Haul KH Subhan ke-48 Jadi Momentum Mengenang Jejak Keilmuan Ulama Bawean
kabarbawean.com - Semangat keilmuan dan perjuangan KH Subhan bin KH Rawi kembali dikenang dalam Haul Akbar ke-48 beserta peringatan haul para masyayikh se-Desa Daun yang digelar di halaman MTs-MA Darussalam, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik, Selasa malam (2/6/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Pendidikan Islam Darussalam bersama Jamaah Sholawat Bawean itu berlangsung khidmat. Acara tersebut dihadiri Ketua PCNU Bawean beserta Rais Syuriyah, unsur Forkopimcam Sangkapura, Ketua MUI Sangkapura, para pengasuh pondok pesantren se-Bawean, tokoh masyarakat, alumni, santri, santriwati, serta masyarakat umum.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Surah Yasin oleh KH Ahsanul Haq, dilanjutkan tahlil yang dipimpin KH Sholahuddin Pancor, pembacaan sholawat bersama Jamaah Sholawat Bawean yang dipimpin Kiai Muniri, sambutan panitia, mauidzah hasanah oleh KH M. Najib Muhammad (Gus Najib), dan ditutup doa oleh Rais Syuriyah PCNU Bawean KH Zubaidi Humaili.
Ketua Pelaksana Haul, Gus Abdul Mujib Arsyad, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada para ulama, tamu undangan, dan seluruh jamaah yang hadir. Ia juga memohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam penyambutan maupun pelayanan selama kegiatan berlangsung.
Menurutnya, haul tahunan tersebut menjadi momentum penting untuk mengenang perjuangan dan keteladanan KH Subhan, salah satu ulama besar Bawean yang memiliki semangat keilmuan luar biasa sejak usia muda.
“KH Subhan merupakan seorang yatim yang pada usia sekitar 14 tahun sudah berangkat ke Makkah untuk menuntut ilmu di Madrasah Shaulatiyah. Beliau belajar di sana selama kurang lebih 16 tahun bersama banyak ulama Nusantara lainnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perjalanan menuntut ilmu ke Tanah Suci pada masa itu bukanlah hal mudah. Pada tahun 1928, perjalanan menuju Makkah membutuhkan waktu berbulan-bulan dengan sarana transportasi yang sangat terbatas dan tanpa dukungan beasiswa sebagaimana saat ini.
“Semangat belajar beliau sangat luar biasa. Di tengah keterbatasan, beliau tetap berangkat demi memperdalam ilmu agama. Karena keilmuan dan kapasitas akademiknya, beliau dikenal luas dan dihormati oleh banyak ulama,” ungkapnya.
![]() |
| Gus Abdul Mujib Arsyad saat menyampaikan sambutan dalam Haul Akbar ke-48 KH Subhan bin KH Rawi dan para masyayikh se-Desa Daun di halaman MTs-MA Darussalam. (Foto:kabarbawean) |
Gus Abdul Mujib juga mengungkapkan bahwa masyarakat hingga kini masih banyak menuturkan kisah-kisah karamah KH Subhan yang menunjukkan kedalaman spiritual dan keistimewaan beliau sebagai ulama.
Sementara itu, dalam mauidzah hasanahnya, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Madienah Denanyar Jombang, KH M. Najib Muhammad atau yang akrab disapa Gus Najib, mengajak jamaah untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW dan para ulama yang telah mewarisi perjuangan Nabi.
Menurutnya, mukjizat terbesar yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW adalah Al-Qur'an yang menjadi pedoman hidup umat Islam sepanjang zaman.
“Al-Qur'an merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW. Karena itu, umat Islam harus menjadikannya sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kemuliaan seorang ulama tidak terletak pada karamah yang dimilikinya, melainkan pada ilmu yang diajarkan dan manfaat yang diberikan kepada umat.
“Seorang alim yang mengajarkan ilmu kepada masyarakat adalah kemuliaan yang paling tinggi. Para sahabat Nabi tidak pernah mengejar karamah, tetapi mereka lebih mengutamakan istiqamah dalam mengikuti sunnah Rasulullah SAW,” jelasnya.
Lebih lanjut, Gus Najib menerangkan bahwa hubungan dengan para ulama tidak hanya terjalin melalui garis keturunan (dzurriyah bin nasab), tetapi juga melalui hubungan perjuangan dan kecintaan terhadap ilmu (dzurriyah bis sabab).
“Orang-orang yang mondok dan belajar di Pondok Pesantren Darussalam termasuk dzurriyah bis sabab KH Subhan, karena mereka memiliki kecintaan terhadap perjuangan dan ilmu yang diwariskan beliau,” ungkapnya.
Melalui peringatan haul tersebut, para jamaah diajak untuk tidak hanya mengenang sosok KH Subhan, tetapi juga meneladani semangat keilmuan, keteguhan dalam berdakwah, serta akhlak mulia yang telah diwariskan kepada generasi penerus.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan


