Tawadhu', Akhlak yang Kian Tergerus di Tengah Budaya Merasa Paling Benar
![]() |
| Gambar Ilustrasi |
kabarbawean.com - Di tengah kehidupan sosial yang kian bising oleh klaim kebenaran, keunggulan diri, dan pembenaran atas nama agama, satu akhlak penting justru semakin terpinggirkan, yakni tawadhu. Sikap rendah hati yang dahulu menjadi ciri utama para nabi dan orang-orang saleh, kini sering kalah oleh budaya merasa paling benar, paling paham agama, dan paling dekat dengan Allah SWT. Padahal, dalam ajaran Islam, kesombongan sekecil apa pun bukan tanda kuatnya iman, melainkan awal dari rusaknya akhlak.
Tawadhu atau rendah hati bukan berarti merendahkan diri secara berlebihan, apalagi menghinakan diri. Tawadhu adalah menempatkan diri secara proporsional tidak meninggikan diri di hadapan siapa pun. Sikap inilah yang seharusnya terus dilatih dan dibiasakan, baik dalam hubungan kepada Allah SWT maupun kepada sesama makhluk-Nya.
Sebaliknya, lawan dari tawadhu adalah sombong. Dan kesombongan merupakan sumber utama kerusakan akhlak. Al-Qur’an telah memberikan pelajaran besar melalui kisah Iblis. Ia bukan makhluk yang miskin ibadah, namun karena merasa dirinya lebih baik diciptakan dari api sementara Nabi Adam AS dari tanah ia berani menolak perintah Allah SWT. Kesombongan itulah yang menjadikannya terkutuk hingga hari kiamat.
Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah menegaskan bahwa merasa lebih baik dari makhluk lain merupakan bentuk kesombongan yang nyata. Karena itu, salah satu cara untuk menyelamatkan diri dari penyakit hati ini adalah dengan meyakini bahwa orang lain bisa jadi lebih baik dari diri kita, meskipun secara lahiriah terlihat sebaliknya.
Para ulama akhlak mengajarkan bagaimana memandang sesama dengan kacamata tawadhu. Terhadap anak kecil, misalnya, mereka belum dibebani dosa, sementara hidup manusia dewasa nyaris tak pernah lepas dari kesalahan. Maka, tidak ada alasan untuk merasa lebih baik.
Terhadap orang yang lebih tua, mereka lebih dahulu menjalani kehidupan dan ibadah kepada Allah SWT. Pengalaman serta amal mereka bisa jadi jauh lebih banyak. Demikian pula terhadap orang yang dianggap bodoh. Jika mereka berbuat maksiat, boleh jadi karena ketidaktahuan, sementara kita kerap tetap bermaksiat meski sadar perbuatan itu salah dan dilarang.
Bahkan kepada orang kafir pun, Islam melarang sikap sombong. Bisa jadi suatu saat ia mendapatkan hidayah dan wafat dalam keimanan, sementara kita belum tentu mampu menjaga iman hingga akhir hayat. Kesadaran inilah yang seharusnya membuat hati selalu waspada dan rendah diri.
Sikap tawadhu akan menjauhkan seseorang dari kebiasaan mencari-cari kesalahan orang lain. Sebaliknya, ia akan sibuk memperbaiki diri, mengakui kekurangan, dan meneladani kebaikan sesama. Inilah akhlak yang melahirkan kedamaian sosial, bukan perpecahan.
Allah SWT menggambarkan hamba-hamba pilihan-Nya dalam firman-Nya:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati. Dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata kasar, mereka mengucapkan salam.”
(QS. Al-Furqan: 63)
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan bukan pada kerasnya balasan, melainkan pada kemampuan menahan diri dan menjaga adab. Orang yang tawadhu tidak membalas keburukan dengan keburukan, karena ia sadar sikap tersebut justru dapat merusak pahala.
Rasulullah SAW pun bersabda bahwa tawadhu merupakan akhlak para nabi, sedangkan kesombongan adalah akhlak orang-orang kafir dan penguasa zalim. Bahkan, beliau menegaskan bahwa seseorang tidak akan masuk surga jika di dalam hatinya terdapat kesombongan meski sebesar biji sawi.
Ironisnya, kesombongan hari ini kerap hadir dengan wajah yang tampak baik, merasa hebat karena prestasi, merasa paling benar karena ilmu, atau merasa suci karena rajin beribadah. Padahal, semakin seseorang merasa tinggi, semakin dekat ia pada jurang kehancuran iman.
Karena itu, tawadhu perlu terus dilatih dalam ucapan, sikap, dan cara memandang orang lain. Merendah bukan untuk manusia, melainkan karena Allah SWT. Sebab, siapa yang merendah karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya.
Semoga kita dijauhkan dari kesombongan ala Iblis dan dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba Allah yang rendah hati, berakhlak mulia, serta selamat di dunia dan akhirat.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Abd.Rauf
