Legenda Makam Panjang Bawean, Kisah Dora dan Sembada yang Melahirkan Aksara Jawa

Makam Jherat Lanjheng Bawean yang sudah menjadi wisata bahari (Foto:Istimewa)

kabarbawean.com - Dalam cerita tutur masyarakat Bawean, Pulau Bawean diyakini pernah dikenal dengan nama Pulau Majeti. Pada masa itu, pulau ini digambarkan sebagai wilayah yang subur, dipenuhi hutan rimba lebat, serta dikelilingi laut biru yang jernih di tengah Laut Jawa. Dari Pulau Majeti inilah, legenda menyebutkan, seorang ksatria sakti bernama Aji Saka pernah menginjakkan kaki sebelum melanjutkan pengembaraannya ke Tanah Jawa.

Pada masa itu, Pulau Majeti berada di bawah kekuasaan Prabu Dewata Cengkar, seorang raja yang pada awalnya dikenal adil dan menyayangi rakyatnya. Sosoknya digambarkan bertubuh sangat besar, setinggi tiga pohon waru yang bertumpuk, dengan jari-jari tajam menyerupai cengkeraman batu. Ia menjaga negerinya dengan baik hingga suatu hari menemukan pohon misterius dengan buah merah mengilap.

Tanpa mengetahui larangan para leluhur, Prabu Dewata Cengkar memakan buah tersebut. Sejak saat itu, sifatnya berubah drastis. Ia menjadi raja kanibal yang ditakuti rakyatnya. Setiap hari, ia menuntut rakyat menyerahkan satu jiwa sebagai santapan. Jika permintaannya tak dipenuhi, desa-desa dihancurkan dan ladang dibakar. Rakyat Pulau Majeti pun hidup dalam ketakutan berkepanjangan.

Dalam situasi itulah, legenda menyebut kedatangan Aji Saka, seorang pemuda bijaksana yang diyakini berasal dari Majapahit. Ia datang ke Pulau Majeti dengan niat menolong rakyat dari kekejaman Dewata Cengkar. Aji Saka berlayar bersama dua abdinya yang setia, Dora dan Sembada. Sebelum menghadapi sang raja, Aji Saka menitipkan sebuah pusaka kepada Sembada dengan pesan agar pusaka tersebut tidak diserahkan kepada siapa pun selain dirinya sendiri.

Pertarungan antara Aji Saka dan Prabu Dewata Cengkar pun terjadi. Duel itu berlangsung sejak pagi hingga senja. Pada akhirnya, Aji Saka menyentuh dahi sang raja dengan jempol yang telah diberkati. Sentuhan tersebut menyadarkan Dewata Cengkar dari kutukan yang menguasainya, mengakhiri masa kekejaman di Pulau Majeti.

Namun kisah Aji Saka di Bawean tidak berhenti di sana. Legenda berlanjut pada kisah kesetiaan Dora dan Sembada, dua abdi yang bukan sekadar pelayan, melainkan ksatria tangguh dengan amanah yang dipegang teguh hingga akhir hayat.

Bertahun-tahun kemudian, setelah Aji Saka menjadi raja besar di Jawa, ia teringat pusaka yang ditinggalkan di Pulau Majeti. Ia pun memerintahkan Dora untuk mengambilnya dari Sembada. Tanpa mengetahui pesan yang dipegang teguh oleh Sembada, Dora berangkat dengan penuh keyakinan menjalankan titah rajanya.

Pertemuan dua sahabat itu berubah menjadi tragedi. Sembada menolak menyerahkan pusaka karena amanah yang ia pegang, sementara Dora merasa menjalankan perintah langsung dari Aji Saka. Kesalahpahaman tak terhindarkan. Keduanya bertarung dengan kesaktian yang seimbang hingga akhirnya gugur bersama, sama-sama mempertahankan kesetiaan.

Warga setempat menemukan jasad keduanya dalam kondisi yang dianggap ajaib: tubuh mereka seolah menyatu dan memanjang. Mereka kemudian dimakamkan dalam satu liang panjang yang kini dikenal sebagai Makam Panjang, salah satu situs budaya yang masih dikenal masyarakat Bawean hingga saat ini.

Aksara Jawa dalam Legenda Aji Saka

Kisah Dora dan Sembada kemudian diabadikan dalam aksara Jawa (Hanacaraka) yang hingga kini dikenal luas. Aksara tersebut ditulis sebagai berikut:

  • ꦲꦤꦕꦫꦏ
  • ꦢꦠꦱꦮꦭ
  • ꦥꦝꦗꦪꦚ
  • ꦩꦒꦧꦛꦔ

Maknanya adalah:

  • Ha-Na-Ca-Ra-Ka: Ada utusan
  • Da-Ta-Sa-Wa-La: Saling bertengkar
  • Pa-Dha-Ja-Ya-Nya: Sama-sama saktinya
  • Ma-Ga-Ba-Tha-Nga: Sama-sama menjadi mayat

Bagi masyarakat Bawean, legenda Pulau Majeti dan Aji Saka bukan sekadar dongeng masa lalu. Ia adalah warisan budaya yang menyimpan pesan mendalam tentang kepemimpinan, amanah, kesetiaan, serta pentingnya komunikasi agar kebajikan tidak berujung tragedi.

Legenda ini terus hidup dalam ingatan kolektif, menjadi bagian dari identitas sejarah dan budaya Pulau Bawean yang patut dijaga dan dikenang.

Editor: Ahmad Faiz                 Reporter: Umi Oktafiyanah