BREAKING NEWS

Jangan Tertipu Gemerlap Dunia, Ketakwaan Tetap Menjadi Ukuran Kemuliaan

Gambar Ilustrasi

kabarbawean.com - Kemajuan zaman yang ditandai dengan kemewahan, kemegahan, serta kecanggihan teknologi kerap membuat manusia terlena dengan kehidupan dunia. Padahal, dalam ajaran Islam, dunia hanyalah tempat persinggahan sementara yang tidak seharusnya menjadi tujuan utama kehidupan.

Pesan tersebut menjadi salah satu refleksi penting yang dapat dipetik dari peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Dalam perjalanan suci yang didampingi Malaikat Jibril itu, Rasulullah SAW diperlihatkan sosok seorang wanita tua renta yang berhias dengan berbagai perhiasan sehingga tampak seperti perempuan muda yang cantik dan menawan.

Saat Rasulullah SAW bertanya mengenai sosok tersebut, Malaikat Jibril menjelaskan bahwa wanita tua itu merupakan gambaran usia dunia yang tersisa. Kisah tersebut menjadi pengingat agar manusia tidak terlalu terpikat oleh gemerlap kehidupan dunia yang sifatnya sementara.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 20:

 اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan…” 

(QS. Al-Hadid: 20)

Dalam ajaran Islam, dunia diibaratkan sebagai tempat singgah sebelum menuju kehidupan yang kekal di akhirat. Rasulullah SAW bersabda:

"Tiadalah aku di dunia ini kecuali seperti penunggang hewan yang bernaung di bawah pohon untuk waktu yang sebentar lalu pergi dan meninggalkan pohon itu."

Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW juga bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

"Jadilah di dunia seperti orang asing atau orang yang hanya numpang lewat."

Meski demikian, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk meninggalkan kehidupan dunia atau bermalas-malasan dalam bekerja. Umat Islam justru dianjurkan untuk mencari rezeki yang halal serta memanfaatkan nikmat dunia sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.

Hal tersebut sejalan dengan firman Allah SWT:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi."

Rasulullah SAW juga bersabda:

"Bukanlah kebaikan bagi kalian seseorang yang meninggalkan dunia untuk akherat dan tidak juga meninggalkan akherat untuk dunia tetapi kebaikan bagi kalian adalah seseorang yang mengambil bagian dari keduanya."

Selain itu, kekayaan maupun kemiskinan bukanlah ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT. Sebab, ukuran kemuliaan yang sesungguhnya adalah ketakwaan.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ 

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian."

Karena itu, bekerja keras dalam mencari rezeki yang halal merupakan bagian dari ajaran Islam. Dengan rezeki yang diperoleh, seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, membantu sesama, serta menghindari diri dari menjadi beban bagi orang lain.

Sebaliknya, Islam melarang sikap cinta dunia secara berlebihan yang dapat mendorong seseorang menghalalkan segala cara demi meraih kekayaan dan kedudukan.

Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa yang menjadikan akherat sebagai perhatian utamanya maka Allah akan menjadikannya sebagai orang yang kaya hati, tapi barang siapa yang menjadikan dunia sebagai perhatian utamanya maka Allah akan menjadikan selalu merasa kurang (bermental miskin)."

Dalam pandangan Islam, kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan harta, tetapi juga hati. Seseorang yang memiliki kekayaan melimpah dapat saja tergolong miskin hati apabila enggan menunaikan hak orang lain, seperti tidak membayar zakat, melakukan korupsi, atau mengambil hak sesama.

Pada akhirnya, umat Islam diajak untuk tidak tertipu oleh gemerlap kehidupan dunia yang sementara. Sebab, kemuliaan sejati bukan diukur dari banyaknya harta atau kedudukan yang dimiliki, melainkan dari ketakwaan dan amal saleh yang menjadi bekal menuju kehidupan akhirat.

Editor: Ahmad Faiz                            Reporter: Abd. Rauf