Mengapa Warga Desa Diponggo di Pulau Bawean Berbahasa Jawa? Melacak Jejak Sejarah Waliyah Zainab
![]() |
| Balai Desa Diponggo Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik, Pulau Bawean (Foto:kabarbawean) |
kabarbawean.com - Desa Diponggo yang terletak di Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, dikenal memiliki ciri khas budaya yang berbeda dari desa-desa sekitarnya. Mayoritas warga di desa ini menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa utama mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Selain keunikan bahasanya, desa di Pulau Bawean ini juga menjadi salah satu tujuan wisata religi Bawean yang ramai karena adanya makam Waliyah Zainab, seorang tokoh penyebar agama Islam.
Perbedaan bahasa ini sudah bertahan selama ratusan tahun dan tetap dijaga oleh masyarakat setempat sampai sekarang. Hal ini tentu mengundang rasa penasaran bagi para pendatang atau wisatawan yang baru pertama kali berkunjung ke kawasan pesisir utara Bawean tersebut.
Fenomena Keunikan Bahasa Jawa di Tengah Pulau Bawean
Secara geografis, Pulau Bawean didominasi oleh penduduk yang menggunakan bahasa Bawean, yang memiliki kedekatan linguistik dengan bahasa Madura. Namun, begitu memasuki gapura Desa Diponggo, suasana komunikasi langsung berubah. Di warung kopi, pasar, maupun area publik lainnya, warga berinteraksi menggunakan bahasa Jawa dialek pesisir utara.
Eksistensi bahasa ini tidak hilang meski letak desa cukup jauh dari daratan utama Pulau Jawa. Pola penuturan ini diwariskan secara lisan dari orang tua kepada anak-anak mereka sejak usia dini.
"Kami tetap memakai bahasa Jawa di dalam rumah karena ini titipan identitas dari leluhur. Kalau keluar desa atau berinteraksi dengan warga dari desa lain, baru kami menyesuaikan diri menggunakan bahasa Bawean atau bahasa Indonesia," kata Syarifuddin (61), salah seorang warga desa Diponggo.
Faktor pernikahan sesama warga desa pada masa lalu juga turut memperkuat bertahannya bahasa Jawa di sini. Isolasi budaya yang terjadi secara alami ini membuat dialek asli mereka tetap murni dan tidak terasimilasi oleh bahasa mayoritas di sekitarnya.
Waliyah Zainab dan Asal-usul Nama Desa Diponggo
Akar sosiologis dari penggunaan bahasa Jawa di Desa Diponggo berkaitan erat dengan sejarah kedatangan Waliyah Zainab. Berdasarkan catatan sejarah lokal dan cerita turun-temurun, Waliyah Zainab adalah seorang ulama perempuan putri kyai Ageng Bungkul yang menyebarkan agama islam pertama kali di Pulau Bawean.
Mengenai nama desa sendiri, para sesepuh setempat memiliki catatan tersendiri yang diwariskan secara turun-temurun. Terdapat dua sudut pandang dalam menafsirkan asal-usul nama "Diponggo":
Versi Pertama (Simbol Kekuatan): Nama ini dianggap sebagai kombinasi dari kata di yang berarti dua, dan ponggo yang berarti gading. Dari gabungan ini, Diponggo diartikan sebagai "dua gading". Gading di sini menjadi simbol dari sebuah kekuatan yang besar sekaligus keagungan.
Versi Kedua (Simbol Keluhuran): Pendapat lain menyatakan bahwa Diponggo terbentuk dari kata dipo (artinya orang besar atau kalangan bangsawan) dan onggo (artinya bercahaya). Kombinasi ini melahirkan arti "orang besar yang bersinar". Tafsir ini merefleksikan karakter masyarakatnya yang memegang teguh nilai kehormatan, memiliki kepribadian yang mulia, serta taat dalam menjalankan ajaran agama.
Potensi Wisata Religi dan Geliat Ekonomi Pesisir
Keberadaan makam tokoh penyebar Islam ini berdampak besar pada perputaran ekonomi warga setempat. Setiap minggu, terutama pada hari libur dan bulan-bulan besar Islam, ratusan peziarah berdatangan ke lokasi ini. Pengunjung tidak hanya berasal dari wilayah domestik Bawean, melainkan juga dari kota-kota di Jawa Timur seperti Tuban, Lamongan, dan Gresik.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi pemukiman ini untuk berkembang sebagai desa wisata berbasis religi dan budaya.
Sebagai wilayah yang berada di garis pantai, mayoritas penduduk laki-laki di Desa Diponggo bekerja sebagai nelayan. Hasil laut dari desa ini menjadi salah satu pemasok kebutuhan pasar ikan di Kecamatan Tambak Gresik. Selain itu, kondisi ekonomi desa juga terbantu oleh sektor diaspora, di mana banyak pemuda desa yang merantau ke Malaysia dan Singapura lalu mengirimkan modal pembangunan kembali ke kampung halaman.
Merawat Tradisi di Era Modern
Tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat Desa Diponggo saat ini adalah modernisasi dan penggunaan teknologi digital yang meluas. Generasi muda sekarang makin akrab dengan bahasa Indonesia populer dan bahasa pergaulan luar melalui gawai mereka. Akibatnya, intensitas penggunaan bahasa Jawa halus di kalangan anak-anak mulai mengalami penurunan.
Mengantisipasi hal tersebut, para tokoh masyarakat dan pengajar lokal mengambil langkah penyelamatan budaya. Melalui kegiatan non-formal seperti pengajian sore di surau dan madrasah diniyah, anak-anak kembali diajarkan membaca naskah keagamaan kuno dengan metode pegon berbahasa Jawa.
Selain merawat bahasa, sistem sosial gotong royong yang disebut sarombong juga masih dijalankan. Tradisi membangun rumah atau memperbaiki sarana desa secara bersama-sama tanpa upah ini menjadi perekat sosial yang menjaga warga tetap kompak di tengah arus perubahan zaman.
Harapan Masa Depan Desa Diponggo
Desa Diponggo merupakan contoh nyata bagaimana sebuah komunitas mampu mempertahankan identitas asal mereka di tengah lingkungan yang berbeda. Kombinasi antara warisan sejarah, bahasa yang unik, dan letak geografisnya yang strategis membuat desa ini memiliki posisi penting di Pulau Bawean.
Peluang pengembangan wilayah sebagai destinasi utama wisata Bawean kini terbuka lebar seiring perbaikan infrastruktur jalan lingkar pulau. Sinergi antara pemerintah daerah Kabupaten Gresik dan komunitas lokal sangat dibutuhkan agar pembangunan fisik yang berjalan tidak mengikis ketenangan spiritual serta karakter asli pedesaan yang menjadi daya tarik utamanya. Merawat Diponggo berarti merawat salah satu potongan sejarah penting dari perjalanan dakwah Islam di Nusantara.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan
