Bediding Mulai Terasa di Bawean, BMKG Sebut Fenomena Alam Musim Kemarau
![]() |
| Orang sedang kedinginan (Foto:Ilustrasi) |
kabarbawean.com - Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat Pulau Bawean merasakan suhu udara yang lebih dingin dibandingkan biasanya. Kondisi yang dikenal dengan istilah bediding itu paling terasa pada malam hingga menjelang pagi hari.
Selain udara yang terasa lebih sejuk, air yang digunakan untuk mandi maupun mencuci juga terasa lebih dingin dari biasanya.
Kepala Stasiun BMKG Sangkapura Pulau Bawean, Usman Kholid, menjelaskan bahwa fenomena bediding merupakan gejala alam yang umum terjadi saat musim kemarau, terutama ketika memasuki puncak musim kemarau pada periode Juli hingga September.
Menurutnya, penurunan suhu udara yang dirasakan masyarakat saat ini berkaitan erat dengan perubahan pola angin musiman yang mulai mendominasi wilayah Indonesia.
“Fenomena suhu udara dingin atau bediding sebetulnya merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi pada bulan-bulan puncak musim kemarau. Saat ini wilayah Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur mulai memasuki periode tersebut,” kata Usman, Rabu (1/7/2026).
Usman memaparkan, pada musim kemarau wilayah Indonesia dipengaruhi angin timuran atau Monsun Australia yang bergerak dari Benua Australia menuju Indonesia.
Saat memasuki bulan Juli, Australia tengah mengalami musim dingin sehingga massa udara yang terbawa menuju Indonesia memiliki temperatur lebih rendah. Kondisi tersebut diperkuat oleh tekanan udara yang relatif tinggi di wilayah Australia sehingga mendorong aliran udara dingin bergerak ke Indonesia.
“Angin Monsun Australia yang bertiup menuju Indonesia melewati Samudera Hindia yang suhu permukaan lautnya juga relatif lebih dingin. Akibatnya, udara yang masuk ke wilayah Indonesia, termasuk Gresik dan Bawean, terasa lebih dingin,” terangnya.
Selain pengaruh angin musiman, langit yang cenderung cerah tanpa banyak tutupan awan juga menjadi faktor yang menyebabkan suhu udara pada malam hari semakin rendah.
Menurutnya, kondisi langit yang cerah membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer. Akibatnya, udara di dekat permukaan bumi menjadi lebih dingin, terutama pada malam hingga menjelang pagi.
“Tak hanya itu, langit yang cenderung cerah (clear sky) akan menyebabkan panas di permukaan bumi langsung dilepas ke atmosfer sehingga kemudian membuat udara dekat permukaan terasa lebih dingin terutama pada malam hingga pagi hari. Hal ini yang kemudian membuat udara terasa lebih dingin terutama pada malam hari,” tutupnya.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Mohammad
