Jangan Sampai Bangkrut di Akhirat, Ini Peringatan Rasulullah soal Hilangnya Pahala Amal
![]() |
| Gambar Ilustrasi |
kabarbawean.com - Berbuat baik saja tidak cukup dalam Islam. Menjaga pahala dari perbuatan baik tersebut sama pentingnya dengan melakukan kebaikan itu sendiri. Sebab, tidak sedikit orang yang rajin beribadah, namun justru bangkrut di hadapan Allah SWT akibat kelalaian menjaga lisan dan perbuatannya terhadap sesama manusia.
Hal ini ditegaskan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Suatu ketika, Nabi SAW bertanya kepada para sahabat tentang hakikat orang yang bangkrut.
Rasulullah SAW bersabda:
أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟
Para sahabat menjawab,
"Orang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta."
Rasulullah SAW kemudian menjelaskan:
إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ. وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا. فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ. فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
"Sesungguhnya orang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga pernah mencaci orang ini, memfitnah orang itu, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul sesama. Maka pahala kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang dizalimi. Jika pahalanya habis sebelum semua kewajibannya terbayar, dosa-dosa mereka ditimpakan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka."
(HR. Muslim)
Mengapa Pahala Bisa Habis?
Hadis ini menjelaskan bahwa pahala ibadah sebesar apa pun bisa gugur jika seseorang tidak mampu menjaga lisan dan tangannya dari perbuatan zalim. Shalat, puasa, dan zakat yang seharusnya menjadi penyelamat, justru habis “ditransfer” kepada orang-orang yang pernah disakiti.
Karena itu, Rasulullah SAW menegaskan standar seorang muslim sejati:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
"Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya."
(HR. Muslim)
Dalam bahasa Arab, kata المُفْلِس berarti orang yang bangkrut atau pailit. Namun, bangkrut yang dimaksud Rasulullah SAW bukanlah bangkrut secara materi, melainkan bangkrut pahala di akhirat.
Kejahatan lisan meliputi:
شَتَمَ: mencaci, menghina, memaki
قَذَفَ: memfitnah, menjelekkan, mencemarkan nama baik, Mengumpat, berdusta, dan menyebar kebencian
Sementara melalui tangan, seseorang dapat:
Memukul dan melakukan kekerasan
Mencuri, menipu, korupsi, riba, dan khianat amanah
Di era digital saat ini, kejahatan tangan bahkan lebih berbahaya. Hanya dengan jempol, seseorang dapat memfitnah, menghujat, menyebarkan hoaks, dan merusak kehormatan orang lain melalui media sosial dan perangkat digital.
Harga Diri Manusia di Sisi Allah
Islam memandang kehormatan manusia sangat tinggi. Menyakiti hati atau fisik seseorang dapat berakibat gugurnya pahala ibadah. Allah SWT Maha Adil, orang-orang yang terzalimi kelak akan menerima hak mereka melalui pahala orang yang mendzolimi. Inilah yang sering disebut sebagai “transfer pahala” di akhirat.
Pepatah Jawa mengatakan, "ojo leren dadi wong apik" jangan pernah berhenti menjadi orang baik. Namun Islam mengajarkan lebih dari itu: jika tidak mampu berbuat baik, jangan sampai menyakiti orang lain.
Allah SWT dengan tegas mengingatkan dalam Surat Muhammad ayat 33:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan janganlah kalian merusak (menghapus) pahala amal-amal kalian."
Menjaga pahala adalah bagian dari ibadah. Ketaatan kepada Allah harus dibarengi dengan akhlak mulia terhadap sesama manusia. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk menjaga lisan dan tangan, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal saleh dan taubat kita, serta menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang bertakwa.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Abd.Rauf
