Sejarah Dusun Carabaka Bawean: Dari Misi Babat Alas hingga Eksplorasi Minyak Zaman Belanda
![]() |
| Gapura masuk menuju Dusun Carabaka di Desa Kepuhlegundi, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Selasa (30/6/2026) (Foto:kabarbawean) |
kabarbawean.com - Tersembunyi di balik perbukitan pedalaman utara Pulau Bawean, Dusun Carabaka menyimpan sejarah yang kaya. Secara administratif, dusun ini berada di wilayah Desa Kepuhlegundi, Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik. Kawasan ini bukan sekadar pemukiman biasa, melainkan salah satu pusat pelestarian tradisi Islam kultural yang kuat sejak masa lampau.
Filosofi Nama Carabaka: Manifestasi Jalan Hidup yang Konsisten
Berdasarkan etimologi cerita rakyat lokal, nama "Carabaka" memiliki akar filosofis yang mendalam tentang bagaimana para leluhur memandang kehidupan. Para tetua dusun menjelaskan bahwa nama ini lahir dari penggabungan dua kata tutur lokal, yaitu Cara (atau Chara) yang berarti metode, kebiasaan, perilaku, atau jalan hidup, serta Baka (atau Bheka) yang merujuk pada makna tetap, abadi, lestari, atau kondisi kokoh saat pembukaan lahan.
Melalui perpaduan tersebut, nama Carabaka diartikan oleh masyarakat setempat sebagai "Cara hidup yang tetap atau konsisten dalam menjaga kebaikan". Nama ini sekaligus merepresentasikan sebuah wilayah pemukiman yang sejak awal dibuka dengan metode yang kokoh agar dapat terus lestari hingga ke anak cucu.
Kisah Babat Alas Gunung Lantong dan Sosok Kultural 'Ju’ Carabaka'
Sejarah berdirinya Dusun Carabaka berpusat pada era penyebaran Islam dan gelombang migrasi penduduk di pedalaman utara Pulau Bawean. Jauh sebelum menjadi pemukiman yang tenang seperti sekarang, kawasan Carabaka merupakan hutan belantara di kaki Gunung Lantong yang dikenal sangat angker dan sulit ditembus.
Demi mendirikan lahan pertanian dan pemukiman baru, sekelompok tokoh adat bersama pemuka agama memutuskan untuk melakukan misi babat alas atau pembukaan hutan. Selama proses pembukaan lahan yang penuh tantangan tersebut, para sesepuh menggunakan strategi khusus yang mengombinasikan kekuatan doa Islam (tirakat) dengan sistem gotong royong agar terhindar dari marabahaya hutan.
Dalam tradisi penelusuran sejarah lokal di Pulau Bawean, nama figur spesifik yang memimpin pembukaan lahan di Dusun Carabaka umumnya tidak tercatat dalam dokumen formal pemerintahan. Hal ini dipengaruhi oleh pola pewarisan sejarah awal dusun yang sebagian besar disampaikan secara lisan melalui tutur generasi tua.
Kendati demikian, masyarakat setempat mengidentifikasi dan menghormati figur pendiri tersebut melalui sebutan normatif kultural, yakni Mbah atau Ju’ Carabaka (Bujuk Carabaka). Istilah Ju’ atau Bujuk sendiri merupakan sebutan khas masyarakat Madura dan Bawean untuk leluhur sakral atau ulama kuno. Keberadaan makam atau petilasan tertua Ju’ Carabaka di dusun ini menjadi pusat orientasi spiritual bagi warga sekitar.
Jejak Eksplorasi Minyak Bumi Era Kolonial Belanda
Seiring berjalannya waktu, gaung mengenai pentingnya posisi geografis Dusun Carabaka meluas hingga ke telinga pemerintah kolonial Belanda. Pada masa penjajahan, wilayah pedalaman Carabaka sempat menjadi sorotan tajam karena ditemukannya potensi sumber daya alam yang bernilai tinggi, berupa rembesan minyak bumi di kaki Gunung Lantong.
Para tetua dusun mengisahkan bahwa para pekerja zaman kolonial Belanda sempat berupaya melakukan eksplorasi di kawasan kaki gunung tersebut. Meskipun eksplorasi tersebut tidak berlanjut menjadi industri besar, catatan sejarah lisan ini mempertegas posisi strategis Carabaka sebagai salah satu dusun kuno yang penting di lingkar dalam Kecamatan Tambak.
Tradisi Pajhimatan: Merawat Identitas Religius Tradisional
Keberhasilan para leluhur terdahulu dalam membuka lahan pertanian memicu lahirnya Tradisi Pajhimatan. Tradisi ini merupakan identitas sejarah lokal Carabaka yang sangat melekat dengan nilai-nilai Islam tradisional berupa ritus ziarah dan penghormatan kepada para leluhur.
Melalui Tradisi Pajhimatan, warga generasi penerus secara rutin menyelenggarakan ritual doa bersama di makam atau petilasan pendiri dusun, terutama pada momen-momen penting dalam kalender Islam. Kegiatan kolektif ini dirawat dari generasi ke generasi sebagai bentuk konkret rasa terima kasih atas tanah pemukiman yang mereka tinggali dan nikmati hari ini.
Potret Kehidupan dan Roda Ekonomi Dusun Carabaka
Demi menopang kebutuhan hidup sehari-hari, roda perekonomian di Dusun Carabaka bergerak dinamis melalui perpaduan sektor agraria, maritim, dan arus merantau. Di dalam dusun, aktivitas ekonomi lokal didominasi oleh sektor pertanian padi ladang serta pengelolaan perkebunan. Selain memanfaatkan hasil bumi, kedekatan geografis wilayah dengan pesisir juga mendorong sebagian warga untuk menggantungkan hidup sebagai nelayan tradisional yang mencari nafkah di laut lepas.
Meski demikian, keterbatasan lahan pertanian di wilayah pedalaman ini memicu sebuah fenomena sosial yang mengakar kuat, di mana banyak pemuda dan kepala keluarga memilih untuk bermigrasi ke luar negeri sejak puluhan tahun silam. Negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, hingga kawasan Timur Tengah menjadi tujuan utama para pekerja migran asal Carabaka ini.
Menariknya, aliran dana atau remitansi yang dikirimkan oleh para perantau tersebut justru menjadi motor penggerak utama bagi pembangunan fasilitas domestik di kampung halaman. Dana dari luar negeri ini digunakan untuk merenovasi rumah tinggal, membangun tempat ibadah, hingga membiayai pendidikan anak-anak dusun ke jenjang yang lebih tinggi.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Umi Oktafiyanah
