Jangan Jadikan Alam Sekadar Komoditas, Krisis Lingkungan adalah Alarm Peradaban
![]() |
| Gambar Ilustrasi |
kabarbawean.com - Krisis lingkungan global yang tengah melanda dunia hari ini bukan sekadar persoalan teknis atau kegagalan tata kelola sumber daya alam. Lebih dari itu, krisis ini mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Dalam perspektif Islam dan lingkungan hidup, alam bukan objek yang boleh dieksploitasi tanpa batas, melainkan amanah Tuhan yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab moral dan spiritual.
Sejumlah pengamat menilai akar krisis ini bersumber dari modernitas yang berkembang pesat sejak revolusi pemikiran Barat. Modernisme kerap dipuja sebagai puncak rasionalitas dan kemajuan manusia. Namun, di balik capaian tersebut, tersembunyi konsekuensi serius berupa kerusakan alam yang semakin masif dan sistemik.
Modernisme dan Retaknya Relasi Manusia-Alam
Salah satu fondasi modernisme adalah dikotomi tajam antara manusia dan alam. Sejak pemikiran René Descartes menguat dalam peradaban modern, realitas dipahami melalui pemisahan subjek dan objek. Manusia diposisikan sebagai subjek berpikir, sementara alam direduksi menjadi objek material yang pasif dan dapat dimanipulasi.
Cara pandang ini menempatkan alam sebatas kumpulan benda mati yang tidak memiliki nilai intrinsik, kecuali nilai guna dan nilai ekonominya. Relasi manusia dan alam pun berubah menjadi relasi dominasi. Dalam konteks inilah, eksploitasi sumber daya alam dilegitimasi atas nama kemajuan, pertumbuhan ekonomi, dan kepentingan manusia.
Kritik tajam terhadap paradigma ini datang dari kalangan pemikir perenialis yang menilai bahwa modernisme telah memutus keterhubungan spiritual antara manusia dan alam. Akibatnya, krisis ekologi tak terhindarkan: hutan rusak, air tercemar, udara memburuk, dan keseimbangan ekosistem terganggu secara global.
Berbeda dengan paradigma modern, Islam memandang alam sebagai bagian integral dari tatanan kosmik yang sakral. Dalam pandangan sebagian filsuf Muslim, seluruh makhluk tercipta melalui emanasi Ilahi. Artinya, seluruh keberadaan pada hakikatnya saling terhubung dalam satu kesatuan kosmik.
Pandangan ini dikenal sebagai antropokosmik, yakni pemahaman bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari alam. Manusia bukan penguasa absolut atas bumi, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang lebih luas. Karena itu, alam tidak boleh diperlakukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai mitra kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya.
Dalam kerangka ini, pengetahuan tidak seharusnya digunakan untuk menaklukkan alam, tetapi untuk mengenal, memahami, dan merawatnya. Ilmu pengetahuan, dalam Islam, memiliki dimensi etis dan spiritual yang tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab kemanusiaan.
Resakralisasi Alam dan Etika Lingkungan Islam
Pemikir Muslim kontemporer Sayid Hossein Nasr menegaskan pentingnya resakralisasi alam sebagai jalan keluar dari krisis ekologi modern. Resakralisasi berarti mengembalikan alam pada posisi sakralnya sebagai ayat-ayat Tuhan yang hidup. Alam bukan sekadar sumber daya, tetapi tanda-tanda kebesaran Ilahi yang harus dihormati.
Krisis lingkungan hari ini, menurut Nasr, merupakan akibat dari desakralisasi alam yang berlangsung lama dalam peradaban modern. Ketika alam kehilangan makna spiritualnya, eksploitasi menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Padahal, Islam secara tegas mengharamkan perusakan alam dan menempatkan manusia sebagai khalifah yang bertugas menjaga, bukan merusak.
Dalam perspektif Islam dan ekologi, alam bukan hanya ruang hidup, tetapi juga medan kreativitas Tuhan. Pemikir Muslim Muhammad Iqbal menegaskan bahwa dengan mempelajari alam, manusia dapat membaca jejak-jejak kebesaran dan cara kerja Ilahi. Karena itu, eksplorasi ilmiah terhadap alam seharusnya memperkuat kesadaran spiritual, bukan melahirkan keserakahan.
Hubungan manusia dan alam idealnya bersifat harmonis dan mutual. Manusia memperoleh manfaat dari alam, sementara alam dijaga kelestariannya. Ketika keseimbangan ini rusak, yang muncul bukan hanya bencana ekologis, tetapi juga krisis kemanusiaan.
Krisis Lingkungan adalah Krisis Moral
Pada akhirnya, krisis lingkungan dalam Islam harus dipahami sebagai krisis moral dan spiritual. Kerusakan alam tidak lahir semata dari keterbatasan teknologi, melainkan dari kesalahan cara pandang manusia terhadap kehidupan. Selama alam diposisikan sebagai komoditas semata, krisis ekologis akan terus berulang.
Islam menawarkan jalan keluar melalui etika lingkungan yang menekankan amanah, keseimbangan, dan tanggung jawab antargenerasi. Menjaga alam berarti menjaga kehidupan itu sendiri. Sebab, peradaban yang merusak alam sejatinya sedang menggali kuburnya sendiri.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Abd.Rauf
