Libur Lebaran, 1.800 Wisatawan Serbu Mangrove Hijau Daun Bawean
![]() |
| Wisatawan menikmati aktivitas kano di kawasan Wisata Konservasi Mangrove Hijau Daun, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, saat libur Lebaran 1447 H. (Foto: kabarbawean) |
kabarbawean.com - Wisata Konservasi Mangrove Hijau Daun di Dusun Daun Laut, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, dipadati pengunjung selama libur Idulfitri 1447 Hijriah. Tercatat sekitar 1.800 wisatawan berkunjung dalam kurun waktu tiga hingga tujuh hari setelah Lebaran.
Wisata berbasis masyarakat tersebut menjadi salah satu destinasi favorit karena menawarkan konsep konservasi sekaligus edukasi lingkungan. Di kawasan ini terdapat 24 jenis mangrove beserta beragam keanekaragaman hayati yang terus dilestarikan.
Ketua Kelompok Mangrove Hijau Daun, Subhan, mengatakan lonjakan pengunjung terjadi sejak beberapa hari setelah Lebaran, bahkan sudah terlihat sejak bulan Ramadan.
“Buka setiap hari, kecuali hari Jum’at. Mulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 16.30 WIB,” ucapnya, Sabtu (28/3/2026).
Ia menambahkan, tingginya minat kunjungan juga dipengaruhi oleh para santri yang pulang ke Bawean saat Ramadan.
“Sebenarnya tutup bulan Ramadan, tapi banyak pengunjung santri, akhirnya kami buka,” ujarnya.
Di lokasi wisata ini, pengunjung dapat menikmati berbagai fasilitas seperti pondok edukasi, menara pandang, jogging track, hingga perahu kano. Selain itu, wisatawan juga kerap memanfaatkan area tersebut untuk kegiatan santai seperti bakar ikan dan makan bersama.
Untuk tarif masuk, pengelola menetapkan harga Rp5 ribu bagi pengunjung dewasa dan Rp2 ribu untuk anak-anak. Sementara itu, tersedia pula paket kunjungan untuk rombongan lembaga maupun instansi.
“Per lembaga Rp250 ribu, berapapun orangnya. Kalau mau tambah pemateri, tarif Rp100 ribu. Untuk perahu kano Rp10 ribu sampai Rp15 ribu,” jelasnya.
Selain wisata edukasi mangrove, kawasan ini juga menawarkan berbagai aktivitas lain seperti budidaya udang, kepiting, peternakan, hingga pengelolaan bank sampah yang dikelola oleh masyarakat setempat.
“Untuk pengunjung yang mau mendapatkan keilmuan tentang olahan mangrove Rp500 ribu, per lembaga atau per kelompok,” sambungnya.
Subhan menjelaskan, pada momen Lebaran tidak diberlakukan pembatasan jumlah pengunjung. Namun, pada hari biasa kapasitas dibatasi hingga 150 orang dengan sistem bergantian, menyesuaikan daya tampung kawasan.
“Kalau hari raya tidak ada pembatasan pengunjung, tapi kalau hari biasa atau hari libur, ada pembatasan 150 pengunjung,” tuturnya.
Salah satu daya tarik utama wisata ini adalah menara pandang setinggi 17 meter yang memungkinkan pengunjung menikmati panorama kawasan mangrove seluas sekitar 70 hektare.
“Spot yang paling diminati menara tiga lantai setinggi 17 meter untuk melihat kawasan mangrove seluas 70 hektare,” tambahnya.
Sebagai pelengkap, pengunjung juga dapat membeli berbagai produk UMKM lokal seperti pakaian, sajadah, tikar, hingga cendera mata lainnya. Tersedia pula paket kuliner khas dengan harga mulai Rp250 ribu hingga Rp500 ribu, yang menyajikan menu seperti nasi gulung, olahan rumput laut, udang, hingga lobster.
“Wisata konservasi itu, ada atau tidak ada pengunjung tetap ada pengawasan dan perawatan,” pungkasnya.
Sementara itu, salah satu wisatawan, Wilfatin Najihah, mengaku terkesan dengan konsep wisata yang memadukan rekreasi dan edukasi lingkungan.
“Ini wisata satu-satunya di Pulau Bawean yang kaya edukasi dan konservasi. Jadi serasa bersahabat dengan alam,” ucap perempuan berusia 27 tahun tersebut.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan

