BREAKING NEWS

Menyusuri Sejarah Desa Kebontelukdalam, Dari Jejak Syekh Subadar hingga Sentra Pertanian dan Kerajinan Bambu

Kantor Pemerintah Desa Kebontelukdalam, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean. (Foto:kabarbawean)

kabarbawean.com - Desa Kebontelukdalam, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, tidak hanya dikenal sebagai salah satu lumbung pertanian, tetapi juga menyimpan sejarah panjang penyebaran Islam serta kekayaan budaya yang masih terus dilestarikan hingga kini.

Kepala Desa Kebontelukdalam, Salaman, mengatakan berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, wilayah tersebut dahulunya merupakan sebuah keraton yang dipimpin oleh Syekh Subadar atau Mas Bawang. Sosok tersebut dipercaya sebagai salah satu ulama penyebar Islam pertama di Desa Kebontelukdalam.

"Berdasarkan cerita-cerita yang saya dengar, dulu Kebontelukdalam merupakan sebuah keraton yang dipimpin oleh Syekh Subadar atau Mas Bawang, seorang ulama penyebar Islam pertama di Desa Kebontelukdalam," ujarnya.

Menurut Salaman, asal-usul nama Desa Kebontelukdalam memiliki beberapa versi. Salah satunya berasal dari tiga kata, yakni kebon, teluk, dan dalam. Kata kebon merujuk pada kebun yang dahulu berada di kawasan keraton, sedangkan teluk berasal dari keberadaan teluk di kawasan Labuhan Dalam.

"Asal Desa Kebontelukdalam itu dari tiga kata, yakni kebon, teluk, dan dalam. Dulu di keraton ada kebun yang indah, kemudian ada teluk di Labuhan Dalam karena di sini ada keraton," katanya.

Selain itu, terdapat pula versi lain yang menyebutkan bahwa wilayah Kebontelukdalam pada masa lampau merupakan lautan yang menjorok jauh ke daratan hingga melewati wilayah Desa Daun. Menurutnya, cerita tersebut diperkuat dengan ditemukannya banyak cangkang hewan laut di sejumlah gua yang berada di wilayah desa.

"Ada juga yang mengatakan asal-usul penamaan Desa Kebontelukdalam karena wilayah ini dahulu merupakan lautan yang menjorok ke daratan atau teluk. Buktinya, di setiap goa yang ada di wilayah desa masih ditemukan banyak cangkang hewan laut. Sementara 'dalam' berarti jauh dari pusat keramaian, sehingga dinamakan Kebontelukdalam," tuturnya.

Salaman menuturkan, jejak sejarah penyebaran Islam di desa tersebut juga berkaitan dengan keberadaan Masjid Al Khoir. Berdasarkan cerita yang diwariskan masyarakat, masjid itu didirikan oleh seorang khadam atau pembantu Syekh Subadar yang berasal dari Tiongkok bernama Khoir.

"Masjid Al Khoir ini didirikan oleh khadam atau pembantu Syekh Subadar yang berasal dari Cina, namanya Khoir. Karena itu masjid ini dinamakan Masjid Al Khoir," ungkapnya.

Hingga kini, masyarakat masih menjaga tradisi mengenang jasa Syekh Subadar melalui pelaksanaan haul yang rutin digelar setiap lima hari setelah Hari Raya Idulfitri.

Secara administratif, Desa Kebontelukdalam terdiri dari sembilan dusun, yakni Dusun Telukdalam, Dusun Rujing, Dusun Padang Asem, Dusun Laccar, Dusun Duku, Dusun Sangar, Dusun Kepongan, Dusun Binaspa, dan Dusun Serambah. Desa ini dihuni sekitar 3.624 jiwa yang tersebar dalam 984 kepala keluarga.

Mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani. Sektor pertanian menjadi tulang punggung perekonomian desa, bahkan hasil panen beras dari Kebontelukdalam telah dipasarkan ke berbagai daerah di luar desa.

"Potensi terbesar desa kami adalah pertanian. Beras hasil panen masyarakat juga sudah dipasarkan ke luar desa," kata Salaman.

Selain pertanian, Kebontelukdalam juga memiliki potensi ekonomi kreatif melalui kerajinan anyaman bambu. Produk unggulan berupa ceppo diproduksi masyarakat Dusun Serambah, sedangkan kerajinan tikar banyak dihasilkan warga Dusun Kepongan.

Kerajinan ceppo tersebut bahkan mendapat apresiasi dari Bupati Gresik pada 2022. Produk anyaman bambu itu dijual dengan harga mulai Rp30 ribu hingga Rp250 ribu dan telah dipasarkan ke berbagai daerah hingga mancanegara, seperti Singapura, Malaysia, dan Australia.

"Kerajinan ceppo ini sudah mendapat apresiasi dari Bupati Gresik pada tahun 2022. Alhamdulillah sekarang pemasarannya sudah sampai ke Singapura, Malaysia, bahkan Australia," ujarnya.

Pada sektor pembangunan, Pemerintah Desa Kebontelukdalam mulai menggeser fokus dari pembangunan fisik menuju pemberdayaan masyarakat. Salah satu program yang tengah dikembangkan ialah ketahanan pangan melalui peternakan ayam petelur, disusul rencana pengembangan budidaya ikan lele.

"Selama ini pembangunan lebih banyak pada infrastruktur. Tahun ini kami memprioritaskan pemberdayaan masyarakat melalui peternakan ayam petelur dan ke depan juga merencanakan budidaya lele," jelasnya.

Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar dalam pembangunan desa adalah membangun kekompakan masyarakat agar seluruh program dapat berjalan secara optimal.

"Tantangan terbesar di desa ini adalah kekompakan masyarakat. Program apa pun kalau masyarakat tidak kompak, akan sulit berhasil," ungkapnya.

Selain pembangunan ekonomi, Pemerintah Desa Kebontelukdalam juga memberi perhatian terhadap pelestarian budaya dan sejarah desa. Untuk itu, pemerintah desa membentuk Karang Taruna agar generasi muda memiliki peran dalam menjaga warisan budaya dan tradisi yang telah diwariskan para leluhur.

"Saya membentuk Karang Taruna dengan tujuan agar anak-anak muda bisa menjaga budaya dan sejarah desa supaya tetap lestari. Setiap Kamis sore saya juga mengajak remaja masjid melestarikan tradisi ziarah kubur agar menjadi tanggung jawab generasi muda," tuturnya.

Ia menambahkan, kepedulian terhadap pembangunan desa juga datang dari para perantau asal Kebontelukdalam yang tersebar di berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, dan Australia. Melalui wadah yang mereka bentuk, para perantau rutin membantu pendidikan keagamaan serta menyalurkan bantuan sosial kepada masyarakat.

"Perantau asal Desa Kebontelukdalam selalu membentuk tim untuk membantu pendidikan keagamaan. Bahkan setiap bulan Ramadan mereka membagikan sembako kepada seluruh masyarakat desa," pungkasnya.

Editor: Ahmad Faiz                        Reporter: Saiful Hasan