![]() |
| Gambar Ilustrasi |
kabarbawean.com - Dalam menjalani kehidupan di dunia, manusia dihadapkan pada satu musuh bersama yang kerap luput dari kewaspadaan, yakni setan, baik dari golongan jin maupun manusia. Al-Qur’an secara tegas mengingatkan agar manusia menjadikan setan sebagai musuh nyata, karena perannya yang terus menggiring manusia menuju kesesatan dan kebinasaan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Fathir ayat 6:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.
Ayat ini menegaskan bahwa permusuhan setan terhadap manusia bersifat abadi dan tidak pernah berhenti sepanjang kehidupan.
Setan dari Golongan Jin dan Manusia
Setan tidak hanya berasal dari bangsa jin. Al-Qur’an juga menyebut adanya setan dari golongan manusia yang berperan menyesatkan dengan ucapan dan perbuatannya.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-An’am ayat 112:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi musuh, yaitu setan-setan dari golongan manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan indah sebagai tipu daya.
Ayat ini menunjukkan bahwa siapa pun baik jin maupun manusia yang menghalangi manusia dari kebenaran dan ketaatan kepada Allah, pada hakikatnya telah menjalankan peran setan.
Makna Setan dan Sumpah Iblis
Dalam kitab Mu’jam Maqayis al-Lughah, lafaz setan berasal dari akar kata sya-tha-na, yang bermakna jauh dan membangkang dari kebenaran. Oleh karena itu, setiap makhluk yang menjauhkan manusia dari petunjuk Allah termasuk dalam kategori setan.
Pemimpin para setan adalah Iblis, yang sejak penciptaan Nabi Adam ‘alaihissalam telah membangkang terhadap perintah Allah dan bersumpah akan menyesatkan manusia.
Allah SWT mengabadikan sumpah tersebut dalam Surat Al-A’raf ayat 17:
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.
Empat Arah Godaan Setan
Para ulama menafsirkan ayat tersebut sebagai gambaran empat strategi utama setan dalam menyesatkan manusia.
Pertama, godaan dari depan, yaitu dengan merusak keyakinan terhadap akhirat. Manusia dibuat ragu terhadap surga, neraka, serta balasan amal, sehingga tidak lagi menghargai aturan agama.
Kedua, godaan dari belakang, yakni menjadikan manusia cinta dunia secara berlebihan. Harta dan kenikmatan dikejar tanpa mengindahkan halal dan haram, hingga akhirat terabaikan.
Ketiga, godaan dari kanan, yaitu menghalangi manusia dari kebaikan. Setan menanamkan rasa ragu, waswas, tidak ikhlas, bahkan malu untuk berbuat baik.
Keempat, godaan dari kiri, dengan menghiasi kemaksiatan agar tampak indah. Keburukan dianggap sebagai kemajuan, kebebasan, dan gaya hidup modern.
Wali-Wali Setan di Tengah Kehidupan
Ketika seseorang bangga dalam kemaksiatan, merasa maju dengan melanggar syariat, serta mengajak orang lain kepada keburukan, maka ia telah termasuk Awliyaus Syayathin atau wali-wali setan.
Allah SWT mengingatkan dalam Surat Al-A’raf ayat 27:
يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ
Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu tertipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang tuamu dari surga.
Allah juga menegaskan bahwa Allah tidak pernah memerintahkan perbuatan keji, dan bahwa sebagian manusia mendapat petunjuk, sementara sebagian lain tersesat karena menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al-A’raf ayat 28-30.
Setan adalah musuh nyata manusia sepanjang zaman. Ia bekerja secara sistematis dari berbagai arah kehidupan: iman, harta, akhlak, dan pola pikir. Karena itu, umat Islam dituntut untuk terus meningkatkan iman, ilmu, dan ketakwaan agar tidak terperosok ke dalam tipu daya setan yang halus namun berbahaya.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Abd.Rauf
