Nisfu Sya’ban di Pulau Bawean, Tradisi Religius yang Satukan Doa dan Kebersamaan
![]() |
| Malam Nisfu Sya'ban di masjid Baiturrahman Kumalasa Bawean (Foto:kabarbawean) |
kabarbawean.com - Malam Nisfu Sya’ban selalu menghadirkan suasana berbeda di Pulau Bawean. Ketika pertengahan bulan Sya’ban tiba, denyut kehidupan masyarakat seolah melambat, memberi ruang bagi doa, dzikir, dan perenungan diri. Masjid dan musholla di berbagai desa tampak lebih ramai dari hari biasa, dipenuhi jamaah dari berbagai usia.
Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema, doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk, dan suasana religius terasa menyelimuti kampung-kampung di Bawean. Bagi masyarakat setempat, Nisfu Sya’ban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan tradisi spiritual yang telah mengakar kuat dalam kehidupan sosial dan budaya.
Malam ini dimaknai sebagai waktu terbaik untuk bermuhasabah, memohon ampunan, sekaligus menata kembali niat hidup menjelang datangnya bulan suci Ramadan.
Nisfu Sya’ban dalam Pemahaman Keagamaan Masyarakat Bawean
Secara bahasa, Nisfu Sya’ban berarti pertengahan bulan Sya’ban, yakni malam tanggal 15 dalam kalender Hijriah. Dalam tradisi Islam, malam ini dikenal sebagai salah satu waktu istimewa untuk memohon ampunan kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini kerap dijadikan pengingat oleh para kiai Bawean bahwa Nisfu Sya’ban adalah momentum untuk memperbaiki diri, bukan sekadar menjalankan ritual tanpa makna.
Di Pulau Bawean, pemahaman tentang Nisfu Sya’ban banyak dipengaruhi oleh ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang diwariskan para ulama dan tokoh pesantren. Malam Nisfu Sya’ban dipandang sebagai:
- Waktu introspeksi dan perbaikan niat hidup
- Momentum memperbanyak doa dan istighfar
- Persiapan batin sebelum memasuki Ramadan
- Sarana mempererat hubungan sosial antarwarga
Pemaknaan inilah yang membuat Nisfu Sya’ban Pulau Bawean dijalani dengan penuh kesungguhan dan kesadaran spiritual.
Yasinan Tiga Kali, Tradisi yang Mengakar di Tengah Masyarakat
Salah satu tradisi paling menonjol dalam peringatan Nisfu Sya’ban di Pulau Bawean adalah pembacaan Surah Yasin sebanyak tiga kali secara berjamaah. Tradisi ini hampir dapat ditemui di seluruh masjid dan musala, baik di Kecamatan Sangkapura maupun Kecamatan Tambak.
Pembacaan Yasin dilakukan dengan niat yang berbeda pada setiap pengulangan, yakni:
- Yasin pertama diniatkan agar diberi umur panjang dalam ketaatan
- Yasin kedua diniatkan agar dijauhkan dari bala dan musibah
- Yasin ketiga diniatkan agar dilapangkan rezeki dan diteguhkan iman
Tradisi ini dijalankan secara turun-temurun dan hingga kini tetap lestari, menjadi identitas religius masyarakat Bawean yang sulit dipisahkan dari peringatan Nisfu Sya’ban.
Usai pembacaan Yasin, jamaah melanjutkan dengan doa Nisfu Sya’ban yang dipimpin oleh imam masjid atau tokoh agama setempat. Doa tersebut berisi permohonan ampunan dosa, keselamatan dunia dan akhirat, kesehatan, serta keberkahan hidup.
يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَىٰ خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
“Allah melihat seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang yang berbuat syirik dan orang yang bermusuhan.”
(HR. Ibnu Majah)
Hadis ini kerap disampaikan dalam ceramah singkat para kiai, sebagai pengingat agar umat Islam membersihkan hati dari dendam dan permusuhan.
Di sejumlah masjid besar, rangkaian ibadah juga dilengkapi dengan dzikir bersama, tahlil, istighotsah, dan pembacaan shalawat. Suasana khidmat sangat terasa, terutama saat doa dipanjatkan dengan suara lirih dan penuh penghayatan.
Peran Kiai dan Tokoh Agama Menjaga Substansi Tradisi
Keberlangsungan tradisi Nisfu Sya’ban di Pulau Bawean tidak lepas dari peran sentral para kiai dan tokoh agama. Mereka tidak hanya memimpin ritual, tetapi juga menjaga agar tradisi ini tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam.
- Dalam ceramahnya, para kiai kerap menekankan bahwa:
- Nisfu Sya’ban bukan sekadar tradisi turun-temurun
- Inti ibadahnya adalah perbaikan akhlak dan niat
- Membersihkan hati dari dengki, iri, dan permusuhan
Pendekatan dakwah yang sederhana dan membumi membuat pesan agama mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat luas.
Peringatan Nisfu Sya’ban di Bawean juga menjadi sarana pendidikan nilai religius bagi anak-anak. Mereka diajak ke masjid, duduk bersama orang tua, dan mengikuti rangkaian ibadah sesuai kemampuan mereka.
- Dari tradisi ini, anak-anak belajar tentang:
- Adab dan etika di masjid
- Pentingnya doa dan ibadah
- Nilai kebersamaan dan kepedulian sosial
Pendidikan spiritual yang berlangsung secara alami ini menjadi modal penting dalam membentuk karakter generasi muda Bawean.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Abd. Rauf
