BREAKING NEWS

Krisis Transportasi Laut Bawean: Aliansi ‎Masyarakat Tuntut Solusi Permanen, DPRD ‎Usulkan KMP Drajat Paciran

Audiensi Elemen Masyarakat Bawean bersama Pimpinan dan DPRD Gresik
(Foto :Ist)

kabarbawean.com - Terhentinya operasional pelayaran kapal menuju Pulau Bawean akibat gelombang tinggi ‎kembali memicu krisis multi-sektor. 

Kondisi yang terus berulang setiap musim cuaca ekstrem ‎ini mendorong gabungan elemen masyarakat Bawean menggelar audiensi mendesak dengan ‎Pimpinan DPRD dan Komisi III Kabupaten Gresik pada Kamis (6/8/2026).‎

Pertemuan yang berlangsung di Kantor DPRD Kabupaten Gresik, ini ‎dihadiri oleh berbagai pihak strategis, mulai dari Wakil Ketua DPRD Gresik Lutfi Dhawam, jajaran ‎Komisi III, Anggota DPRD Dapil Bawean, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), ‎PT ASDP, hingga para operator kapal (Giliyang dan Bahari Express). Hadir pula perwakilan ‎masyarakat dari Pemuda Bawean Gresik (PBG), Ikatan Mahasiswa Bawean Surabaya (Imbas), ‎Persatuan Saudagar Bawean (PSB), dan Kerukunan Warga Bawean Gresik (KWBG).‎

Dampak Lumpuhnya Pelayaran

Cuaca buruk dengan gelombang di atas 1 meter lebih telah melumpuhkan aktivitas pelayaran kapal ‎cepat maupun kapal Ro-Ro rute Gresik-Bawean. Menurut Ketua Umum PBG, Ramli Salim, terhentinya ‎armada angkutan ini tidak hanya menyumbat pergerakan orang, tetapi juga mengancam sektor ‎ekonomi dan layanan medis esensial.‎

‎"Kami memohon kepada pemerintah agar ketika kondisi cuaca seperti ini, tetap ada ‎transportasi yang mampu melayani masyarakat. Dampaknya bukan hanya ekonomi, tetapi ‎juga pelayanan kesehatan warga Bawean yang sangat butuh penanganan darurat," tegasnya. 

Pernyataan senada diungkapkan Ketua PSB, Asy'ari. Ia menggarisbawahi bahwa logistik, ‎perdagangan, dan pariwisata sangat bergantung pada keandalan transportasi laut. Ia menyoroti ‎terjadinya kelangkaan stok kebutuhan pokok dan pasokan oksigen medis darurat untuk RSUD Umar ‎Mas'ud sebagai dampak fatal dari lumpuhnya penyeberangan.‎

‎"Kalau transportasi terganggu, wisatawan akan trauma datang ke Bawean. Pemerintah daerah harus ‎mengevaluasi kontrak kerja sama dengan operator kapal agar tanggung jawab pelayanan kepada ‎masyarakat lebih jelas," ujarnya.

Polemik Regulasi dan Standar Gelombang

Aspirasi kritis juga disampaikan oleh Ketua KWBG, Arif Rasyidi. Ia mempertanyakan aturan batas ‎tinggi gelombang 1,5 hingga 2 meter yang kerap dijadikan alasan pelarangan berlayar oleh KSOP. ‎Padahal, berdasarkan acuan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gelombang 1,25 ‎‎- 2,50 meter masih masuk dalam kategori 'Sedang'.‎

‎"Harus ada kapal yang bisa melintas di atas gelombang 2 meter. Jika standar kapal yang biasa melayani ‎Bawean tak mampu menembus gelombang 1,5 meter, maka harus ada kapal alternatif yang lebih besar ‎dan tangguh," desaknya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tak terus dibebani biaya mahal carter ‎pesawat untuk evakuasi pasien rujukan akibat absennya kapal.‎

Menanggapi hal tersebut, Kepala KSOP Kelas II Gresik, Capt. Herbert EP Marpaung, menegaskan ‎bahwa keselamatan pelayaran adalah prioritas mutlak yang mengacu pada undang-undang.‎

‎"Keputusan pemberangkatan didasarkan pada kondisi kapal, perkembangan cuaca yang kami pantau ‎setiap tiga jam, serta laporan nakhoda. Keselamatan pelayaran tetap menjadi prioritas utama sesuai ‎arahan Menteri," tegasnya. 

Rekomendasi dan Solusi Konkret DPRD

Audiensi tersebut akhirnya merumuskan sejumlah langkah strategis. Wakil Ketua DPRD Gresik, Lutfi ‎Dhawam, yang memimpin rapat, memastikan pihaknya segera menyurati Dirjen Perhubungan Laut ‎untuk merealisasikan operasional kapal yang lebih besar ke Bawean.‎

Hasil Rekomendasi Audiensi DPRD Gresik:‎

  • ‎Pengadaan Kapal Reguler: Meminta Dishub berkoordinasi dengan Dirjen Perhubungan ‎guna merealisasikan KMP Drajat rute Paciran-Bawean sebagai armada penyeberangan ‎reguler dengan jadwal 3 kali seminggu.‎
  • ‎Dispensasi Logistik Medis: Memberikan kelonggaran bagi operator ASDP dalam ‎pengangkutan barang khusus/darurat, utamanya oksigen medis ke Bawean.‎
  • ‎Anggaran Darurat: Menyiapkan sebagian anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar ‎Rp 5 Miliar untuk penanganan kondisi darurat transportasi, termasuk pengajuan ‎pembangunan dermaga khusus kapal Ro-Ro.‎

Selain itu, perwakilan Ikatan Mahasiswa Bawean Surabaya (Imbas), Haikal, berharap komitmen ‎bersama ini tidak berhenti di atas meja audiensi. 

“Permasalahan transportasi ini adalah penyakit ‎tahunan. Kami butuh solusi yang terwujud nyata, termasuk regulasi spesifik yang melindungi hak ‎mobilitas masyarakat kepulauan,” pungkasnya.‎

Masyarakat Bawean kini menanti realisasi dari langkah-langkah yang dijanjikan. KMP Drajat Paciran ‎diharapkan menjadi angin segar yang memecah kebuntuan di tengah amukan ombak Laut Jawa, ‎memastikan denyut nadi Pulau Putri itu tidak lagi berhenti berdetak saat cuaca memburuk.‎

Editor: Ahmad Faiz                Reporter: Saiful Hasan