi tantangan regenerasi. Ruang tampil dan proses pengenalan kepada generasi muda tidak selalu berjalan secara berkelanjutan.
Sementara itu, kesenian lain seperti Al-Banjari justru lebih mudah ditemukan di lingkungan sekolah, madrasah dan pesantren. Berbagai kelompok Al-Banjari juga tumbuh dan festival digelar di tingkat lokal.
"Kondisi tersebut bukan berarti keberadaan Al-Banjari harus dipersoalkan. Kesenian tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Namun, perkembangan itu sekaligus memunculkan pertanyaan tentang bagaimana nasib kesenian yang benar-benar lahir dari Bawean sendiri," jelasnya.
Dalam perjalanannya, tambah dia, Kercengan pernah berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Upaya menghidupkannya kembali pernah dilakukan budayawan Bawean, Cuk Sugrito, salah satunya melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
"Namun, keberlanjutan regenerasi tetap menjadi tantangan. Jika tidak ada ruang belajar dan panggung yang cukup, bukan tidak mungkin pengetahuan mengenai pola tabuhan, gerakan serta pakem kesenian tersebut semakin jauh dari generasi muda Bawean," tandasnya.
Untuk itu, dalam peringatan HBB sebenarnya dapat menjadi salah satu momentum untuk menghidupkan kembali kesenian tradisi tersebut.
"Hari jadi bukan hanya soal seremoni, hiburan atau perayaan. Lebih dari itu, HBB dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali sejarah, identitas dan kebudayaan yang menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Bawean. Kercengan dan Korcak merupakan salah satu bagian dari kekayaan tersebut," tuturnya.
Iling mengingatkan, ketika masyarakat keturunan Bawean di Malaysia dan Singapura masih berusaha mempertahankan seni leluhur sebagai identitas, tanah asal seharusnya tidak kehilangan ruang untuk kesenian yang sama.
Ada paradoks yang perlu direnungkan. Diaspora yang hidup ribuan kilometer dari Bawean justru memiliki kerinduan untuk memainkan kesenian kampung halaman. Sementara masyarakat yang tinggal di pulau asalnya berhadapan dengan tantangan regenerasi.
"Kerinduan di perantauan menjadi energi untuk menjaga tradisi. Sebaliknya, kedekatan dengan kampung halaman terkadang membuat keberadaan tradisi dianggap sebagai sesuatu yang akan selalu ada. Padahal, sebuah kesenian dapat hilang bukan karena tidak memiliki sejarah, tetapi karena tidak lagi memiliki generasi yang mau mempelajarinya. Jangan Sampai Hanya Menjadi Nama," tambahnya.
Untuk itu, pihaknya berharap kepada Pemerintah daerah, pemerintah desa, sekolah, pesantren, komunitas budaya dan masyarakat perlu membuka lebih banyak ruang bagi kesenian asli Bawean. Tidak harus mengurangi ruang bagi kesenian lain, tetapi memberikan tempat yang seimbang bagi warisan budaya yang lahir dari pulau tersebut.
Pelaku seni dari Bawean maupun diaspora juga dapat dipertemukan. Mereka yang selama ini menghidupkan Kercengan di Malaysia dan Singapura memiliki pengalaman regenerasi yang bisa dipelajari dan diterapkan di tanah asal.
"Sebab, perayaan HBB akan memiliki makna lebih dalam ketika tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga memastikan budaya Bawean memiliki masa depan.Kercengan dan Korcak tidak semestinya hanya terdengar ketika masyarakat Bawean berada di perantauan. Seni yang lahir dari Bawean sudah seharusnya memiliki ruang untuk kembali bergema di tanah kelahirannya sendiri," pungkasnya.
Diketahui dalam gelaran HBB ke-425 tahun 2026, mengangkat jargon " Bhebian Apolong, Togellan Atolong" yang artinya, orang bawean berkumpul, sesama saudara saling tolong menolong.
Dalam pamflet yang disebar oleh panitia, kegiatan rangkaian HBB dimulai dari kegiatan perkemahan pada tanggal 5 sampai 10 Oktober 2026. Lalu, pada tanggal 7 sampai tanggal 9 Oktober kegiatan Wonderful Sail to Indonesia Chapter Bawean, lomba perahu jhukong, mini soccer, sarasehan, pagelaran seni budaya tanggal 5 sampai 8 Oktober, dengan aneka lomba kebudayaan. Diantaranya, tung tung guguritan, banjari, dhungka, dan parade musik. Serta bazar UMKM pada tanggal 5 tanggal 10 Oktober.
Terpisah, Ketua Pelaksana Kegiatan HBB & Wonderful Sail Indonesia Chapter Bawean 2026, Abdul Halim Al Hasy mengatakan kegiatan dan jenis perlombaan sesuai dengan kemampuan para panitia.
"Kalau memang Kercengan dan Korcak harus diadakan, maka harus ada penaggung jawab. Sementara sampai saat ini, belum ada yang bersedia untuk gelaran itu," jelasnya.
Menurutnya, gelaran HBB bertujuan tidak hanya pelestarian budaya, tetapi juga diarahkan pada sebuah misi yang lebih besar, yaitu pemberdayaan ekonomi keluarga dan penguatan ekonomi kerakyatan masyarakat kepulauan Bawean.
"Dengan membawa jargon “Bhebien Apolong, Toghellan Atolong.”
"Jargon ini menggambarkan semangat kebersamaan masyarakat Bawean untuk berkumpul, bersatu, saling membantu, dan bersama-sama membangun Bawean. Jargon tersebut kemudian dipertemukan dengan ungkapan yang selama ini sangat populer dalam berbagai pertemuan masyarakat Bawean: “La Napak Ka Kerongna”," paparnya.
Halim yang juga Manager Pertaminu sekaligus pengelola SPBU Kompak 56.611.39) di Dusun Lancabur, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean ini, menambahkan, HBB ke-425 tahun 2026 bukan sekadar sebuah peringatan hari besar atau agenda budaya. HBB 2026 menjadi momentum reborn, sebuah upaya untuk menghidupkan kembali semangat kebersamaan masyarakat Bawean, memperkuat jejaring organisasi dan paguyuban, serta memperkenalkan budaya Bawean kepada masyarakat internasional melalui Wonderful Sail Indonesia.
"Yang paling penting membuka ruang yang lebih luas bagi pemberdayaan UMKM dan ekonomi keluarga di Pulau Bawean," tambahnya.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Tim
