Tradisi Bubur Shafar Warga Sekang Lebak Bawean, Warisan Leluhur yang Terus Dilestarikan
![]() |
| Warga Sekang Lebak, Pulau Bawean, bergotong royong membuat Bubur Shafar sebagai bagian dari tradisi yang dilaksanakan setiap bulan Shafar. (Foto:Istimewa) |
kabarbawean.com - Tradisi Bubur Shafar masih terus dilestarikan oleh masyarakat Sekang Lebak, Pulau Bawean. Tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun tersebut digelar setiap bulan Shafar dengan melibatkan masyarakat dalam kegiatan gotong royong, doa bersama, dan pembagian bubur kepada warga.
Miskiyah, salah satu tokoh masyarakat Sekang Lebak, mengatakan bahwa pelaksanaan Bubur Shafar tidak terikat pada tanggal tertentu. Tradisi tersebut dilaksanakan setiap memasuki bulan Shafar dalam kalender Hijriah.
Menurutnya, tradisi ini telah berlangsung sejak zaman dahulu dan menjadi bagian dari warisan nenek moyang masyarakat setempat. Pada awalnya, pembuatan Bubur Shafar dilakukan secara mandiri oleh setiap keluarga di rumah masing-masing.
“Dulu bubur Shafar dibuat di setiap rumah secara individu, kemudian dibagikan kepada tetangga,” ujar Miskiyah, Senin (27/7/2026).
Seiring berjalannya waktu, pelaksanaan tradisi tersebut berkembang menjadi kegiatan bersama masyarakat. Para warga, khususnya ibu-ibu, bergotong royong menyiapkan bahan dan membuat bubur secara bersama-sama.
Bahan yang digunakan antara lain tepung beras, tepung ketan, gula merah, dan santan. Selain bahan makanan, setiap rumah juga turut berkontribusi melalui iuran sebesar Rp15.000 serta menyumbangkan beras sebanyak satu mangkuk untuk kebutuhan pembuatan bubur.
Bubur Shafar yang dibuat masyarakat memiliki dua warna, yakni putih dan merah. Dalam pemaknaan masyarakat setempat, warna putih melambangkan kesucian, sedangkan warna merah dimaknai sebagai keberanian.
Miskiyah menyebut, dirinya tidak lagi mengingat secara pasti sejarah awal munculnya tradisi Bubur Shafar tersebut. Namun, tradisi itu diyakini telah diwariskan oleh leluhur dan terus dijaga oleh masyarakat hingga sekarang.
“Sejarah pastinya saya sudah lupa, kenapa ada Bubur Shafar. Karena ini sudah menjadi tradisi dari nenek moyang dulu,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tradisi Bubur Shafar yang berkembang di Sekang Lebak memiliki keterkaitan dengan tradisi masyarakat Madura. Hal itu tidak terlepas dari latar belakang masyarakat setempat yang banyak memiliki akar budaya Madura.
“Tradisi bubur shafar ini adalah tradisi orang madura kerena disini kebanyakan masyarakat madura tapi daerah jawa juga ada sperti di pasuruan di tempat saya mondok dulu di sidogiri,” imbuhnya.
Selain kegiatan memasak bersama, rangkaian tradisi Bubur Shafar juga diisi dengan kegiatan keagamaan. Setelah salat Magrib, masyarakat berkumpul di musholla untuk membaca Surah Yasin, istighosah, serta mendengarkan mauizah hasanah.
Dalam kesempatan tersebut, masyarakat juga mendapatkan tausiah singkat yang berkaitan dengan nilai-nilai sedekah.
Sebelum tradisi Bubur Shafar, masyarakat Sekang Lebak juga mengenal bubur Asyura atau bubur pedas. Bubur tersebut memiliki warna putih dan dalam tradisi masyarakat setempat dikaitkan dengan kisah Nabi Luth.
Bagi masyarakat Sekang Lebak, tradisi Bubur Shafar bukan hanya kegiatan membuat makanan secara bersama-sama. Di dalamnya terdapat semangat gotong royong, berbagi, sedekah, serta menjaga warisan budaya yang telah berlangsung sejak generasi terdahulu.
Tradisi tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat Bawean masih mempertahankan kebiasaan leluhur di tengah perubahan zaman. Dari dapur warga hingga musala tempat masyarakat berkumpul, Bubur Shafar terus menjadi bagian dari kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Sekang Lebak.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan
