Program Ketahanan Pangan Ayam Petelur Desa Kebontelukdalam Jaga Pasokan dan Stabilkan Harga Telur
kabarbawean.com - Program ketahanan pangan berupa peternakan ayam petelur yang dijalankan Pemerintah Desa Kebontelukdalam, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, mulai menunjukkan hasil nyata.
Memasuki dua bulan sejak ayam didatangkan, produksi telur terus meningkat hingga mencapai sekitar 290 butir per hari dan dinilai mampu membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga stabilitas harga telur ketika distribusi dari luar pulau terganggu akibat cuaca buruk.
Kepala Desa Kebontelukdalam, Salaman, mengatakan capaian tersebut melampaui perkiraan awal. Menurutnya, ayam petelur yang semula diperkirakan baru mulai berproduksi sekitar satu bulan setelah datang, ternyata sudah mulai bertelur dalam waktu dua pekan.
"Alhamdulillah, perkiraan kami ayam datang bulan empat itu sekitar satu bulan baru bertelur, ternyata dua minggu setelah kedatangan sudah mulai bertelur. Berdasarkan penanggung jawab peternakan, Pak Zainuddin, bibit yang kami beli termasuk bibit pilihan yang berkualitas," ujar Salaman, Jumat (10/7/2026).
Ia menjelaskan, keberadaan peternakan ayam petelur memberikan manfaat besar bagi masyarakat, terutama saat gelombang tinggi menyebabkan kapal pengangkut logistik tidak dapat beroperasi. Kondisi tersebut selama ini kerap memicu kelangkaan dan kenaikan harga telur di Pulau Bawean.
"Selama dua bulan ini masyarakat sangat menyambut positif adanya ayam petelur ini. Waktu gelombang besar dan tidak ada kapal, kebutuhan telur di Kebontelukdalam tetap bisa terpenuhi, bahkan harga bisa dinormalisasi. Biasanya kalau cuaca buruk harga telur naik, tetapi kali ini tidak hanya stabil, malah turun," ungkapnya.
Salaman mengungkapkan, harga telur dari program ketahanan pangan desa dijual Rp40 ribu per papan berisi 30 butir. Harga tersebut jauh lebih murah dibanding harga pasar yang saat kondisi normal saat gelombang tinggi bisa mencapai sekitar Rp55 ribu per papan.
"Warga sangat bersyukur dengan adanya ketahanan pangan ayam petelur ini. Bahkan banyak juga warga yang kulakan telur di sini untuk dijual kembali. Selama telur ini bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, saya persilakan. Sekarang telur dari sini juga sudah diedarkan sampai ke Desa Balikterus," tuturnya.
Untuk menjaga keberlanjutan program, pemerintah desa menerapkan pengelolaan yang tertib. Tiga orang pengurus menjalankan operasional secara bergiliran dengan pembukuan harian yang mencatat jumlah produksi, hasil penjualan, pembelian pakan, obat-obatan, hingga biaya operasional lainnya
Menurut Salaman, sistem administrasi tersebut diterapkan agar usaha peternakan tidak berhenti setelah masa produktif ayam berakhir.
"Pembukuannya tertib. Setiap hari dicatat berapa telur yang dihasilkan, berapa yang terjual, termasuk pembelian pakan dan obat. Tujuannya agar program ini berkesinambungan. Setelah masa produktif ayam selesai, hasilnya bisa digunakan membeli bibit ayam lagi sehingga masyarakat terus merasakan manfaatnya," jelasnya.
Saat ini populasi ayam petelur mencapai 300 ekor. Produksi telur pun meningkat secara bertahap, mulai dari sekitar 15 butir per hari pada awal masa bertelur hingga kini mencapai sekitar 290 butir setiap hari.
"Tiga hari lalu ada laporan produksi sudah mencapai 290 butir per hari. Bisa saja hari ini sudah penuh menjadi 300 butir setiap hari. Menurut Pak Zainuddin yang sudah 28 tahun menjadi peternak ayam petelur, bibit yang kami beli memang termasuk bibit yang sangat bagus," tambahnya.
Sementara itu, Pendamping Lokal Desa (PLD) Kebontelukdalam, Abd Ra'uf, memberikan apresiasi terhadap keberhasilan program ketahanan pangan tersebut. Ia menilai program itu berhasil menjawab persoalan kelangkaan sekaligus menjaga kestabilan harga telur di Pulau Bawean.
"Saya tentu sangat mengapresiasi program ketahanan pangan di Desa Kebontelukdalam yang berupa ayam petelur ini. Telah berhasil menepis kelangkaan telur dan bisa menjadi penstabil harga telur," kata Abd Ra'uf.
Menurutnya, kebutuhan telur di Pulau Bawean cukup tinggi sehingga gangguan distribusi akibat gelombang besar sering kali berdampak pada pasokan dan harga di pasaran.
"Konsumen ayam dan telur di Pulau Bawean cukup besar. Karena itu, ketika ada sedikit gangguan distribusi akibat ombak besar dan lain sebagainya, harga telur dan ayam langsung terpengaruh. Namun dengan inisiasi ketahanan ayam petelur yang dilakukan Pemerintah Desa Kebontelukdalam, masalah kelangkaan dan tingginya harga telur dapat tertangani. Hal ini sesuai yang diinginkan pemerintah," ujarnya.
Ia berharap program tersebut terus dipertahankan karena telah memberikan manfaat langsung bagi masyarakat maupun pengelolanya.
"Saya sangat bersyukur sekali program peternakan ayam petelur ini punya dampak yang baik bagi warga dan pengelola, terutama para konsumen ayam dan telur," pungkasnya.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan
