Jejak Hatip Zen, Putra Bawean Peraih Kalpataru yang Dikenal Mampu Memanggil Rusa
kabarbawean.com - Nama Hatip Zen menjadi salah satu sosok yang memiliki jasa besar dalam pelestarian alam Pulau Bawean. Pria asal Dusun Tampo, Desa Pudakit Barat, Kecamatan Sangkapura itu dikenal sebagai tokoh konservasi yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk menjaga kelestarian satwa dan hutan Bawean.
Dedikasi tersebut mengantarkan Hatip Zen meraih sejumlah penghargaan bergengsi dari pemerintah. Pada 1986, ia menerima Penghargaan Kalpataru yang diserahkan langsung oleh Presiden Soeharto sebagai bentuk apresiasi atas pengabdiannya di bidang pelestarian lingkungan hidup.
Pada tahun yang sama, Hatip juga memperoleh penghargaan dari Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Dua tahun berselang, tepatnya pada 1988, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Gubernur Jawa Timur kembali memberikan penghargaan atas kontribusinya dalam menjaga kelestarian alam Pulau Bawean.
Semasa bertugas, Hatip Zen dipercaya memimpin Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bawean selama kurang lebih dua dekade, yakni sejak 1979 hingga 2000. Dalam masa pengabdiannya, ia dikenal dekat dengan alam dan satwa liar yang menjadi ciri khas Pulau Bawean.
Salah satu kemampuan Hatip yang masih dikenang masyarakat hingga kini adalah kemampuannya memanggil rusa Bawean. Satwa endemik yang dikenal pemalu itu disebut dapat mendekat ketika Hatip memanggilnya dengan suara khas.
Anak ketujuh Hatip Zen, Moh. Nur (47), mengatakan kemampuan tersebut lahir dari kedekatan ayahnya dengan alam yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
"Bapak sangat mencintai alam. Beliau hampir setiap hari berada di hutan sehingga mengenal perilaku rusa Bawean dengan baik. Bahkan rusa-rusa itu seolah mengenali suara beliau. Ketika dipanggil, rusa bisa mendekat. Itu yang membuat banyak orang kagum," ujar Moh. Nur saat ditemui.
Menurut Moh. Nur, ayahnya tidak pernah mengejar penghargaan selama menjalankan tugasnya. Baginya, menjaga kelestarian alam merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
"Beliau selalu berpesan kepada kami agar menjaga alam, karena kalau alam dirawat, alam juga akan menjaga kehidupan manusia. Penghargaan itu bukan tujuan, tetapi buah dari pengabdian," tuturnya.
Hatip Zen diketahui memiliki delapan orang anak. Nilai-nilai kecintaan terhadap lingkungan yang diwariskannya masih terus dijaga oleh keluarga hingga sekarang.
Selain dikenal sebagai pejuang konservasi, keluarga Hatip Zen juga memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Jujuk Tampo. Kakeknya, Saenawi bin Abdurrahman, merupakan juru kunci ketiga Jujuk Tampo. Hingga kini, Moh. Nur turut menjadi pengurus di kawasan bersejarah tersebut dan melanjutkan amanah keluarga dalam menjaga situs yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Bawean.
Bagi masyarakat Pulau Bawean, nama Hatip Zen bukan hanya dikenang sebagai penerima Kalpataru. Sosoknya juga diingat sebagai penjaga alam yang mengabdikan hidupnya untuk melestarikan rusa Bawean dan hutan yang menjadi habitat satwa endemik tersebut. Jejak pengabdiannya menjadi bagian penting dari sejarah konservasi di Pulau Bawean.

