Sosper DPRD Gresik di Sangkapura Bawean Soroti Kenakalan Remaja Anak Pekerja Migran
![]() |
| Umar Junid Camat Sangkapura Bawean Saat menjadi narasumber Sosper DPRD Gresik Tahap 1 2026 di posko DPAC PKB Sangkapura (Foto:kabarbawean) |
kabarbawean.com - Persoalan kenakalan remaja dan dampak sosial dari pekerja migran menjadi sorotan dalam kegiatan Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan (Sosper) DPRD Gresik Tahap I Tahun 2026 yang digelar oleh anggota DPRD Gresik, Bustami Hazim, S.E., dari Fraksi PKB.
Kegiatan tersebut berlangsung di Posko DPAC PKB Sangkapura, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, pada Minggu, 15 Maret 2026. Sekitar 80 peserta dari 17 desa se-Kecamatan Sangkapura turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Dalam sosialisasi tersebut, Camat Sangkapura Umar Junid hadir sebagai narasumber utama. Ia memaparkan berbagai persoalan sosial yang saat ini menjadi perhatian di wilayah Bawean, khususnya terkait meningkatnya kenakalan remaja.
Menurut Umar Junid, fenomena kenakalan remaja di Bawean saat ini cukup memprihatinkan. Salah satu faktor yang memicu persoalan tersebut adalah banyaknya anak yang ditinggal orang tuanya bekerja ke luar negeri sebagai pekerja migran.
“Kenakalan remaja saat ini sangat memprihatinkan. Banyak kasus terjadi karena orang tuanya bekerja di luar negeri sehingga pengawasan terhadap anak menjadi kurang,” ujarnya di hadapan peserta sosialisasi.
Ia berharap adanya kerja sama dari berbagai pihak, terutama masyarakat dan pemerintah desa, untuk bersama-sama mengawasi dan membina generasi muda di lingkungan masing-masing.
“Saya berharap ada kerja sama dari bapak-bapak dan ibu-ibu semua dalam menangani dan menanggulangi kenakalan remaja ini,” tambahnya.
Umar Junid juga meminta pemerintah desa hingga kepala dusun untuk lebih memperhatikan kondisi warganya, terutama anak-anak yang ditinggal orang tuanya bekerja di luar negeri.
Ia mengungkapkan telah meminta pihak desa untuk melakukan pendataan terhadap warga yang bekerja sebagai pekerja migran serta jumlah anak yang ditinggalkan di desa.
“Desa harus mendata berapa warga yang bekerja migran dan berapa anak yang mereka tinggalkan. Anak-anak ini harus kita awasi bersama dan dimonitor perkembangannya. Ini juga merupakan bagian dari program pemerintah kabupaten untuk melindungi anak-anak pekerja migran,” jelasnya.
Kegiatan sosialisasi tersebut juga diwarnai dengan sesi tanya jawab yang cukup dinamis. Salah satu pertanyaan menarik disampaikan oleh Rafiah, seorang aktivis dan pendidik di Bawean.
Rafiah menyoroti kondisi anak-anak yang ditinggal orang tuanya bekerja di luar negeri atau mengalami perceraian. Menurutnya, banyak anak yang akhirnya tinggal bersama kerabat atau bahkan hanya dengan saudara kandungnya.
“Banyak anak yang ditinggal merantau orang tuanya ke Malaysia atau karena perceraian. Bahkan ada murid yang hanya tinggal bersama kakaknya, sementara mereka masih sekolah di madrasah,” ungkapnya.
Ia juga mempertanyakan akses bantuan pendidikan seperti Program Indonesia Pintar (PIP) yang dinilai masih sulit diakses oleh sebagian siswa di Bawean.
“Kami pernah mengajukan PIP untuk mereka, tapi tidak masuk sehingga tidak mendapatkan bantuan,” katanya.
Selain itu, Rafiah juga menyoroti minimnya tenaga profesional seperti psikolog di Bawean yang dapat membantu melakukan pendampingan terhadap anak-anak yang mengalami masalah sosial maupun kenakalan remaja.
“Di Bawean ini sangat sedikit psikolog yang bisa melakukan pendampingan terhadap anak-anak yang bermasalah,” tambahnya.
Sebagai informasi, kegiatan Sosper DPRD Gresik Tahap I Tahun 2026 ini dilaksanakan dalam dua sesi. Sesi pertama digelar pada 15 Maret 2026, sementara sesi kedua dijadwalkan berlangsung pada Senin, 16 Maret 2026.
Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat semakin memahami berbagai kebijakan dan program pemerintah, sekaligus memperkuat peran bersama dalam mengatasi persoalan sosial di lingkungan masyarakat Bawean.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan


