Pudakit Barat dan Pudakit Timur: Antara Pohon, Sungai, dan Ingatan Kampung
![]() |
| Gapura pintu masuk Desa Pudakit Barat, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, yang menjadi penanda wilayah desa setempat. (Foto: kabarbawean.com) |
kabarbawean.com - Asal-usul nama Pudakit Barat dan Pudakit Timur di Pulau Bawean hingga kini masih hidup dalam cerita tutur masyarakat setempat.
Di tengah berkembangnya berbagai tafsir mengenai nama Pudakit, warga masih mengenal kisah lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Cerita tersebut juga pernah disampaikan Kepala Desa Pudakit Barat, Tobron.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, nama Pudakit berkaitan dengan keberadaan sebuah pohon mangga unik bernama Pellem Pao Rangkek atau mangga kembar tunggal. Pohon itu konon tumbuh di tepi sungai dengan dua batang utama yang tampak menyatu dalam satu akar.
Dalam suatu peristiwa, satu bagian pohon disebut roboh ke arah barat, sementara bagian lainnya condong ke arah timur. Dari kejadian itu masyarakat kemudian menyebut kawasan tersebut sebagai Paodakek Berak dan Paodekek Temor. Seiring perkembangan bahasa masyarakat setempat, penyebutan itu berubah menjadi Pudakit Barat dan Pudakit Timur.
“Menurut cerita orang tua dulu, pohon mangga itu memiliki dua batang yang menyatu. Satu roboh ke arah barat dan satunya ke arah timur,” ujar Tobron.
Ia mengatakan kisah tersebut hingga kini masih dikenal masyarakat sebagai bagian dari sejarah lisan kampung.
Salah seorang warga, Sakdul, menyebut penamaan kampung pada masa lalu memang sering berkaitan dengan kondisi alam maupun peristiwa tertentu yang terjadi di suatu wilayah.
“Dulu orang memberi nama kampung itu sederhana, biasanya diambil dari pohon, sungai, atau kejadian yang mudah diingat masyarakat,” ujar Sakdul, Sabtu (16/5/2026).
Cerita asal-usul nama kampung semacam itu banyak ditemukan di berbagai daerah, termasuk di Pulau Bawean. Meski belum memiliki bukti tertulis atau kajian ilmiah, kisah tersebut tetap diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas masyarakat setempat.
Bagi warga, cerita tentang Pellem Pao Rangkek bukan sekadar dongeng, tetapi juga menjadi pengingat tentang hubungan masyarakat dengan alam dan sejarah kampungnya sendiri.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan

