Kisah Kyai Khatib bin Ahmad Syahar dari Desa Pekalongan Bawean Gresik dalam Tradisi Kitab Tiga Bahasa
![]() |
| Kyai Khatib bin Ahmad Syahar dari Desa Pekalongan Bawean Gresik. (Foto:Ist) |
kabarbawean.com - Tahun 1927 menjadi tonggak sejarah krusial bagi transformasi pendidikan Islam di pedalaman Pulau Bawean. Lembaga formal bernama Madrasah Awwaliyah resmi berdiri di Pedukuhan Kolpo, Dusun Padang Barat Tajungan, Desa Pekalongan, Kecamatan Tambak.
Langkah ini merombak pola pengajaran keagamaan tradisional yang sebelumnya bertumpu pada pengajian informal. Motor penggerak utama di balik formalisasi pendidikan ini adalah Kyai Khatib bin Ahmad Syahar dari desa pekalongan bawean gresik, seorang ulama kharismatik kelahiran 1886 M yang membangun jaringan intelektual santri hingga menembus batas geografis antarnegara.
Pergerakan dakwah tokoh ini tidak bermula dari kota besar. Pusat aktivitasnya berada di sebuah langgar (mushalla) kecil di dekat kediamannya di Kampung Kolpo. Melalui gubuk-gubuk kecil perkampungan, ia menghimpun kiai-kiai lokal untuk memperkuat tradisi keilmuan Islam. Efeknya masif. Aktivitas keilmuan di wilayah terpencil ini berhasil melahirkan kader-kader intelektual muda yang produktif melahirkan karya translasi lintas bahasa.
Jaringan literasi bentukan alumni Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo ini merambah sektor penerbitan internasional. Para santri binaannya tidak sekadar mengaji, melainkan aktif menerjemahkan kitab-kitab klasik Islam ke dalam tiga bahasa penutur: Bawean, Jawa, dan Melayu. Manuskrip-manuskrip tersebut kemudian berhasil dicetak di pusat-pusat penerbitan dunia Islam masa itu, mulai dari Singapura hingga Bombay, India.
Fondasi Keilmuan Siwalan Panji dan Perintisan Episentrum Kolpo
Kyai Khatib bin Ahmad Syahar membentuk karakter keintelektualannya melalui penempaan ketat di daratan Jawa. Setelah merampungkan pendidikan di Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, ia kembali ke Bawean dengan membawa misi modernisasi dakwah kultural. Wilayah operasinya di Dusun Padang Barat Tajungan kini dihuni oleh sekitar 88 kepala keluarga yang terbagi dalam dua RT di bawah kepemimpinan Kepala Dusun Nur Syafariyah sejak tahun 2023.
Pembagian Otoritas Kurikulum Kitab dan Al-Qur'an
Sistem pengajaran di Kampung Kolpo memadukan dua kompetensi inti yang berjalan beriringan. Kyai Khatib memegang komando penuh dalam penguasaan teks-teks hukum dan teologi melalui pembelajaran kitab kuning.
Pada saat bersamaan, aspek pembinaan khusus untuk penguasaan hafalan Al-Qur'an 30 juz diserahkan kepada Kyai Muiz bin Mukhiyarah, seorang ulama hafidz setempat. Integrasi dua figur pengajar ini memastikan para santri memiliki ketajaman analisis tekstual sekaligus kekuatan hafalan kitab suci yang otoritatif.
Keberadaan Infrastruktur Pengajaran Formal
Pendirian Madrasah Awwaliyah pada tahun 1927 mengubah total wajah Kampung Kolpo menjadi markas kreativitas intelektual muda. Secara geografis, lokasi madrasah awal ini berada di sebelah selatan Masjid Raudhatul Shalihin (sekarang dikenal sebagai area Masjid Kolpo).
Rumah kediaman Kyai Khatib sendiri berdiri tepat di sebelah utara masjid tersebut. Dari titik koordinat inilah, pola dakwah yang awalnya menyebar di gubuk-gubuk penduduk diorganisasikan ke dalam ruang-ruang kelas terstruktur.
Jaringan Transnasional Percetakan Manuskrip Jaringan Bawean
Puncak keberhasilan dari model pendidikan yang diterapkan di Kolpo adalah lahirnya gerakan translasi massal kitab klasik (kitab kuning). Langkah ini merupakan jawaban solutif agar masyarakat awam pesisir mampu memahami hukum-hukum agama tanpa terkendala sekat bahasa Arab murni.
Inventarisasi Karya Cetak Bombay dan Singapura
Catatan sejarah pers dan bibliografi Islam mencatat rincian titimangsa, nama penulis, dan lokasi percetakan internasional yang menerbitkan karya-karya dari jaringan santri Kolpo:
Kifayatul Awam (1925 M): Kitab dasar ilmu tauhid ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa oleh Muhammad Thayyib. Manuskrip diselesaikan pada 20 Jumadil Akhir 1344 H dan dicetak langsung di Bombay, India.
Sifatun Nabi SAW: Buku panduan karakteristik Rasulullah ini ditranslasikan ke dalam Bahasa Jawa oleh Muhammad Ma'sum Bin Ahmad Syahar (dikenal juga dengan nama KH Khatib bin Syahar al-Pekalongani). Dokumen ini diterbitkan oleh percetakan H. Abdurrahman Bin H. Abdul Aziz yang berlokasi di Rumah No. 49 Basrah Street, Singapura, tanpa catatan tahun.
Ar-Risalah al-Musytahirah bi Safinah as-Shalat (1936 M): Kitab fikih salat ini dikerjakan secara kolektif oleh empat ulama muda: Ahmad Zuhri, Abu Bakar Asyiq (Teluk Kalompangi), Ahmad Khalid Nawawi (Pekalongan), dan Abdurrahman Kholil (Teluk Dalam). Ditulis dalam tiga bahasa (Jawa, Bawean, Melayu) dan dicetak di Lorong Engku Aman No. N-242, Gilang, Singapura, pada 10 Muharram 1355 H atau 2 April 1936 M.
Aktivitas penerbitan mencapai puncaknya menjelang akhir dekade 1930-an. Berikut adalah rincian data manuskrip hasil kerja intelektual santri binaan Kyai Khatib Syahar yang berhasil menembus pasar cetak Singapura:
Ta'lim al-Muta'alim Thariq at-Ta'allum (1938 M): Karya legendaris Syeikh Zarnuji mengenai etika belajar ini dialihbahasakan ke dalam bahasa Bawean oleh Abu Bakar Asyiq dan Abdurrahman Khalil. Proses penulisan selesai pada Rabu, 23 Sya'ban 1356 H (1937 M) dan keluar dari mesin cetak Singapura pada Senin, 3 Sya'ban 1357 H (1938 M).
Tarik as-Shalat (1938 M): Buku ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Bawean oleh Muhammad Akhyari bin H. Hudri al-Pekalongani dengan tashih dari Abu Bakar bin KH Muhammad Asyiq. Percetakan Singapura merilisnya pada 19 Rabiul Akhir 1357 H atau 18 Juni 1938 M.
Hadits Arbain Nawawi (1938 M): Koleksi hadits utama ini diterjemahkan ke dalam tiga bahasa sekaligus (Jawa, Bawean, Melayu) oleh Muhammad Salim Akhyari dengan tashih dari Abu Bakar Asyiq dan Ahmad Zuhri pada tahun 1357 H.
Al-Ahadits al-Waridah fi Qisshah al-Isra' wal Mi'raj (1938 M): Kitab karya Syaikh Najmuddin al-Ghaithy ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Bawean oleh Muhammad Mahfudz Dahlan al-Baweani dengan tashih oleh Abu Bakar Asyik, dicetak di Singapura pada 17 Ramadhan 1357 H atau 9 November 1938 M.
Rekam jejak intelektual dari Pedukuhan Kolpo menegaskan bahwa Pulau Bawean memegang posisi tawar yang kuat dalam peta sirkulasi keilmuan Islam lintas samudra pada awal abad ke-20. Strategi dakwah kultural yang dirintis oleh Kyai Khatib bin Ahmad Syahar berhasil mengubah mushalla kampung menjadi laboratorium translasi bahasa yang produknya diakui oleh percetakan internasional di Singapura hingga Bombay. Kombinasi pengajaran kitab kuning dan hafalan Al-Qur'an menjadi kunci utama ketahanan sistem pendidikan lokal.
Meskipun tahun wafat beliau tidak tercatat secara pasti dan beliau diketahui tidak memiliki keturunan langsung, warisan intelektualnya berupa teks-teks translasi tiga bahasa tetap menjadi bukti empiris yang hidup. Langkah konkrit bagi generasi muda dan akademisi saat ini adalah melakukan digitalisasi dan penyelidikan filologis mendalam terhadap manuskrip-manuskrip karya santri Kolpo tersebut. Melestarikan dokumen sejarah ini merupakan cara terbaik untuk memastikan bahwa identitas Bawean sebagai pulau santri yang berwawasan global tidak hilang ditelan zaman.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Umi Oktafiyanah
