Makna Konstruksi Jukong Bawean, Warisan Maritim yang Pernah Mendunia

Jukong Bawean yang berada di tepi pantai Dusun Sawahlaut Desa Sawahmulya Pulau Bawean (Foto:kabarbawean)

kabarbawean.com - Perahu tradisional khas Pulau Bawean yang dikenal sebagai jukong tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi laut, tetapi juga menyimpan kekayaan pengetahuan lokal dalam konstruksi dan istilah bagian-bagiannya.

Hal tersebut diungkapkan oleh Burhanuddin Asnawi dalam kajiannya mengenai terminologi konstruksi jukong Bawean.

Dalam tradisi masyarakat Bawean, jukong dibuat dalam dua model utama, yakni model “kapak-kapak” yang menyerupai bentuk kapak dan model “wau” yang menyerupai huruf Arab wau. Struktur jukong terdiri atas berbagai bagian dengan istilah khas lokal, di antaranya bheddhen (badan perahu), kapak-kapak atau cangak (bagian kepala), bhehu (bahu), tabuk (lambung), serta buntok (buritan).

Selain itu, terdapat komponen penyeimbang seperti kater (bambu penahan ombak), jheddik (cadik), dan soko marmar sebagai penyangga bagian belakang. Ragam istilah tersebut menunjukkan kecanggihan teknologi maritim tradisional yang berkembang di tengah masyarakat kepulauan.

Catatan sejarah juga menyebutkan bahwa jukong Bawean pernah menarik perhatian dunia. Dalam kisah yang dituturkan Baharuddin Hamim, pada 1979 seorang mahasiswa asal New York bernama Jermi Forguson datang ke Bawean setelah menemukan referensi tentang jukong saat berada di Hawaii. Dalam salah satu buku koleksi perahu tradisional dunia yang dibacanya, jukong Bawean disebut sebagai salah satu yang terbaik.

Selama kurang lebih tiga bulan, Jermi tinggal di rumah pengrajin perahu Pak Sa’em di Kampung Langcabbur, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, untuk mempelajari langsung proses pembuatan jukong serta aktivitas melaut menggunakannya. Sepulang ke Amerika Serikat, ia membawa miniatur jukong sebagai kenang-kenangan dan kerap mengirim surat bergambar jukong bertuliskan “Jukong Bawean, Dunia Juara”.

Ketangguhan nelayan jukong juga tercatat dalam pengalaman Pak Bakar, nelayan asal Bangkalan, Sangkapura, yang pada era 1960-an berlayar seorang diri menuju Singapura menggunakan jukong tanpa mesin. Perjalanan tersebut konon ditempuh sekitar 40 hari. Kisah itu kerap dibandingkan dengan cerita perjuangan nelayan dalam novel klasik The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway.

Keberadaan jukong hingga kini bukan sekadar simbol kearifan lokal masyarakat Bawean, tetapi juga representasi warisan teknologi maritim tradisional yang memiliki nilai historis, budaya, dan identitas kuat bagi masyarakat kepulauan.

Editor: Ahmad Faiz                    Reporter: Saiful Hasan