BREAKING NEWS

Menantang Api Neraka: Ketika Manusia Mengabaikan Peringatan yang Nyata

Gambar Ilustrasi

kabarbawean.com - Al-Qur’an tidak pernah kekurangan cara untuk memperingatkan manusia. Salah satunya dengan nada yang nyaris retoris bahkan terasa menyindir.

فَمَآ أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ

“... Maka alangkah beraninya mereka menantang api neraka.”

(QS. Al-Baqarah: 175)

Ayat ini seperti pertanyaan yang tidak butuh jawaban. Mengapa manusia begitu berani? Atau lebih tepatnya mengapa mereka seolah tidak peduli?

Dalam bayangan manusia, api adalah sesuatu yang menyakitkan. Cukup tersentuh sedikit saja, kulit bisa melepuh. Api kompor, setrika, atau percikan minyak panas sudah cukup membuat orang refleks menarik diri.

Namun, gambaran api neraka jauh melampaui itu.

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ؛ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ: ﺃﺗﺮﻭﻧﻬﺎ ﺣﻤﺮاء ﻛﻨﺎﺭﻛﻢ ﻫﺬﻩ؟ ﻟﻬﻲ ﺃﺳﻮﺩ ﻣﻦ اﻟﻘﺎﺭ. ﻭاﻟﻘﺎﺭ اﻟﺰﻓﺖ

“Apakah kalian mengira api neraka itu merah seperti api di dunia? Tidak, ia lebih hitam daripada ter (aspal yang belum tercampuri debu).”

(HR. Malik)

Hitam. Gelap. Bukan merah menyala seperti yang biasa dilihat. Dalam riwayat lain, api itu “dipanaskan” berlapis-lapis:

ﺇﻥ اﻟﻠﻪ ﺃﻣﺮ ﺑﻬﺎ ﻓﺄﻭﻗﺪﺕ ﺃﻟﻒ ﻋﺎﻡ ﺣﺘﻰ اﺣﻤﺮﺕ، ﺛﻢ ﺃﻭﻗﺪ عليها ﺃﻟﻒ ﻋﺎﻡ ﺣﺘﻰ اصفرت، ﺛﻢ ﺃﻭﻗﺪ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻟﻒ ﻋﺎﻡ ﺣﺘﻰ اﺳﻮﺩﺕ . ﻓﻬﻲ ﺳﻮﺩاء ﻣﻈﻠﻤﺔ ﻻ ﻳﻀﺊ ﻟﻬﺒﻬﺎ ﻭﻻ ﺟﻤﺮﻫﺎ

“Api neraka dinyalakan seribu tahun hingga merah, lalu seribu tahun hingga putih, lalu seribu tahun hingga hitam...”

(HR. Abu Nu’aim dan Ath-Thabarani)

Seolah ada proses panjang menuju puncak panas dan puncaknya justru gelap.

Di dunia, manusia mengenal api dengan suhu tinggi. Api las bisa mencapai sekitar 3.000°C, cukup untuk melelehkan logam. Matahari bahkan memiliki panas jutaan derajat, namun tetap terasa dari jarak yang sangat jauh.

Namun, semua itu belum seberapa.

قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : نَارُكُمْ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ

“Api kalian di dunia ini hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian api neraka Jahannam.”

(HR. Bukhari)

Perbandingan itu sederhana, tapi menghentak. Apa yang dianggap panas di dunia, ternyata hanya serpihan kecil.

Yang lebih sulit dibayangkan justru bukan panasnya melainkan keberlangsungannya.

Di neraka, kematian tidak lagi ada.

يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَحَ ...

“Maut didatangkan... lalu disembelih... kemudian dikatakan: kalian kekal dan tidak ada kematian lagi.”

(HR. Bukhari)

Artinya, tidak ada akhir. Tidak ada jeda.

Al-Qur’an menggambarkan siklus yang terus berulang:

كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُم بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ

“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain...”

(QS. An-Nisa: 56)

Hangus. Diganti. Hangus lagi. Begitu seterusnya.

Tidak berhenti.

Bahkan bahan bakarnya bukan sekadar benda mati:

وقودها الناس والحجارة

“Bahan bakarnya manusia dan batu.”

(QS. Al-Baqarah: 24)

Di titik itu, yang tersisa hanyalah penyesalan:

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا

“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan beramal saleh...”

(QS. Fathir: 37)

Namun, permintaan itu datang setelah semua pintu tertutup.

Tulisan ini bukan sekadar uraian tentang neraka. Ia adalah peringatan yang sudah disampaikan berulang kali namun sering terasa jauh, seolah tidak relevan dengan kehidupan hari ini.

Padahal pertanyaannya tetap sama, dan sederhana:

Jika api kecil saja tidak sanggup disentuh, mengapa manusia masih berani hidup seolah tidak akan pernah berhadapan dengan api neraka?

Editor: Ahmad Faiz                Reporter: Abd. Rauf