Dajjal dan Wajah Kekuasaan Global, Ketika Ilusi Menjadi Sistem
![]() |
| Gambar Ilustrasi |
kabarbawean.com - Dalam khazanah Islam, Dajjal bukan sekadar sosok akhir zaman, melainkan simbol besar dari penipuan yang sistematis, kekuatan yang membungkus kebatilan dengan kemajuan, dan menutupi kebenaran dengan ilusi kesejahteraan. Dalam perspektif ini, Dajjal tidak selalu harus dipahami sebagai individu tunggal, tetapi juga sebagai sistem, kekuatan, atau peradaban yang menjauhkan manusia dari nilai ketuhanan.
Al-Qur’an sejak awal telah memperingatkan pola tersebut. Dalam Surah Al-Kahfi, Allah menegaskan bahaya kebohongan yang dilegitimasi menjadi kebenaran:
وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا. مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا
“Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata Allah mengambil seorang anak. Mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu mereka hanya mengatakan kebohongan semata.” (QS. Al-Kahfi: 4-5)
Ayat ini menyingkap satu pola mendasar, kebohongan tidak selalu datang sebagai kebohongan. Ia datang sebagai narasi yang diulang, diperkuat, dan akhirnya dipercaya.
Sejarah membuktikan itu. Fir’aun tidak sekadar zalim, ia mengendalikan persepsi. Qarun tidak hanya kaya, ia memoles keserakahan menjadi simbol keberhasilan. Samiri tidak sekadar menyesatkan, ia memahami cara kerja massa.
Kini, pola yang sama muncul dalam wajah yang lebih modern dan kompleks. Kekuasaan global tidak lagi hanya berbentuk kerajaan, tetapi jaringan politik, ekonomi, dan media yang saling terhubung. Dalam konteks ini, kebijakan luar negeri negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Israel kerap menuai kritik tajam, terutama terkait konflik berkepanjangan, standar ganda terhadap kemanusiaan, dan dominasi informasi global.
Di satu sisi, mereka berbicara tentang demokrasi, kebebasan, dan hak asasi manusia. Namun di sisi lain, dunia menyaksikan penderitaan yang terus berlangsung di berbagai wilayah konflik. Narasi tentang keadilan sering kali berbenturan dengan realitas di lapangan. Di titik ini, muncul pertanyaan yang tidak nyaman: apakah ini wajah keadilan, atau justru bentuk lain dari ilusi yang dikemas secara sistematis?
Dalam kacamata opini kritis, kondisi ini mencerminkan apa yang dapat disebut sebagai sifat-sifat dajjal: manipulasi realitas, pengaburan kebenaran, dan pengalihan fokus manusia dari nilai spiritual menuju kepentingan duniawi semata. Ketika media mampu membentuk persepsi global, ketika kekuatan ekonomi menentukan arah politik, dan ketika kebenaran bergantung pada siapa yang menguasai narasi maka fitnah zaman tidak lagi abstrak, melainkan nyata.
Namun Al-Qur’an juga tidak meninggalkan manusia tanpa arah. Kisah Ashabul Kahfi dalam Surah Al-Kahfi menjadi simbol perlawanan terhadap sistem yang menyesatkan. Mereka bukan mayoritas, bukan pemegang kekuasaan, tetapi mereka memiliki satu hal yang tidak dimiliki oleh sistem yang menindas yakni keimanan yang teguh.
Pesannya jelas kebenaran tidak selalu berada di pihak yang kuat, dan kekuatan tidak selalu identik dengan kebenaran.
Di tengah derasnya arus informasi dan dominasi global, umat manusia dihadapkan pada ujian yang semakin halus. Bukan lagi sekadar memilih antara benar dan salah yang jelas, tetapi membedakan antara kebenaran dan kebohongan yang telah disamarkan.
Sebagaimana doa yang diajarkan Nabi, kesadaran akan bahaya ini menjadi bagian dari perlindungan spiritual:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
Pada akhirnya, Dajjal bukan hanya ancaman yang akan datang. Ia sudah bekerja dalam sistem yang memoles kebatilan, dalam media yang mengaburkan fakta, dan dalam pikiran manusia yang perlahan kehilangan kemampuan untuk membedakan antara kebenaran dan narasi.
Pertanyaannya bukan lagi kapan Dajjal datang? Tetapi, sejauh mana kita sudah hidup di dalam logikanya.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Abd. Rauf

