Cuaca Kembali Ganggu Transportasi Laut Bawean, KWBG dan PSB Desak KMP Drajat Layani Rute Reguler Paciran-Bawean
![]() |
| KMP Drajat saat sandar di pelabuhan Paciran Lamongan (Foto:kabarbawean) |
kabarbawean.com - Gangguan cuaca yang berulang kali menghambat pelayaran menuju Pulau Bawean mendorong Kerukunan Warga Bawean Gresik (KWBG) bersama Persatuan Saudagar Bawean (PSB) meminta pemerintah segera memberikan kepastian layanan transportasi laut.
Kedua organisasi tersebut melayangkan surat resmi kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan RI. Mereka mendesak agar KMP Drajat dapat dioperasikan sebagai kapal trayek reguler pada lintasan Paciran–Bawean dengan frekuensi minimal tiga kali dalam sepekan.
Permintaan itu disampaikan melalui surat bernomor 010/KWBG/VIII/2026 tertanggal 10 Agustus 2026. Pengoperasian KMP Drajat dinilai penting sebagai salah satu solusi untuk menjaga kelancaran distribusi logistik ketika pelayaran kapal lain terkendala kondisi laut.
Ketua KWBG, Arief Rasyidi, mengatakan persoalan transportasi laut yang berulang setiap tahun memberikan dampak langsung terhadap masyarakat Bawean, khususnya ketika kapal tidak dapat beroperasi akibat cuaca buruk.
"Kasihan orang Bawean, ini terus berulang dan jadi persoalan tahunan, tak pernah ada solusinya. Info dari pulau, stok oksigen medis bahkan mulai menipis," ucapnya, Kamis (20/8/2026).
Saat ini, layanan transportasi laut Bawean mengandalkan KM Express Bahari dan KMP Gili Iyang. Namun, kedua kapal tersebut harus menunda pelayaran apabila tinggi gelombang mencapai 1,5 meter sesuai dengan standar keselamatan pelayaran.
Terhentinya pelayaran tidak hanya berdampak pada mobilitas penumpang. Distribusi bahan pokok, kebutuhan fasilitas kesehatan, pasokan logistik, serta aktivitas perekonomian masyarakat Bawean juga berpotensi terganggu.
Arief menyebut pengajuan KMP Drajat sebagai kapal reguler merupakan tindak lanjut dari Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III DPRD Gresik yang digelar bersama warga, perwakilan pengusaha, dan operator kapal pada 6 Agustus 2026.
"Surat ini merupakan tindak lanjut Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III DPRD Gresik bersama warga, perwakilan pengusaha, dan operator kapal pada 6 Agustus 2026," jelasnya.
Ia berharap Kementerian Perhubungan dapat memberikan kepastian terhadap layanan transportasi laut bagi masyarakat Bawean yang selama ini sangat bergantung pada konektivitas antarpulau.
"Besar harapan kami agar usulan pengoperasian KMP Drajat sebagai kapal trayek reguler dan tetap lintas Paciran-Bawean dapat memperoleh persetujuan serta tindak lanjut dari Kemenhub RI. Harapan masyarakat Bawean, hak-haknya terpenuhi sebagai warga bangsa," pungkas mantan anggota DPRD Gresik ini.
Gelombang Tinggi Masih Mengancam Pelayaran
Gangguan terhadap transportasi laut tersebut terjadi di tengah kondisi cuaca maritim yang masih perlu diwaspadai. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak Surabaya merilis prakiraan cuaca dan tinggi gelombang untuk perairan Jawa Timur, termasuk Bawean, periode 21-25 Agustus 2026.
Dalam informasi tinggi gelombang yang berlaku 21-24 Agustus, BMKG mencantumkan Perairan Bawean Bagian Utara dan Perairan Bawean Bagian Selatan sebagai wilayah yang berpeluang mengalami gelombang setinggi 1,25-2,5 meter.
Rincian dalam tabel prakiraan BMKG yang diterbitkan pada 20 Agustus menunjukkan, pada 21 Agustus, tinggi gelombang di Perairan Bawean Bagian Utara diprakirakan mencapai 1,57 meter, sedangkan Bawean Bagian Selatan 1,54 meter. Sehari berikutnya, masing-masing diprakirakan mencapai 1,55 meter dan 1,52 meter.
Memasuki 23 Agustus, tinggi gelombang diprakirakan mulai menurun. Di Bawean Bagian Utara berada pada kisaran 0,98-1,32 meter, sedangkan Bawean Bagian Selatan 0,97-1,29 meter.
Prakiraan untuk 24 Agustus menunjukkan gelombang di Bawean Utara berada pada kisaran 1,07-1,24 meter dan Bawean Selatan 1,05-1,20 meter. Sementara pada 25 Agustus, masing-masing diprakirakan berada pada kisaran 1,16-1,37 meter dan 1,12-1,32 meter.
Kondisi tersebut juga disertai angin dominan dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan 10-25 knot. Untuk kondisi cuaca, BMKG memprakirakan wilayah perairan Bawean secara umum mengalami cuaca cerah hingga cerah berawan, dengan suhu permukaan laut sekitar 27-28 derajat Celsius.
Dalam informasi keselamatannya, BMKG mencantumkan bahwa perahu nelayan berisiko terhadap keselamatan pelayaran ketika kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter. Sementara untuk kapal tongkang, kondisi berisiko dicantumkan ketika kecepatan angin mencapai 16 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,5 meter.
BMKG juga mencatat bahwa keberadaan awan kumulonimbus (Cb) yang luas dan gelap dapat menambah kecepatan angin serta tinggi gelombang.
Prakiraan tersebut menjadi kondisi cuaca maritim yang menyertai aktivitas pelayaran Bawean dalam beberapa hari ke depan. Pada saat yang sama, KWBG dan PSB telah mengajukan usulan kepada Kementerian Perhubungan agar KMP Drajat dapat dioperasikan sebagai kapal trayek reguler pada lintasan Paciran-Bawean dengan frekuensi minimal tiga kali dalam sepekan.
Usulan itu kini menunggu tindak lanjut pemerintah di tengah kondisi transportasi laut Bawean yang kembali menghadapi persoalan ketika kondisi perairan tidak mendukung pelayaran.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan
