Kokok Ayam Alas Bawean Menghilang, Warisan Alam yang Kini Tinggal Kenangan

Ayam alas Bawean (Foto: Istimewa)

kabarbawean.com - Pada masa 1980-an, hutan-hutan di Pulau Bawean masih dipenuhi suara alam yang khas. Di Desa Lebak dan sejumlah wilayah lain, masyarakat terbiasa terbangun setiap pagi oleh kokok nyaring dan pendek ayam alas, atau ayam hutan hijau, yang kala itu masih bebas hidup di alam liar.

Ayam alas Bawean, yang dikenal dengan nama latin Gallus varius, merupakan satwa liar asli Indonesia. Ukurannya sedang, geraknya lincah, serta memiliki sifat pemalu. Saat merasa terancam, ayam ini mampu terbang cukup jauh untuk menyelamatkan diri. Keberadaannya mudah dikenali dari suara kokok khas yang berbeda dengan ayam peliharaan.

Secara fisik, ayam jantan tampil mencolok dengan bulu berkilau berwarna hijau, biru, dan kuning. Sementara ayam betina berwarna cokelat kusam, menyatu dengan lingkungan sekitarnya sebagai bentuk perlindungan alami. Keunikan tersebut menjadikan ayam alas bukan hanya bagian dari ekosistem hutan, tetapi juga kekayaan hayati yang bernilai tinggi.

Namun seiring berjalannya waktu, keberadaan ayam alas Bawean kian terancam. Aktivitas perburuan yang terjadi secara masif, ditambah dengan kerusakan habitat hutan, perlahan menggerus populasinya. Tanpa upaya perlindungan yang serius, satwa ini semakin sulit dijumpai.

Dalam beberapa tahun terakhir, suara kokok ayam alas tak lagi terdengar. Tidak ada lagi jejaknya di Desa Lebak maupun desa-desa lain di Pulau Bawean. Satwa yang dulu menjadi bagian dari keseharian masyarakat kini menghilang tanpa kepastian.

Bagi warga, ayam alas Bawean kini tinggal dalam ingatan dan cerita masa lalu. Ia menjadi simbol kekayaan alam yang pernah hidup dan mengisi hutan Bawean, namun kini terancam hilang tanpa sempat dijaga dan dilestarikan.

Hilangnya ayam alas menjadi pengingat penting bahwa kerusakan alam dan pembiaran terhadap perburuan dapat menghapus warisan hayati dalam senyap. Pulau Bawean kehilangan salah satu penanda alamnya sebuah kehilangan yang tak ternilai.

Editor: Ahmad Faiz                 Reporter: Umi Oktafiyanah