Tiket Online KMP Giliyang Dikeluhkan Warga Bawean, Kuota Kerap Kosong dalam Hitungan Menit
![]() |
| Calon penumpang KMP Gili Iyang mengantre di depan loket cetak tiket di Pelabuhan Bawean sebelum menyeberang. (Foto:kabarbawean) |
kabarbawean.com - Sistem pembelian tiket online kapal KMP Giliyang kembali dikeluhkan masyarakat Bawean. Warga mengaku kesulitan mendapatkan tiket karena kuota sering kali sudah habis dalam waktu singkat sejak dibuka.
Keluhan tersebut disampaikan Haikal Abrar, alumni Fakultas Hukum Universitas Airlangga sekaligus mantan aktivis Ikatan Mahasiswa Bawean Surabaya (IMBAS), saat diwawancarai, Selasa (14/4/2026).
Haikal mengaku kesulitan saat hendak memesan tiket untuk ayahnya yang akan berangkat malam ini. Ia telah bersiap sejak informasi pembukaan tiket pukul 09.00 WIB yang beredar di grup WhatsApp.
“Saya sudah bersiap sebelum pukul 09.00 WIB dan melakukan pengecekan secara berkala, tetapi kuota tetap kosong. Saya juga sempat mengonfirmasi ke petugas, namun belum mendapat jawaban,” ujarnya.
Ia kemudian menghubungi Slamet, supervisi KMP Giliyang di Bawean, dan mendapat jawaban bahwa tiket sudah habis hanya berselang sekitar 10 menit sejak dibuka.
“Sekitar pukul 09.10 WIB saya mendapat informasi bahwa tiket sudah habis dari Pak Slamet, supervisi KMP Giliyang di Bawean, dan diarahkan untuk mengikuti keberangkatan berikutnya,” kata Haikal.
Namun, ia mengaku mendapat respons berbeda saat menghubungi seorang petugas perhubungan di Bawean. Sekitar pukul 09.30 WIB, ia diminta mengirimkan nama penumpang dan melakukan transfer sebesar Rp110 ribu.
“Saya diminta mengirimkan nama dan melakukan transfer Rp110 ribu. Dari situ saya mengetahui tiket bisa dipastikan tersedia, sementara saat saya cek di sistem kuota selalu kosong,” ungkapnya.
Haikal bahkan menyebut praktik tersebut menyerupai percaloan, meskipun yang bersangkutan merupakan oknum petugas pemerintah. Ia juga memastikan nama ayahnya benar terdaftar setelah dikonfirmasi ke petugas ASDP.
Ia berharap sistem tiket online KMP Giliyang segera dibenahi agar lebih transparan dan adil bagi masyarakat.
“Kasihan masyarakat kecil. Ini kapal milik BUMN, seharusnya pelayanannya lebih baik. Kejadian seperti ini sudah berulang,” tegasnya.
Sementara itu, petugas ASDP Bawean, Yanto, menjelaskan bahwa tiket dibuka secara online setiap pukul 09.00 WIB tanpa batas waktu penutupan selama kuota masih tersedia.
“Iya, tiket dibuka pukul 09.00 WIB. Bisa diakses selama masih ada, dengan batas satu jam sebelum keberangkatan,” jelasnya.
Ia mengungkapkan total kuota penumpang KMP Giliyang adalah 196 orang setiap pemberangkatan.
“Kuota penumpang setiap pemberangkatan 196 jiwa,” ujarnya.
Ia menjelaskan sistem tiket online tidak serta-merta menampilkan kuota secara langsung saat dibuka karena masih dalam proses.
“Kalau dibuka pukul 09.00 WIB itu tidak langsung muncul, masih proses. Jadi kami sering mengimbau pengguna untuk cek berkala,” paparnya.
Yanto juga menjelaskan bahwa perubahan kuota bisa terjadi karena adanya pembatalan tiket oleh calon penumpang, namun tiket tersebut tidak langsung muncul kembali di sistem.
“Kadang ada yang sudah beli lalu dibatalkan, tetapi kuotanya baru muncul lagi setelah 5 sampai 20 menit. Jadi memang harus sering dicek,” tambahnya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, oknum petugas perhubungan yang disebut dalam wawancara membenarkan adanya pemesanan tiket atas nama yang dimaksud.
“Iya, benar ada nama tersebut yang pesan ke saya,” ujarnya singkat.
Kasus ini kembali menyoroti pentingnya transparansi dan perbaikan sistem tiket online, khususnya untuk transportasi laut yang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat Bawean.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan

