Sejarah Desa Kumalasa, Pelabuhan Tertua yang Membentuk Bawean
![]() |
| Pelabuhan Desa Kumalasa dan permukiman warga di Dusun Kumalasa, Desa Kumalasa Sangkapura, Pulau Bawean. (Foto: kabarbawean) |
kabarbawean.com - Pernahkah kamu bertanya, dari mana peradaban Bawean bermula? Kalau menelusuri jejak sejarah Pulau Bawean, nama Desa Kumalasa hampir selalu muncul di halaman pertama.
Desa kecil di Kecamatan Sangkapura ini bukan sekadar permukiman biasa. Kumalasa adalah salah satu wilayah paling bersejarah di Bawean. Di sinilah kapal-kapal kuno pernah berlabuh, para ulama datang membawa cahaya Islam, dan kisah-kisah besar Nusantara dimulai.
Luasnya memang hanya sekitar 2,9 kilometer persegi. Namun jangan salah, peran Kumalasa dalam sejarah Bawean jauh lebih besar daripada ukurannya.
Dari pelabuhan tua, makam tokoh penting, hingga legenda Putri Campa, sejarah Desa Kumalasa menyimpan banyak cerita yang masih hidup hingga sekarang.
Letak Strategis Desa Kumalasa di Pulau Bawean
Secara geografis, Kumalasa berada di bagian barat daya Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Desa ini berbatasan dengan:
- Timur: Desa Lebak
- Utara: Desa Pudakit Barat
- Barat: Desa Suwari
- Selatan: Laut Jawa
Posisi tersebut menjadikan Kumalasa sebagai kawasan yang sangat strategis sejak berabad-abad lalu.
Kapal-kapal dari utara menuju Surabaya, Gresik, hingga pesisir Jawa kerap menjadikan Kumalasa sebagai tempat singgah terakhir sebelum memasuki daratan Jawa.
Pelabuhan Pertama di Pulau Bawean
Sebelum Sangkapura berkembang seperti sekarang, Kumalasa telah lebih dulu dikenal sebagai pelabuhan utama Pulau Bawean.
Pelabuhan ini menjadi pintu masuk bagi pedagang, ulama, bangsawan, hingga pelaut dari berbagai negeri.
Tidak berlebihan jika banyak sejarawan lokal menyebut Kumalasa sebagai gerbang awal peradaban Bawean.
Letaknya yang terlindung dari gelombang besar Laut Jawa membuat kawasan ini aman untuk kapal-kapal layar pada masa lalu.
Asal Usul Nama Kumalasa
Ada pendapat menarik mengenai nama Kumalasa.
Konon, nama ini berasal dari bahasa Arab, yakni "Kamalaisa", yang berarti tidak ada yang menyamainya.
Makna tersebut seolah menggambarkan posisi Kumalasa sebagai desa istimewa yang memiliki peran unik dalam sejarah Pulau Bawean.
Dan memang, hingga hari ini, Kumalasa tetap memiliki karakter yang sulit ditemukan di tempat lain.
Jujuk Campa, Tokoh Legendaris dari Negeri Campa
Salah satu ikon sejarah Desa Kumalasa adalah makam Jujuk Campa.
Masyarakat Bawean mengenalnya sebagai tokoh agung yang berasal dari Kerajaan Campa, wilayah yang kini menjadi bagian dari Kamboja.
Nama aslinya diyakini adalah Sayyid Rafi'uddin.
Beliau datang ke Jawa bersama rombongan keluarga kerajaan Campa. Namun, takdir berkata lain.
Saat singgah di Kumalasa, salah seorang putri dalam rombongan jatuh sakit.
Akhirnya, Jujuk Campa memutuskan menetap di Bawean untuk merawat sang putri.
Makam Putri Bawean dan Dewi Condrowulan
Putri yang wafat di Kumalasa dikenal masyarakat sebagai Putri Bawean atau Embah Potre.
Sebagian ulama dan peneliti, termasuk Dr. KH. Dhiyauddin Quswandhi, meyakini bahwa beliau adalah Dewi Condrowulan, putri Raja Campa.
Beliau juga disebut sebagai ibunda dari Sunan Ampel.
Jika benar demikian, maka Kumalasa memiliki hubungan langsung dengan sejarah Wali Songo.
Sebuah fakta yang luar biasa.
Hubungan Kumalasa dengan Sunan Ampel dan Raden Fatah
Sejarah Desa Kumalasa tidak bisa dilepaskan dari perjalanan tokoh besar Nusantara.
Raden Rahmat, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel, memiliki garis keturunan Campa.
Begitu pula Raden Fatah, pendiri Kesultanan Demak.
Tradisi lisan menyebutkan, rombongan keluarga Campa pernah singgah di Kumalasa saat menuju Pulau Jawa.
Dari sinilah benang merah sejarah Bawean terhubung dengan sejarah Islam di tanah Jawa.
Makam Jujuk Campa Menjadi Destinasi Ziarah
Hingga kini, makam Jujuk Campa masih ramai diziarahi.
Lokasinya berada sekitar 4 kilometer dari Pelabuhan Sangkapura dan mudah dijangkau kendaraan.
Banyak peziarah datang dari Bawean maupun luar pulau.
Sebagian datang untuk berdoa, sebagian lainnya ingin menelusuri jejak sejarah Islam di Bawean.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa sejarah Desa Kumalasa tetap hidup di tengah masyarakat.
Desa dengan Empat Dusun yang Kaya Budaya
Kumalasa terdiri dari empat dusun, yaitu dusun sawahrujing, kumalabaru, kumalasa dan tajungkima.
Masing-masing memiliki karakter sosial dan budaya yang khas.
Penduduknya berjumlah lebih dari 2.000 jiwa dan mayoritas memegang teguh nilai-nilai Islam.
Kehidupan masyarakat masih sangat kental dengan tradisi gotong royong, budaya ziarah, serta penghormatan kepada leluhur.
Tokoh-Tokoh Penting yang Pernah Berlabuh di Kumalasa
Selain Jujuk Campa, sejumlah tokoh penting diyakini pernah singgah di Kumalasa, antara lain:
- Pangeran Ubaidillah
- Pangeran Panembahan
- Waliyah Zainab
- Mbah Subuh
Hal ini memperkuat posisi Kumalasa sebagai titik awal masuknya pengaruh Islam ke Pulau Bawean.
Kumalasa dalam Perkembangan Islam di Nusantara
Kalau ditarik lebih luas, Kumalasa memiliki kontribusi besar dalam jaringan dakwah Islam Nusantara.
Pelabuhan ini menjadi jalur transit penting antara Campa, Jawa, dan wilayah timur Nusantara.
Melalui Kumalasa, nilai-nilai Islam menyebar ke Bawean dan kemudian berkembang pesat.
Inilah yang membuat Kumalasa begitu istimewa.
Wisata Sejarah dan Religi di Kumalasa
Saat berkunjung ke Kumalasa, ada beberapa lokasi bersejarah yang wajib kamu datangi:
- Makam Jujuk Campa
- Makam Putri Bawean
- Kawasan pelabuhan lama
- Situs-situs peninggalan kuno
Wisata di sini bukan hanya soal pemandangan, tetapi juga perjalanan menelusuri akar sejarah.
Sejarah Desa Kumalasa adalah kisah tentang pelabuhan, peradaban, dan penyebaran Islam di Pulau Bawean.
Dari desa kecil seluas 2,9 kilometer persegi, lahir jejak besar yang menghubungkan Bawean dengan Campa, Majapahit, hingga Kesultanan Demak. Kumalasa bukan sekadar nama di peta.
Ia adalah gerbang sejarah, pintu masuk para ulama, dan saksi perjalanan tokoh-tokoh besar Nusantara.
Memahami sejarah Kumalasa berarti memahami salah satu fondasi penting terbentuknya identitas Bawean.
FAQ
Apa itu Desa Kumalasa?
Desa Kumalasa adalah salah satu desa tertua di Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, yang dikenal sebagai pelabuhan bersejarah.
Mengapa Kumalasa disebut pelabuhan pertama Bawean?
Karena sejak zaman dahulu, Kumalasa menjadi titik singgah utama kapal-kapal yang datang ke Pulau Bawean.
Siapa Jujuk Campa?
Jujuk Campa adalah tokoh yang diyakini berasal dari Kerajaan Campa dan dimakamkan di Kumalasa.
Apakah benar Putri Bawean adalah Dewi Condrowulan?
Menurut sejumlah peneliti dan ulama, Putri Bawean diyakini sebagai Dewi Condrowulan, putri Raja Campa.
Di mana lokasi makam Jujuk Campa?
Makam Jujuk Campa berada di Desa Kumalasa, sekitar 4 kilometer dari Pelabuhan Sangkapura.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Umi Oktafiyanah

