Sejarah Desa Lebak Bawean: Dari Kisah Aji Saka hingga Jejak Awal Syiar Islam
![]() |
| Gapura Desa Lebak, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. (Foto: kabarbawean) |
kabarbawean.com - Desa Lebak di Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik, menyimpan berbagai kisah sejarah yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat Pulau Bawean. Desa yang memiliki luas wilayah sekitar 421,400 hektare itu terdiri atas tujuh dusun, yakni Dusun Lebak, Padek, Tanjunganyar, Sungairaya, Buling, Gunungmas, dan Raba.
Di balik bentang alamnya yang subur, Desa Lebak dipercaya menjadi salah satu wilayah penting dalam perjalanan sejarah Bawean, mulai dari kisah legenda yang dikaitkan dengan Aji Saka hingga cerita awal masuknya Islam melalui Syekh Maulana Umar Mas’ud.
Kisah Dora dan Sembada di Tanjunganyar
Salah satu cerita yang berkembang di masyarakat berada di kawasan antara Tanjunganyar dan Tanjung Alang-Alang yang masih termasuk wilayah Desa Lebak. Di lokasi tersebut terdapat dua kuburan panjang yang dipercaya masyarakat sebagai makam Dora dan Sembada, dua tokoh dalam legenda Aji Saka.
Dalam cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Dora dan Sembada merupakan pengikut setia Aji Saka yang sama-sama memegang teguh amanat sang tuan. Keduanya dikisahkan tewas karena mempertahankan perintah yang dipercayakan kepada mereka.
Sebagai bentuk penghormatan atas kesetiaan kedua pengikutnya itu, Aji Saka disebut membuat prasasti pada sebuah batu besar sebagai tanda kenangan sekaligus ungkapan kesedihannya.
Walaupun kisah tersebut lebih banyak hidup melalui tradisi lisan masyarakat, cerita tentang Dora dan Sembada tetap menjadi bagian dari sejarah lokal yang dikenal warga Desa Lebak hingga sekarang.
Selain legenda Aji Saka, Desa Lebak juga dikenal memiliki hubungan erat dengan sejarah awal pemerintahan di Pulau Bawean. Hal itu berkaitan dengan Dusun Sungairaya atau yang dikenal masyarakat sebagai Songairaja.
Menurut cerita masyarakat, Sungairaya pernah dijadikan pusat pemerintahan ketika Maulana Umar Mas’ud memimpin Bawean. Wilayah tersebut dipilih karena dianggap strategis dan menjadi pusat aktivitas masyarakat pada masa itu.
Namun, dalam perkembangan berikutnya pusat pemerintahan kemudian dipindahkan ke wilayah yang kini dikenal sebagai Sangkapura setelah mempertimbangkan berbagai faktor pemerintahan dan letak wilayah.
Meski pusat pemerintahan berpindah, Sungairaya tetap dikenang sebagai salah satu tempat penting dalam sejarah awal Pulau Bawean.
Asal Usul Nama Desa Lebak
Nama Desa Lebak juga memiliki kisah tersendiri yang masih diceritakan masyarakat hingga saat ini.
Berdasarkan penuturan warga, pada masa lalu datang seorang muballigh ke sebuah perkampungan di wilayah tersebut untuk menyebarkan ajaran Islam. Dakwah yang disampaikan diterima dengan baik oleh masyarakat setempat.
Karena merasa gembira, sang muballigh mengucapkan kata “Labbaik” yang dalam bahasa Arab berarti “Saya memenuhi panggilan-Mu”.
Kata tersebut kemudian diikuti masyarakat secara bersama-sama sambil berjalan mengelilingi kampung. Namun karena pengucapan bahasa Arab itu masih terdengar asing, kata “Labbaik” lama-kelamaan berubah menjadi “Labbak”, lalu “Lebbak”, hingga akhirnya dikenal sebagai “Lebak”.
Sejak saat itu, wilayah tersebut disebut Dusun Lebak dan kemudian dijadikan pusat pemerintahan desa dari tujuh dusun yang ada.
Sungairaya dan Awal Syiar Islam di Bawean
Sungairaya atau Songairaja yang mengalir di Desa Lebak hingga bermuara di Kampung Muara, Dusun Tanjunganyar, dipercaya menjadi salah satu saksi awal penyebaran Islam di Pulau Bawean.
Bagi masyarakat setempat, Songai Raja bukan sekadar aliran sungai biasa. Sungai tersebut dianggap memiliki nilai sejarah penting dalam perjalanan dakwah Islam di pulau yang juga dikenal sebagai Pulau Putri itu.
Pada sekitar abad ke-17, Bawean masih berada di bawah pengaruh kepercayaan animisme dan tradisi leluhur. Di kawasan Songai Raja hidup seorang penguasa lokal bernama Raja Babileono yang dikenal sakti dan kuat mempertahankan kepercayaan lama.
Situasi mulai berubah ketika Syekh Maulana Umar Mas’ud, seorang ulama dari tanah Jawa yang diyakini masih memiliki garis keturunan Sunan Ampel, datang ke Bawean untuk menyebarkan Islam.
Syekh Umar Mas’ud memilih menetap di kawasan Songai Raja karena wilayah tersebut dianggap subur dan strategis. Namun kedatangannya disebut tidak diterima dengan baik oleh Raja Babileono yang merasa ajaran baru itu dapat mengancam kekuasaannya.
Menurut cerita masyarakat, Raja Babileono kemudian menantang Syekh Umar Mas’ud untuk adu kesaktian di sekitar hulu Songai Raja.
Dalam kisah yang berkembang, Syekh Umar Mas’ud menghadapi tantangan tersebut dengan penuh ketenangan sambil memohon pertolongan kepada Allah SWT.
Ketika Raja Babileono menyerang menggunakan kerisnya, serangan itu disebut berhasil ditepis hingga keris tersebut berbalik mengenai tubuh sang raja sendiri. Peristiwa itu dipercaya menjadi akhir dari kekuasaan lama di wilayah tersebut.
Masyarakat setempat meyakini jenazah Raja Babileono kemudian dibuang ke laut melalui aliran Songai Raja.
Setelah peristiwa itu, Syekh Maulana Umar Mas’ud dihormati sebagai pemimpin agama sekaligus tokoh yang membawa perubahan besar dalam perkembangan Islam di Pulau Bawean.
Warisan Sejarah yang Masih Dikenang
Walaupun sebagian besar cerita tentang Desa Lebak diwariskan melalui tradisi lisan dan belum banyak tercatat dalam sumber sejarah tertulis, kisah-kisah tersebut tetap hidup dalam ingatan masyarakat hingga sekarang.
Cerita tentang Dora dan Sembada, asal usul nama Lebak, hingga jejak Syekh Maulana Umar Mas’ud di Sungairaya menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Desa Lebak dan Pulau Bawean secara umum.
Bagi masyarakat setempat, sejarah tersebut bukan hanya sekadar cerita masa lalu, tetapi juga warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Umi Oktafiyanah

