Musim Tanam Berjalan, Pupuk Langka di Bawean Akibat Cuaca Buruk Petani Cemas Gagal Panen

Pengiriman 500 ton pupuk subsidi ke Pulau Bawean di Pelabuhan Pelra Gresik pada tanggal 31 Oktober 2025 lalu. (Foto:Istimewa)

kabarbawean.com - Kelangkaan pupuk kembali terjadi di Pulau Bawean di tengah musim tanam yang sedang berlangsung. Kondisi ini membuat para petani resah karena kebutuhan pupuk tidak terpenuhi, sementara masa tanam telah berjalan hampir 20 hari dan berpotensi mengancam hasil panen.

Sanosi, petani asal Dusun Duku, Desa Telukdalam, Kecamatan Sangkapura, mengungkapkan bahwa pupuk jenis urea dan phonska saat ini sangat sulit diperoleh di berbagai desa.

“Pupuk langka, sementara musim tanam sudah hampir 20 hari. Bisa-bisa terancam gagal panen. Saya sudah telepon teman-teman di beberapa desa, tidak ada juga,” kata Sanosi, Jumat (23/1/2026).

Ia mengaku hanya mendapatkan satu sak pupuk dari sisa tahun lalu milik temannya di Desa Balik. Selain itu, ia membeli 13 kilogram pupuk di Desa Kepuhlegundi. Padahal, kebutuhan lahannya mencapai sekitar 4 ton, namun yang tersedia hanya setengah ton.

“Banyak petani yang belum punya pupuk sama sekali. Tetangga saya kebutuhannya lima sak, tapi belum dapat apa-apa. Di Desa Kebontelukdalam, sebagian warga hanya dapat satu sak, bahkan yang sudah dapat belum sampai 20 persen,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Zakariyah, petani asal Bululanjang. Ia menyebut pupuk jenis “mis” (pupuk bersubsidi) juga sulit didapatkan.

“Iya, kami kekurangan pupuk. Waktu saya minta ke petugas desa, katanya masih belum ada,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala UPT Pertanian Wilayah Bawean, Lailatul Mukaromah, menjelaskan bahwa pupuk yang tersedia di Bawean merupakan pupuk bersubsidi yang telah ditebus kios sejak Agustus 2025 sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi keterlambatan distribusi saat musim tanam padi.

“Pada September, Oktober, dan November 2025, pupuk sudah dikirim ke Bawean sebanyak 530 ton. Total pupuk yang ditebus kios mencapai 1.083 ton,” jelasnya saat dikonfirmasi via telepon, Sabtu (24/1/2026).

Ia menambahkan, pada Desember 2025 pengiriman mulai mengalami kendala akibat cuaca buruk. Meski demikian, pada Desember hingga awal Januari 2026 masih sempat terkirim sekitar 200 ton, sehingga total pupuk yang sudah sampai ke Bawean mencapai 733 ton.

“Sisanya masih berada di lintasan muara karena keterbatasan kapal dan tidak adanya penyeberangan akibat cuaca,” ujarnya.

Terkait isu kelebihan pupuk di Kecamatan Tambak,  Lailatul Mukaromah menegaskan tidak ada istilah kelebihan distribusi pupuk. Menurutnya, pupuk bersubsidi disalurkan berdasarkan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

“Pupuk ditebus sesuai kebutuhan yang ada di RDKK. Seluruh petani sudah terdata berdasarkan KTP, KK, dan luas lahan. Di situ sudah dihitung kebutuhan per hektare. Yang tidak terdaftar dalam RDKK memang tidak berhak mendapatkan pupuk bersubsidi,” tegas Erma sapaan akrabnya.

Ia juga menjelaskan bahwa distribusi pupuk ke Bawean tidak bisa menggunakan kapal penyeberangan seperti rute Gili Iyang karena kapal tersebut tidak memuat pupuk.

“Pengangkutan pupuk menggunakan perahu khusus yang jumlahnya terbatas dan dilakukan bertahap. Tidak mungkin semua perahu digunakan mengangkut pupuk, karena jika itu terjadi, distribusi sembako ke Bawean justru akan terganggu,” jelasnya.

Editor: Ahmad Faiz             Reporter: Saiful Hasan