4 Adab Penting Membaca Al-Qur’an agar Tak Sekadar Jadi Rutinitas Lisan
![]() |
| Gambar Ilustrasi Membaca Al-Qur'an (Foto:Ai) |
kabarbawean.com - Al-Qur'an bukan sekadar teks suci yang hadir untuk dilafalkan demi menggugurkan kewajiban atau meraup pahala instan. Bagi seorang muslim, Al-Qur'an adalah pedoman hidup yang memandu setiap langkah di tengah kompleksitas dunia.
Namun, sejauh mana interaksi kita dengan Kitab Suci ini telah memberi dampak nyata pada spiritualitas dan perilaku sehari-hari?
Tiga Tipe Pembaca Al-Qur'an dalam Realitas Sosial
Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat tiga tipe interaksi masyarakat terhadap Al-Qur'an:
1.Tipe Teknis
Mereka yang sibuk memperhatikan tajwid dan makhraj (tempat keluarnya huruf), fokus pada cara membaca tanpa menghiraukan makna dan kandungan di dalamnya.
2.Tipe Akademis
Mereka yang sibuk mendalami kandungan makna Al-Qur'an dan mempelajarinya, namun tidak pernah mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
3.Tipe Ideal
Mereka yang memperhatikan cara membaca yang baik, menyempatkan waktu mempelajari makna, serta selalu berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mencapai tipe ideal tersebut, Islam mengajarkan pentingnya menerapkan adab saat berinteraksi dengan Al-Qur'an. Adab ini melingkupi dimensi lahiriah (jasmani) sekaligus batiniah (rohani).
Inilah 4 adab Penting Membaca Al-Qur’an
1. At-Thaharah: Kesucian Lahir dan Batin
Adab pertama dan paling mendasar adalah bersuci (at-thaharah). Untuk membaca Kitab Suci, disyaratkan bersuci secara dhohir maupun batin. Allah SWT berfirman:
لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
"Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan."
(QS. Al-Waqi'ah: 79)
Bersuci secara dhohir dilakukan dengan berwudhu. Tak layak bagi seorang yang ingin "berbincang" dengan Tuhannya datang dalam keadaan belum berwudhu. Adapun bersuci secara batin adalah ketika kita berusaha mensucikan diri, hati, dan jiwa agar siap menerima petunjuk Al-Qur'an yang suci. Mustahil kandungan suci Al-Qur'an akan diterima oleh hati dan jiwa yang kotor.
2. Al-Isti'adzah: Membentengi Diri secara Dhohir dan Batin
Sebelum membaca Al-Qur'an, Allah mengajari kita untuk ber-isti'adah (berlindung kepada-Nya). Berlindung kepada Allah pun memiliki dua bentuk, yaitu dhohir dan batin. Allah SWT berfirman:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
"Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Quran, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk."
(QS. An-Nahl: 98)
Cara berlindung secara dhohir adalah dengan mengucapkan kalimat ini sebelum membaca Al-Qur'an:
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
"Aku berlindung dari setan yang terkutuk"
Sedangkan cara berlindung secara batin adalah dengan benar-benar menjaga hati, melawan bisikan setan, serta membentengi semua perilaku kita dari perintah-perintah setan.
3. Membaca secara Tartil (Lahir dan Batin)
Kita dianjurkan untuk membaca Al-Qur'an dengan tartil. Tartil secara lahir berarti membaca dengan tenang, menjaga bacaan serta makhraj-nya dengan benar, dan tidak terburu-buru. Para ulama berpesan:
لا يكونن هم احدكم اخر السورة
"Jangan sampai yang menjadi perhatian kalian (ketika membaca Al-Qur'an) adalah akhir dari surat (yang kalian baca)."
Tak cukup hanya itu, kita juga dianjurkan membaca secara tartil batin. Yaitu, ketika sampai pada ayat yang bercerita tentang surga, kita berhenti sejenak untuk meminta surga kepada Allah sambil merenung apakah perbuatan kita menghantarkan kita ke sana. Ketika melewati ayat yang menggambarkan pedihnya neraka, kita berhenti sejenak merenungi perbuatan kita sambil memohon perlindungan dari panasnya api neraka.
4. Tadabbur: Menghayati dan Meresapi Pesan Ilahi
Allah ingin kita ber-tadabbur ketika membaca Al-Qur'an, bukan hanya membaca sambil lalu tanpa meresapi kandungan indah di dalamnya. Al-Qur'an diturunkan bukan hanya sebagai bahan bacaan, melainkan sebagai petunjuk jalan hidup manusia yang harus direnungkan. Allah SWT berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
"Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) al-Quran? Sekiranya (al-Quran) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya."
(QS. An-Nisa': 82)
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
"Maka tidakkah mereka menghayati al-Quran, ataukah hati mereka sudah terkunci?"
(QS. Muhammad: 24)
Membaca Al-Qur'an dengan memenuhi kesucian lahir-batin, perlindungan dari bisikan setan, ketenangan tartil, serta penghayatan mendalam (tadabbur) adalah cara agar Al-Qur'an tidak sekadar menjadi rutinitas lisan. Semoga kita dapat menjadikan bacaan Al-Qur'an sebagai petunjuk nyata yang membimbing kehidupan kita di dunia yang berliku ini.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Abd. Rauf
