Program MBG di Bawean Disorot, Petani Lokal Dinilai Belum Terserap Optimal

Gambar Ilustrasi

kabarbawean.com - Pelaksanaan Program Makanan Bergizi (MBG) bagi peserta didik di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, kembali menjadi sorotan. Meski dinilai berhasil membantu pemenuhan gizi siswa, program tersebut dianggap belum sepenuhnya memberdayakan petani lokal karena sebagian besar bahan pangan masih dipasok dari wilayah Jawa.

Sorotan tersebut disampaikan oleh Dari Nazar, SH, aktivis senior Bawean yang kini menekuni bidang hukum. Ia menilai, di balik keberhasilan MBG dalam aspek gizi, masih terdapat persoalan struktural pada sisi rantai pasok bahan pangan.

“Program MBG memang berjalan dan membantu kebutuhan gizi siswa, tetapi keterlibatan petani lokal Bawean masih sangat minim. Padahal potensi pertanian dan hasil laut Bawean cukup besar,” ujar Dari Nazar.

Menurutnya, Bawean memiliki sumber daya pertanian yang melimpah, mulai dari beras, jagung, sayuran, buah-buahan hingga hasil laut. Ketergantungan pasokan dari luar daerah tidak hanya meningkatkan biaya distribusi, tetapi juga membuat perputaran ekonomi lokal kurang dirasakan oleh masyarakat Bawean.

Dari Nazar mengungkapkan, sejumlah warga dan petani mengeluhkan belum dilibatkannya mereka sebagai pemasok tetap bahan pangan untuk MBG di sekolah-sekolah. Padahal, jika hasil pertanian lokal dapat terserap secara konsisten, hal tersebut akan memberikan kepastian pasar, meningkatkan pendapatan petani, serta mendorong produktivitas dan kualitas hasil panen.

“Program makanan bergizi seharusnya tidak hanya berorientasi pada pemenuhan gizi siswa, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi lokal. Harus ada sinergi nyata antara pelaksana program dan kelompok tani,” tegasnya.

Ia berharap ke depan kebijakan pengadaan bahan pangan MBG di Pulau Bawean lebih memprioritaskan produk lokal, sehingga manfaat program tidak hanya dirasakan oleh siswa sebagai penerima, tetapi juga oleh petani sebagai penopang ketahanan pangan daerah.

Sementara itu, Suhopi, perwakilan Yayasan Baitul Muslimin yang menaungi sejumlah dapur MBG di Bawean, seperti Dapur Kaisar Sawahmulya, Dapur Marem Jaya Batusendi, dan Dapur Namira Pekalongan, mengakui bahwa pihaknya telah berupaya membuka ruang kerja sama dengan petani lokal.

Namun, menurutnya, kendala utama terletak pada pola tanam petani Bawean yang masih bersifat musiman dan belum berkelanjutan, sementara kebutuhan bahan pangan MBG harus tersedia secara rutin dan terus-menerus.

“Jika pasokan dari petani Bawean bisa stabil dan berkesinambungan, tentu kami lebih memprioritaskan mengambil dari Bawean daripada mendatangkan dari Jawa. Dari sisi waktu, biaya, dan pemberdayaan ekonomi, itu jauh lebih baik,” jelas Suhopi.

Ia menambahkan, pihak yayasan telah berupaya duduk bersama dengan kepala desa, Muspika, pengurus koperasi desa, hingga anggota DPRD Gresik untuk membuka peluang kerja sama dengan petani dan pelaku usaha desa. Namun, sebagian besar pasokan dari warga masih belum berkelanjutan.

“Beberapa usaha hanya mampu menyuplai satu atau dua kali, setelah itu tidak berlanjut. Ini yang menjadi tantangan,” katanya.

Di sisi lain, Fery, petani lokal asal Desa Daun, Bawean, mengungkapkan bahwa dirinya sejak adanya dapur MBG telah bekerja sama dan rutin menyuplai sayuran seperti mentimun, kangkung, dan bayam ke Dapur Marem Jaya dan Dapur Namira.

Namun belakangan ia mengaku mengalami kesulitan akibat faktor cuaca yang tidak menentu, sehingga menyulitkan proses tanam dan panen sayuran.

“Sekarang agak kelimpungan karena cuaca tidak memungkinkan untuk menanam sayur seperti sebelumnya,” ujarnya.

Yayasan Baitul Muslimin berharap pemerintah desa dapat mendorong peningkatan produktivitas petani lokal melalui Program MBG, sehingga seluruh kebutuhan dapur dapat dipenuhi oleh warga Bawean secara berkelanjutan dan berdampak langsung pada penguatan ekonomi lokal.

Editor: Ahmad Faiz             Reporter: Saiful Hasan