BREAKING NEWS

Pasar Rakyat dan Festival Budaya Bawean Resmi Dibuka, Diawali Santunan Anak Yatim

Doa bersama dan santunan kepada anak yatim mengawali pembukaan Pasar Rakyat dan Festival Budaya Bawean di Lapangan Nagasari, Kecamatan Sangkapura, Jumat Sore. (Foto:kabarbawean)

kabarbawean.com - Kegiatan Pasar Rakyat dan Festival Budaya Bawean resmi dibuka pada Jumat (3/4/2026) di Lapangan Nagasari, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Acara ini akan berlangsung hingga 19 April 2026, mulai pukul 15.30 hingga 22.00 WIB setiap harinya.

Pembukaan kegiatan diawali dengan doa bersama serta santunan kepada 28 anak yatim yang berasal dari tiga desa, yakni Sungairujing, Kotakusuma, dan Sungaiteluk. Doa tersebut dipimpin oleh Ketua MUI Kecamatan Sangkapura, Ustaz Mashudi.

Penanggung jawab kegiatan pasar rakyat, Iwan, menjelaskan bahwa kegiatan ini melibatkan puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), baik dari Bawean maupun dari luar daerah.

“Sementara UMKM dari Bawean ada 6 saat ini karena kadang nanti saat berjalan 2 atau 3 hari nambah lagi, untuk dari Jawa UMKM ada 35 UMKM,” ujarnya.

Selain bazar UMKM, pasar rakyat juga menghadirkan berbagai wahana permainan untuk masyarakat.

“Permainan di pasar rakyat ini ada 8 wahana permainan, setiap permainan tiketnya Rp10 ribu kecuali tong itu Rp15 ribu,” tambahnya.

Untuk biaya lapak, Iwan menyebut terdapat perbedaan perlakuan antara pelaku usaha dari luar daerah dan UMKM lokal.

“Untuk lapak yang dari Jawa dikenakan biaya Rp1.750.000. Kalau dari UMKM orang Bawean itu harganya beda melihat dagangannya di lapangan, ada kebijakan jika pendapatannya kurang maksimal ada kompensasi semampu mereka,” jelasnya.

Sementara itu, UMKM Bawean yang menggunakan lapak mandiri hanya dikenakan biaya sekitar Rp350 ribu.

Adapun tiket masuk ke area pasar rakyat dipatok sebesar Rp3.000. Namun, harga tersebut dapat berubah menjadi sekitar Rp5.000 saat digelar pertunjukan atau festival tertentu.

Iwan menambahkan bahwa kegiatan ini telah berlangsung sebanyak lima kali di Bawean dan terus mendapat antusiasme masyarakat.

Di sisi lain, Festival Budaya Bawean yang menjadi bagian dari rangkaian acara akan difokuskan pada lomba seni tradisional Zamrah Bawean. Penanggung jawab festival, Badrul Hisyam, mengungkapkan bahwa pelaksanaan lomba masih menyesuaikan kondisi di lapangan.

“Untuk festival budaya Bawean fokus ke Zamrah dalam lomba rencananya tanggal 12 April tapi melihat kondisi nanti di lapangan,” ujarnya Hesyam sapaan akrabnya.

Ia juga menyebutkan bahwa jika jumlah peserta belum memenuhi target, panitia akan mengisi kegiatan dengan hiburan alternatif.

“Untuk malam Sabtu Minggunya akan diisi yang lain seperti gerempang atau nyanyian dangdutan dari orang Bawean ataupun band, lihat kondisi nanti,” tambahnya.

Dari sisi pelaku UMKM, respons beragam disampaikan terkait biaya lapak dan potensi pendapatan selama kegiatan berlangsung.

Safinah, salah satu pelaku UMKM Bawean, mengaku cukup terbantu dengan sistem biaya yang fleksibel.

“Kalau sepi saya bayar 300, kalau rame 500, selama ikut di kegiatan Alhamdulillah dapat banyak,” ujarnya.

Namun, ada pula pelaku usaha yang menilai biaya lapak cukup tinggi.

“Harga lapak itu Rp1.750.000, saya sudah DP Rp500 ribu, kalau menurut saya lumayan mahal bagi saya dan saya berharap ada pengurangan maksimal 750,000 an,” kata Halimah.

Sementara itu, Alex, pelaku UMKM asal Pudakit Timur, menilai kegiatan ini tetap memberikan peluang keuntungan.

“Biaya lapak yang saya ketahui ini Rp1.700.000, namun karena ini event besar incomenya worth it juga bagi saya. Saya berharap tidak hujan dan lancar,” ujarnya.

Kegiatan Pasar Rakyat dan Festival Budaya Bawean diharapkan tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal serta melestarikan budaya daerah di Pulau Bawean.

Editor: Ahmad Faiz                    Reporter: Saiful Hasan