Terjepit di Pulau Kecil, Babi Kutil Bawean Antara Ancaman Ladang dan Penjaga Ekosistem

Hasil kamera jebak/ kamera trap BBKSDA Jatim 2025 Babi kuti Bawean
(Foto:BBKSDA Jatim)

kabarbawean.com - Bentang alam Pulau Bawean memperlihatkan jarak yang kian menipis antara kawasan hutan, lahan pertanian, dan permukiman warga. Pada ruang yang saling bersinggungan itu, kemunculan babi kutil menjadi fenomena yang kerap memicu dinamika rumit antara manusia dan satwa liar.

Sebagian warga memandang satwa ini sebagai ancaman karena kerap merusak tanaman. Namun di balik persepsi tersebut, babi kutil justru memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem pulau.

Babi Kutil Bawean (Sus blouchi) merupakan satwa endemik yang hanya hidup secara alami di Pulau Bawean. Dengan jumlah populasi yang terbatas dan habitat yang semakin terdesak, intensitas perjumpaan dengan manusia pun tak terhindarkan.

Secara global, International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah mengategorikan babi kutil Bawean sebagai spesies terancam punah (Endangered). Walaupun belum masuk dalam daftar satwa yang dilindungi secara nasional, kelestariannya tetap bergantung pada perlindungan habitat melalui Suaka Margasatwa Pulau Bawean, kawasan konservasi yang juga menjadi habitat utama Rusa Bawean.

Di dalam kawasan hutan, kontribusi babi kutil berlangsung tanpa banyak sorotan. Kebiasaannya mengais dan membalik tanah saat mencari pakan membantu penguraian serasah, mempercepat daur ulang unsur hara, serta menyebarkan biji-bijian tanaman. Peran ekologis ini mendukung regenerasi hutan secara alami. Ketika fungsi tersebut terganggu, ketahanan ekosistem ikut melemah dan pulau kehilangan salah satu penyangga kehidupannya.

Sebaliknya, di wilayah perbatasan hutan, persoalan muncul ke permukaan. Kerusakan tanaman dan ancaman terhadap ladang memicu keresahan petani. Masuknya satwa ke area pertanian bukan karena niat merusak, melainkan dorongan naluri bertahan hidup di tengah ruang jelajah yang semakin sempit. Konflik pun menjadi konsekuensi dari pertemuan kepentingan manusia dan satwa dalam ruang yang sama.

Balai Besar KSDA Jawa Timur memaknai konservasi sebagai tanggung jawab bersama. Suaka margasatwa tidak ditempatkan sebagai batas yang memisahkan masyarakat dari hutan, melainkan sebagai pusat ekosistem yang harus dijaga secara kolaboratif. Dialog terbuka, pendampingan, serta kebijakan yang adaptif dipandang penting untuk menjaga kesejahteraan warga sekaligus menjamin ruang hidup satwa liar.

Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menegaskan bahwa penanganan konflik harus dilakukan dengan pendekatan yang berlandaskan kemanusiaan dan empati.

“Penanganan Babi Kutil perlu terus kita lakukan dengan cara-cara yang humanis dan penuh empati. Kita memahami bahwa sebagian masyarakat melihatnya sebagai hama. Mengubah cara pandang tentu tidak bisa dilakukan seketika. Karena belum banyak bukti yang secara langsung dirasakan terkait dampak hilangnya satwa ini, maka tugas kita adalah menjelaskan perannya bagi ekosistem secara pelan-pelan dan bijaksana,”  tegas Nur Patria Kurniawan.

Ia menambahkan bahwa pendekatan konservasi tidak boleh mengesampingkan nilai-nilai sosial yang hidup di tengah masyarakat.

“Kita perlu mendekati persoalan ini dengan rasa hormat. Masyarakat memiliki pengalaman, tradisi, dan cara pandang sendiri terkait satwa dan lingkungan. Tugas kita adalah membangun pemahaman bersama, bahwa menjaga satwa liar sekaligus berarti menjaga alam dan keberlanjutan kehidupan di Bawean,” imbuhnya.

Pulau Bawean bukan hanya rumah bagi babi kutil. Rusa Bawean yang ikonik, aneka burung hutan, reptil, serta satwa kecil lainnya membentuk jejaring kehidupan yang saling terhubung. Dalam ekosistem pulau yang relatif rapuh, gangguan pada satu komponen dapat memicu dampak berantai pada keseluruhan sistem.

Ke depan, arah konservasi di Bawean diarahkan pada upaya menata keseimbangan. Pengaturan ruang antara hutan dan permukiman, penerapan pertanian yang lebih adaptif, peningkatan pemahaman masyarakat tentang peran satwa, serta riset berkelanjutan menjadi dasar kebijakan berbasis data. Kolaborasi dengan masyarakat, pemerintah desa, tokoh agama, media, akademisi, dan mitra konservasi diharapkan memperkuat rasa memiliki bersama.

Suaka Margasatwa Pulau Bawean hadir bukan untuk menjauhkan manusia dari hutan, melainkan mengajak seluruh pihak merawatnya sebagai jantung ekosistem pulau yang rapuh namun bernilai tinggi. 

Menyelamatkan babi kutil bukan sekadar melindungi satu spesies, melainkan menjaga aliran air, menahan erosi tanah, mempertahankan keanekaragaman hayati, serta memastikan Pulau Bawean tetap layak dihuni secara berkelanjutan.

Editor: Ahmad Faiz         Reporter: Saiful Hasan

saiful hasan

Jurnalis di Media Kabar Bawean. “Jika tak lahir sebagai cahaya, jadilah cahaya melalui tulisan."

Lebih baru Lebih lama