Gelombang Tinggi Ancam Perairan Bawean, Warga dan Pelancong Terdampak Penundaan Pelayaran
![]() |
| Pelabuhan Bawean, Kabupaten Gresik (Foto:Ist) |
kabarbawean.com - Potensi gelombang tinggi di perairan sekitar Pulau Bawean membuat aktivitas pelayaran kembali terganggu. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Gresik bersama Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Bawean mengeluarkan imbauan kewaspadaan menyusul prakiraan gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter yang berpotensi terjadi pada 7-10 Juni 2026.
Berdasarkan informasi dari BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya, kondisi gelombang tersebut diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah perairan Jawa Timur, meliputi Perairan Bawean bagian utara dan selatan, Perairan Masalembu, Tuban, Lamongan, Gresik bagian utara, hingga Kepulauan Kangean.
Menindaklanjuti informasi tersebut, Kepala KSOP Kelas II Gresik, Capt. Herbert E.P. Marpaung, meminta seluruh operator kapal pelayaran nasional, pelayaran rakyat, nahkoda, pemilik kapal, dan nelayan untuk meningkatkan kewaspadaan serta terus memantau perkembangan cuaca dari BMKG.
"Apabila dalam pelayaran mendapat cuaca buruk, nahkoda kapal segera mencari tempat aman dan berlindung," tegasnya.
KSOP Gresik juga meminta seluruh operator kapal meningkatkan kewaspadaan dengan memantau kondisi cuaca setidaknya enam jam sebelum keberangkatan, memastikan seluruh aspek keselamatan pelayaran terpenuhi, serta mengantisipasi kemungkinan penundaan pelayaran, khususnya bagi kapal cepat penumpang atau High Speed Craft (HSC), apabila kondisi cuaca belum dinyatakan aman.
"Maka dihimbau bagi kapal cepat penumpang High Speed Craft (HSC) agar mengantisipasi apabila terjadi penundaan keberangkatan kapal pada waktu tersebut, sampai dengan cuaca membaik dan dinyatakan normal serta benar-benar aman oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika," ujar Capt. Herbert E.P. Marpaung.
Sebelumnya, Kepala UPP Kelas III Bawean, Pajudin, S.A.P., M.A.P., juga telah menerbitkan pengumuman peringatan cuaca buruk di perairan Bawean dan sekitarnya. Dalam pengumuman tersebut, seluruh operator kapal, nahkoda, pemilik kapal, dan nelayan diminta terus mengikuti perkembangan informasi cuaca dari BMKG serta mengutamakan keselamatan pelayaran.
"Maka dihimbau bagi seluruh kapal untuk menunda keberangkatan kapal sampai dengan cuaca membaik dan dinyatakan normal serta benar-benar aman oleh BMKG," kata Pajudin.
Penundaan pelayaran akibat cuaca buruk tidak hanya berdampak pada aktivitas transportasi laut, tetapi juga mulai dirasakan masyarakat dan para pelancong yang terjebak di Pulau Bawean.
Imam, seorang warga Malaysia yang sedang berada di Bawean bersama rombongannya, mengaku kesulitan kembali ke negaranya akibat tidak tersedianya kapal penumpang selama beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut membuat tiket perjalanan yang telah dibeli hangus karena tidak dapat digunakan sesuai jadwal.
"Keadaannya seperti ini sekarang, Pak. Sama sekali tidak ada bantuan kapal. Kami ingin kembali ke Malaysia tetapi kapalnya tidak ada, sementara tiket kami sudah hangus," ungkapnya.
Menurut Imam, rombongannya yang berjumlah 12 orang datang ke Bawean untuk bersilaturahmi dengan keluarga serta berziarah ke makam orang tua. Namun, tertundanya pelayaran membuat biaya perjalanan terus membengkak, sementara anak-anak dalam rombongan tersebut harus segera kembali ke sekolah.
Ia berharap pemerintah menyiapkan kapal bantuan atau solusi transportasi lain saat kondisi darurat agar masyarakat maupun pelancong tidak terjebak berhari-hari akibat terhentinya layanan pelayaran.
"Saya harapkan dari pemerintah Indonesia, khususnya wilayah Gresik dan Bawean, adalah mohon berikan bantuan kapal. Masalah ini tidak hanya terjadi di sini saja; banyak orang di tempat lain yang juga tidak mendapatkan tiket. Mereka ingin kembali ke Gresik tetapi tidak ada kapal. Saya mendengar ada sekitar 15 orang, bahkan berpuluh-puluh orang yang tiketnya hangus," ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menurunkan minat warga Malaysia untuk kembali berkunjung ke Bawean.
"Jika orang dari Malaysia datang ke sini dan mendapati situasi seperti ini, untuk kembali berkunjung kedua kalinya pasti sudah tidak mau lagi. Niat awal kami ingin bersenang-senang, tetapi tiba-tiba terjebak dalam situasi darurat," bebernya.
Selain penumpang, dampak gangguan pelayaran juga mulai dirasakan masyarakat dari sisi ketersediaan kebutuhan pokok. Nia, warga Desa Kumalasa, mengungkapkan bahwa pasokan sejumlah barang mulai terganggu karena tidak adanya kapal yang beroperasi dalam beberapa hari terakhir.
"Tidak ada kapal sekitar tiga harian, telur sudah tidak ada di toko. Saat mau beli katanya tidak ada kapal," ungkapnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gangguan pelayaran akibat cuaca buruk tidak hanya berdampak pada mobilitas penumpang, tetapi juga mulai memengaruhi distribusi kebutuhan pokok ke Pulau Bawean.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan
