11 Madrasah di Bawean Gresik Dapat Rehabilitasi dan Renovasi PHTC Rp22,8 Miliar dari APBN 2025
kabarbawean.com - Sebanyak 11 madrasah di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, mendapatkan program rehabilitasi dan renovasi melalui skema Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Madrasah dengan total anggaran Rp22.877.836.000 dari APBN 2025.
Program PHTC Madrasah merupakan inisiatif pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Kementerian Agama untuk memperbaiki bangunan madrasah yang mengalami kerusakan sedang hingga berat.
Proyek ini berada di bawah Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Jawa Timur, dengan nomor kontrak 681/SPK/Gs19.2/2025 tertanggal 29 Desember 2025, serta masa pelaksanaan tahun anggaran 2025-2026. Adapun pelaksana proyek adalah PT Cipta Adhi Guna, dengan pengawasan oleh PT Saranabudi Prakarsaripta KSO PT Transima Citra Indo Consultant.
Sebanyak 11 madrasah dari berbagai jenjang menjadi penerima manfaat program ini, meliputi Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA). Di antaranya MIS Minu 32 Sumber Lanas, MIS Minu 34 Asyik Mukri, MIS Minu 24 Darussalam, MIS Minu 42 Mambaul Ulum, MIS Minu 38 Kepuh Teluk, MTSS Ruhul Amin, MTSS Miftahul Huda, MTSS Miftahul Ulum, MTSS Penaber, MAS Mambaul Falah, dan MAS Miftahul Huda.
Namun demikian, berdasarkan pantauan di lapangan, papan informasi proyek yang bersifat global hanya ditemukan terpasang di satu titik, yakni di MAS Mambaul Falah, Desa Sukaoneng, Kecamatan Tambak. Sementara di sepuluh lokasi lainnya tidak terlihat adanya papan informasi serupa.
Menanggapi hal tersebut, pelaksana lapangan PHTC Bawean, Qufal, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan satu paket pekerjaan meskipun tersebar di beberapa lokasi.
“Papan informasinya kan memang hanya ada satu di Mambaul Falah karena program ini kan sesungguhnya lelang nominalnya satu, hanya pekerjaannya di sebelas titik, bisa dilihat di LPSE. Anggaran di setiap sekolah saya kurang tahu. Untuk pekerjaan proyek ini 360 hari,” ujarnya saat dihubungi via telepon, Minggu (5/4/2026).
Sementara itu, pihak madrasah mengaku tidak mengetahui secara rinci besaran anggaran yang dialokasikan di masing-masing lokasi.
“Untuk anggaran di madrasah tidak tahu, hanya menerima kunci,” ujar Arif Dzurkarnain, pengurus Ponpes Miftahul Ulum.
Hal senada disampaikan Kepala MTsS Penaber, Ahmadi.
“Kita tidak tahu berapa anggaran, hanya cukup tahu pembangunan selesai. Harapan saya anggaran ini bisa lebih transparan,” ungkapnya.
Di sisi lain, proses awal pengerjaan proyek disebut telah melalui tahapan survei lapangan.
“Survei ke sini dua kali, survei kerusakan bangunan dan survei tanah,” kata Badruz Zaini, pengurus Ponpes Penaber.
Dalam pelaksanaannya, proyek ini dibagi ke beberapa tim. Salah satu pelaksana, Agus Zuhdi atau Dindin, menyebut dirinya menangani empat titik pekerjaan.
“Saya menjadi tim pelaksana di empat titik yakni MAS Mambaul Falah, MIS Minu 42 Mambaul Ulum Kelompang Gubuk, MIS Minu 32 Sumber Lanas, MTSS Penaber. Selebihnya yakni Pak Qufal enam titik, dan Pak Heru satu titik. Untuk kontrak sudah berjalan sekitar tiga bulan, kalau pelaksanaannya sekitar satu bulan sepuluh hari,” jelasnya.
Dari sisi tenaga kerja, proyek ini melibatkan pekerja lokal.
“Di sini ada lima pekerja, pekerjaan ini kurang lebih satu bulan. Untuk gaji beda-beda, tukang Rp120 ribu, pembantu Rp100 ribu. Hanya dikasih jajanan dan air, tidak dikasih rokok maupun nasi, kalau gaji lancar tidak nunggak,” ujar Habib Abdullah, pekerja di MIS Minu 32 Sumber Lanas.
Pernyataan serupa juga disampaikan Hatman, pekerja di MTSS Penaber, yang menyebut jumlah pekerja dan sistem upah relatif sama.
Program rehabilitasi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas sarana pendidikan di Bawean. Namun, aspek transparansi informasi dan distribusi anggaran masih menjadi perhatian sejumlah pihak di tingkat madrasah.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan


