Husnul Khatimah, Ukuran Sukses Sejati Seorang Muslim
![]() |
| Gambar Ilustrasi |
kabarbawean.com - Banyak orang menilai kesuksesan hidup dari harta, jabatan, atau kehormatan di tengah masyarakat. Namun dalam perspektif Islam, ukuran keberhasilan yang paling hakiki bukanlah itu semua, melainkan bagaimana seseorang mengakhiri hidupnya. Husnul khatimah wafat dalam keadaan iman dan ketaatan menjadi tolok ukur utama apakah hidup seseorang benar-benar berhasil atau justru merugi.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa nilai suatu amal sangat ditentukan oleh penutupnya sebagaimana sabda beliau:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari)
Karena itu, setiap muslim diperintahkan untuk tidak merasa aman terhadap kondisi imannya dan terus memohon agar diwafatkan dalam keadaan Islam. Al-Qur’an pun mengingatkan agar seorang mukmin tidak meninggal kecuali dalam keadaan berserah diri kepada Allah.
Sejarah Islam mencatat kisah seorang pejuang yang bertempur sangat gigih di medan perang hingga para sahabat memujinya. Mereka berkata:
مَا أَجْزَأَ مِنَّا الْيَوْمَ أَحَدٌ كَمَا أَجْزَأَ فُلَانٌ
“Hari ini tidak ada yang perjuangannya seperti si fulan.”
Namun Rasulullah SAW justru bersabda:
أَمَا إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ
“Sesungguhnya dia termasuk penghuni neraka.”
Belakangan diketahui, orang tersebut mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri karena tidak tahan menahan luka perang. Kisah ini menjadi pelajaran bahwa amal besar sekalipun tidak menjamin keselamatan bila tidak diakhiri dengan keimanan dan kesabaran.
Para ulama menjelaskan bahwa meraih husnul khatimah membutuhkan usaha panjang sepanjang hidup. Imam Ibnu Qayyim menyampaikan kaidah penting:
مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ
“Siapa yang hidup dalam suatu kebiasaan, ia akan wafat dalam kebiasaan itu.”
Karena itu, istiqamah dalam kebaikan menjadi kunci utama. Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata: janganlah kamu takut dan jangan bersedih.” (QS. Fussilat: 30)
Selain istiqamah, seorang muslim juga harus memperbaiki niat dalam setiap amal, memastikan seluruh ibadah dilakukan semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT, sebagaimana doa yang sering dibaca:
إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
Doa juga menjadi senjata penting untuk meraih akhir yang baik, seperti doa Nabi Yusuf AS:
تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
“Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh.” (QS. Yusuf: 101)
Di samping itu, menjaga hati agar selalu mengingat Allah melalui dzikir menjadi kunci penjagaan iman hingga akhir hayat, sebagaimana firman-Nya:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Kesadaran tentang husnul khatimah seharusnya membuat setiap muslim tidak terjebak pada kebanggaan duniawi semata. Kekayaan, kedudukan, dan popularitas tidak memiliki arti jika tidak mengantarkan seseorang pada akhir hidup yang baik. Karena itu, kesuksesan sejati bukanlah tentang seberapa tinggi seseorang berdiri di dunia, tetapi bagaimana ia menutup hidupnya dalam keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Abd. Rauf
