Dhurung Bawean: Arsitektur Lumbung Pangan dan Cermin Nilai Adat Masyarakat Kepulauan
kabarbawean.com - Dhurung merupakan salah satu warisan arsitektur tradisional masyarakat Pulau Bawean yang tidak hanya berfungsi sebagai lumbung penyimpanan hasil panen, tetapi juga menyimpan nilai budaya, norma sosial, serta kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Dalam catatan syair lama karya Ahmad Bin Haji Tohir yang tersimpan di British Museum (1930), keberadaan dhurung digambarkan sebagai bagian penting kehidupan agraris masyarakat Bawean.
Penulis dan peneliti budaya Bawean, Burhanuddin Asnawi, menjelaskan bahwa dhurung lahir dari kebutuhan masyarakat agraris untuk menjaga ketahanan pangan keluarga.
“Dhurung bukan sekadar bangunan penyimpanan padi, tetapi simbol kecukupan pangan, kedisiplinan hidup, serta ruang sosial tempat nilai-nilai adat diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konstruksi dhurung dirancang dengan sistem penyimpanan vertikal (vertical storage), di mana padi ditempatkan pada lantai atas (lumbung) untuk menghindari kelembaban dan gangguan hama, sementara bagian bawah dimanfaatkan sebagai ruang aktivitas sosial. Struktur lantai ditopang kayu penyangga yang dikenal sebagai ghuleng-ghuleng, sedangkan rangka utama bangunan terdiri dari empat tiang (pang-pang) dengan papan pembatas seperti bikoro dan salemar.
Menurutnya, makna dhurung tidak hanya terletak pada aspek teknis bangunan, tetapi juga pada fungsi sosialnya dalam kehidupan masyarakat Bawean.
“Di dhurung, tamu biasanya diterima sebelum masuk rumah utama. Di tempat inilah etika, tata krama, serta petuah adat diajarkan secara turun-temurun,” jelasnya.
Beragam ungkapan tradisional Bawean bahkan menempatkan dhurung sebagai simbol keharmonisan rumah tangga. Keberadaan padheringan (wadah penyimpanan beras) yang terjaga dengan baik sering dimaknai sebagai tanda keluarga yang mampu mengelola hasil panen secara bijak dan hidup hemat.
Seiring perubahan zaman, keberadaan dhurung memang tidak lagi sebanyak dahulu. Namun, bangunan tradisional ini tetap menjadi simbol identitas budaya masyarakat Bawean mewakili nilai kesederhanaan, keterbukaan terhadap tamu, serta filosofi menjaga ketahanan pangan keluarga.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan
