Gemilang Kampong Gelam, Ajang Silaturahmi Diaspora Bawean di Singapura Perkuat Identitas Orang Boyan
![]() |
| Acara perhelatan tahunan Gemilang Kampung Gelam di Singapura (Foto:Istimewa) |
kabarbawean.com - Nuansa Pulau Putri terasa begitu kental di jantung Negeri Singa. Menjelang bulan suci Ramadan, kawasan bersejarah Kampong Gelam kembali semarak melalui perhelatan tahunan “Gemilang Kampong Gelam”. Bagi diaspora Bawean, agenda ini bukan sekadar bazar musiman, melainkan simbol eksistensi, sejarah, dan kerinduan terhadap tanah leluhur.
Dalam wawancara via telepon, Sabtu (14/2/2026), Kapten Sapnawi perantau asal Kecamatan Tambak, Pulau Bawean menegaskan bahwa Kampong Gelam memiliki makna historis yang mendalam bagi warga Bawean di Singapura.
“Kampong Gelam dulunya didominasi pekerja dan pendatang dari Indonesia, khususnya orang-orang dari Kampung Gelam, Kecamatan Tambak, Bawean. Jadi tempat ini bukan hanya pusat kegiatan, tapi jejak sejarah orang Bawean di Singapura,” ujarnya.
Menurut Sapnawi, warga keturunan Bawean di Singapura dikenal dengan sebutan “Boyanes” atau umum disebut “Orang Boyan”. Identitas itu bahkan tercantum dalam dokumen resmi Singapura sebagai penanda asal-usul etnis.
Kampong Gelam menjadi ruang temu yang mempertemukan sejarah migrasi, perjuangan ekonomi, hingga pembentukan identitas kolektif diaspora Bawean. Di sanalah, kata dia, semangat kebersamaan terus dirawat lintas generasi.
Partisipasi diaspora Bawean dalam “Gemilang Kampong Gelam” disebut sangat besar. Ribuan warga tumpah ruah memenuhi kawasan tersebut. Tak hanya komunitas Bawean, masyarakat Melayu dan lintas etnis Singapura juga turut menikmati ragam kuliner dan pertunjukan budaya.
Di Singapura, warga keturunan Bawean berhimpun dalam wadah resmi bernama Persatuan Bawean Singapura (PBS). Organisasi ini menjadi pusat kegiatan sosial, budaya, sekaligus penghubung komunikasi antara diaspora dengan keluarga di Pulau Bawean, Indonesia.
“Masyarakat Melayu Singapura asal Bawean sangat guyub. PBS menjadi wadah silaturahmi dan penguatan identitas, sekaligus menjalin komunikasi dengan warga di Bawean,” jelasnya.
Di tengah kehidupan modern Singapura yang dinamis, menjaga identitas budaya bukan perkara mudah. Sapnawi mengakui, tantangan terbesar adalah memastikan generasi kedua, ketiga, hingga keempat tetap mengenal akar budayanya.
Sebagai upaya konkret, PBS rutin menggelar kegiatan budaya adat Bawean, mengadakan kursus Bahasa Bawean, hingga menampilkan seni khas “kebaweanan”. Salah satu program yang cukup diminati adalah “Bawean Idol” atau lomba karaoke lagu-lagu bernuansa Bawean.
“Kami ingin generasi berikutnya tetap tahu dari mana asal leluhurnya. Budaya itu harus dikenalkan lewat kegiatan yang dekat dengan mereka,” tegasnya.
Tak hanya lewat kegiatan di Singapura, PBS dan keluarga besar diaspora juga mendorong generasi muda untuk berkunjung langsung ke Pulau Bawean. Komunikasi dengan keluarga di kampung halaman terus dijaga, bahkan tidak sedikit warga Singapura keturunan Bawean yang dijodohkan dengan keluarga asli Pulau Bawean.
Langkah tersebut menjadi strategi sosial untuk memastikan garis budaya dan emosional tetap terhubung dengan tanah leluhur.
Bagi Kapten Sapnawi, “Gemilang Kampong Gelam” adalah bukti bahwa sejauh apa pun orang Bawean merantau, kecintaan terhadap budaya asal tak pernah padam.
“Kami boleh berlayar ke mana saja, tapi kompasnya tetap Bawean,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan
