BREAKING NEWS

Akses Sulit, Tiket Mudik Gratis Kapal Express Bahari di Bawean Gresik Kurang Dimanfaatkan Masyarakat

Sejumlah calon penumpang kapal cepat Express Bahari antre di loket cetak tiket Terminal Pelabuhan Bawean (Foto: kabarbawean)

kabarbawean.com - Program mudik gratis yang dikakukan oleh Kementrian Perhubungan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Dirjen Hubla), dinilai kurang dimanfaatkan oleh masyarakat Pulau Bawean.

Hal tersebut, disebabkan banyak pemesanan fiktif,  alias menggunakan jasa. Selain itu, juga ditemukan penolakan sistem lantaran tidak memenuhi persyaratan. Serta kurangnya transparasi kouta tiket yang ada.

Urfiyanah salah satu mahasiswa Pulau Bawean, mengaku tidak bisa menggunakan kouta tiket mudik gratis. Bilangnya ditolak oleh sistem saat H-1 keberangkatan. Padahal, ia punya kode booking dan barcode.

"Tidak ada pemberitahuan,  saat hari ke H ke pelabuhan , ingin mencetak tiket tidak bisa, katanya ditolak. Akhirnya saya pun ikut kapal lainnya," ungkapnya, Selasa (31/3/2026).

Begitu juga dialami oleh Multazam, ia mengaku kesulitan mendapatkan kouta tiket mudik gratis, yang akhirnya membeli tiket reguler.

Menurut dia, ada dugaan campur tangan dari petugas operator tiket. Pasalnya,  saat keberangkatan banyak kursi kosong dan tidak ada penumpang. Padahal, setelah hampir dua jaman sejak tiket mudik gratis dibuka sejak tanggal 7 Maret. Dua jam setelah war tiket, kouta tiket habis. Tapi saat pelaksanaan, banyak tiket yang tidak digunakan. 

"Mungkin operator saat ada kekosongan tiket, bisa diumumkan ke publik, H-2 atay H-1 keberangkatan, " jelasnya. 

"Sertakan juga agen resmi untuk pemesanan tiket, kalau memang ada. Percuma, masyarakat diimbau untuk membeli di aplikasi,  tapi sudah habis. Tapi minta ke jasa orang masih ada," paparnya. 

Fenomena tersebut, salah satu pemicu kurangnya minat masyarakat untuk program ini. Beberapa masyarakat beralih ke Kapal Ferry, namun penambahan kapasitas dari 196 kouta penumpang,  belum mendapatkan persetujuan dari otoritas Pelabuhan . Sehingga, banyak masyarakat tidak kebagian tiket karena kouta terbatas. Kapal roro KMP Gili Iyang tersebut, juga dua kali lipat dari kapal cepat Express Bahari. Harganya 70 ribu, tambah biaya pas Pelabuhan. Sedangkan Express Bahari Rp 200 ribu untuk kelas Eksekutif,  dan Rp 250 ribu untuk kelas VIP.

Sementara itu,Kepala Cabang Express Bahari Gresik, Reven Syah Putra, menyampaikam bahwa banyak masyarakat yang tidak sesuai persyaratan. Sehingga gagal melakukan mudik gratis. 

"Kebanyakan calon penumpang tidak sesuai identitas, maka otomatis ditolak sistem. Ada juga tiket sudah dibooking, tapi tidak digunakan. Banyak calon penumpang fiktif, alias bukan orang yang benar-benar ingin berlayar," ungkapnya. 

Di sisi lain, salah satu warga Bawean Moh Firman, menyebut pengguna jasa transportasi laut Paciran-Bawean / Bawean-Gresik PP semakin hari semakin meningkat.

"Sudah saatnya ada pengajuan kapal lain yang lebih besar saat masa mudik lebaran,"ujarnya. 

Bayangkan, lanjut dia  begitu besarnya antusias warga Bawean yang  mudik ke kampung halaman, kemudian saat harus kembali bekerja di daratan Jawa atau luar negeri,  mereka harus war tiket (berperang untuk dapat tiket) sesawa pemudik agar mendapatkan tiket balik. 

"Padahal jauh-jauh haripun mereka sudah mempersiapkan diri untuk mendapatkan tiket Akan tetapi mungkin memang karena kuota dan jumlah pemudik tidak sepadan, sehingga mengakibatkan penumpukan penumpang," bebernya. 

Dari data posko Pelabuhan Gresik, dari 3.800 Kouta tiket mudik gratis 1.900 untuk arus mudik dari Gresik-Bawean  yang terpakai 1803. Sedangkan  1.900 Untuk arus balik yang terpakai hanya 1473 hingga per tanggal 30 Maret 2026.

Editor: Ahmad Faiz                        Reporter: Saiful Hasan