KMP Giliyang Belum Berlayar, Ratusan Jamaah Al Khidmah Bawean Tertahan di Surabaya

Sebagian jamaah al-khidmah asal bawean yang terdampar di surabaya menunggu jadwal keberangkatan KMP Gili Iyang dari Paciran ke Bawean
(Foto:Istimewa)

kabarbawean.com - Hingga Senin (26/1/2026), KMP Giliyang belum juga memiliki jadwal keberangkatan dari Pelabuhan Paciran, Lamongan, menuju Bawean. Hal ini disebabkan oleh penundaan penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) akibat kondisi cuaca yang dinilai belum aman berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Belum berlayarnya KMP Giliyang berdampak langsung pada rombongan Jamaah Al Khidmah Bawean yang hendak kembali ke Pulau Bawean usai mengikuti Haul Akbar Jamaah Al Khidmah di Pondok Pesantren Al Fitra, Kedinding, Surabaya.

Pengurus Jamaah Al Khidmah Bawean, Yusuf, mengatakan total jamaah yang berangkat dari Bawean sebanyak 143 orang. Namun hingga kini, 103 jamaah masih tertahan di Surabaya dan menunggu kepastian jadwal kepulangan menggunakan KMP Giliyang.

“Kami menunggu jadwal KMP Giliyang dari Paciran ke Bawean yang belum keluar. Padahal kapal cepat Express Bahari bisa berlayar. Jamaah kami masih menunggu di maktab Ponpes Al Fitra Surabaya,” ujar Yusuf, Senin (26/1/2026).

Menurut Yusuf, pihaknya telah mengajukan surat permohonan kemudahan pelayanan tiket kepada pihak terkait sebelum rombongan berangkat dari Bawean. Namun karena jadwal KMP Giliyang tak kunjung jelas, sebagian jamaah terpaksa memilih pulang lebih awal menggunakan kapal cepat Express Bahari secara dadakan.

“Kami berharap jadwal KMP Giliyang segera keluar, kalau bisa besok, agar jamaah bisa kembali ke Bawean. Sebab sudah hampir sepuluh hari berada di sini menunggu kepastian jadwal kapal Giliyang,” ujarnya.

Ia menambahkan, lamanya waktu tunggu tersebut mulai berdampak pada kondisi jamaah, terutama dari sisi pembiayaan selama berada di Surabaya.

“Kondisi keuangan jamaah mulai menipis karena kebutuhan makan dan keperluan lainnya selama menunggu kepastian keberangkatan,” tambah Yusuf.

Yusuf juga berharap adanya keterlibatan langsung dari pemerintah daerah maupun instansi terkait untuk membantu memfasilitasi kepulangan jamaah dari Paciran ke Bawean.

“Kami sangat berharap pemerintah ikut andil memberikan solusi, termasuk membantu penyediaan kapal atau percepatan pelayanan agar jamaah Al Khidmah dari Paciran bisa segera kembali ke Bawean,” ujar Yusuf.

Menurut Yusuf, persoalan ini tidak hanya menyangkut transportasi semata, tetapi juga berkaitan dengan aspek kenyamanan dan keselamatan jamaah yang mayoritas berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Sementara itu, Manager Usaha PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Surabaya, M. Reza Fahlevi, menegaskan bahwa pihaknya siap melayani penyeberangan ke Bawean apabila penundaan keberangkatan dicabut oleh KSOP.

“Kami sudah melakukan konfirmasi ke KSOP. Jika penundaan dicabut, kami siap memberangkatkan kapal ke Bawean. Dari informasi kapten, kondisi gelombang tidak terlalu parah dan dari Bawean juga sudah ada izin,” jelas Reza.

Namun demikian, Reza menjelaskan bahwa operasional keberangkatan KMP Giliyang juga bergantung pada proses pengisian bahan bakar minyak (BBM) setelah surat penundaan pelayaran dicabut.

“Jika surat pencabutan penundaan sudah keluar, kami akan langsung membuka pelayanan dan melakukan pengisian BBM. Namun hal itu tetap bergantung pada kapan surat penundaan dicabut dan kapan pihak Pertamina mulai melakukan pengisian,” ujarnya.

Menurut Reza, proses pengisian BBM tidak bisa dilakukan secara mendadak karena harus melalui mekanisme pemesanan terlebih dahulu.

“Biasanya kami melakukan pemesanan BBM terlebih dahulu, kemudian keesokan harinya baru dilakukan pengisian ke kapal. Jika pencabutan penundaan dilakukan pada sore hari, kami masih bisa langsung memesan BBM dan pengisian bisa dilakukan keesokan harinya,” terangnya.

Namun apabila pemesanan baru dilakukan keesokan harinya, maka proses pengisian BBM berpotensi tertunda.

“Kalau pemesanan baru dilakukan besok, kemungkinan pengisian BBM baru bisa dilakukan hari Rabu,” tambahnya.

Ia menambahkan, pihak Pertamina menerapkan prosedur yang ketat karena adanya kekhawatiran terhadap potensi penyalahgunaan BBM subsidi, sehingga pemesanan BBM harus dilakukan H-1 sebelum pengisian.

Kasi Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli (KBPP) KSOP Kelas III Tanjung Pakis, Metropolitan Jaya, menjelaskan bahwa hingga saat ini keberangkatan kapal penumpang masih menunggu update periodik terbaru dari BMKG.

“Terkait keberangkatan kapal penumpang, kami masih menunggu update cuaca terbaru dari BMKG. Untuk kapal cepat Express Bahari, pada hari Minggu sempat berangkat selepas Karang Jamuan, kemudian kembali lagi dan pada Senin pagi sekitar pukul 07.00 WIB kembali mencoba berlayar,” ujarnya saat dikonfirmasi via telepon, Senin (26/1/2026).

Menurutnya, karakter KMP Giliyang berbeda jauh dengan Express Bahari, sehingga membutuhkan pertimbangan keselamatan yang lebih ketat.

“Express Bahari memiliki kecepatan tinggi dengan jarak tempuh relatif singkat. Sementara KMP Giliyang membutuhkan waktu pelayaran sekitar 9 hingga 12 jam. Dengan durasi pelayaran yang panjang, faktor keselamatan penumpang menjadi perhatian utama kami,” tegasnya.

Meski demikian, KSOP memastikan lintasan Bawean menjadi prioritas utama.

“Khusus Bawean kami prioritaskan. Jika update terbaru dari BMKG menunjukkan cuaca sudah membaik, rencana kami besok KMP Giliyang akan diberangkatkan,” pungkasnya.

Sebelumnya, KSOP Kelas III Tanjung Pakis telah mengeluarkan pengumuman resmi penundaan penerbitan SPB terhitung sejak 19 Januari 2026 akibat cuaca buruk di perairan Jawa Timur.

Editor: Ahmad Faiz                Reporter: Saiful Hasan